Saat keadaan, Yusuf sudah hampir menyerah, keajaiban datang menghampiri. Bapak-bapak yang sedang menjemur padi, membantu mengusir para anjing yang mengejar, Yusuf tanpa ampun.
"Huuuuuuuuuus-huuuuuuuuuus!!!! Sana pergi!!!! Huuuuuuuuuus-huyuuuuuuuuus!!!! Sana pergi yang jauh!!!!" Usirnya, sambil membawa kayu.
Anjing-anjingnya pun lari dengan ekspresi ketakutan, Yusuf perasaannya lega luar biasa.
"Terima kasih, ya, pak sudah menolongku. Kalau tidak ada, bapak entah apa yang terjadi padaku, bisa-bisa diriku menjadi santapan empuk." Kata, Yusuf.
"Iya, nak sama-sama." Jawab, pak Amin.
"Dia sampai lemas banget kaya gitu, loh. Sampaean yang rumahnya dekat, tolong kasih makan dan minum dulu! Kalau, aku yang ngasih kelamaan, tahu sendirilah rumahku agak jauh." Sambung, pak Sugi.
" Iya tenang aja, istriku sedang menyiapkannya." Kata, pak Amin.
Sembari menunggu, Yusuf ditanya-tanya tujuan perjalanannya.
"Kamu sebenarnya asalnya dari Desa mana? Kok bisa tersesat di tempat ini?" Ujar, pak Amin.
"Aku sebenarnya mau ke tempat teman, tetapi malah salah arah. Tiba-tiba sudah ada di Desa ini, pas mau balik arah malah di kejar-kejar anjing." Jelas, Yusuf.
"Ya sudah kalau gitu yang penting, kamu bisa selamat. Sekarang makan dulu! Biar, kamu di perjalanan tidak lemas, bisa sampai rumah, tanpa kurang suatu apapun." Ujar, pak Amin lagi.
"Iya, pak, maaf malah merepotkan." Kata, Yusuf.
Lalu menikmati hidangan yang disediakan, walau makan dengan ikan asin, sambal dan sayur bayam.
"Kalau sudah kenyang, kamu boleh pulang. Takutnya dicari sama orang tuamu, nak." Kata, pak Amin.
"Iya, nak yang penting pulangnya jangan sambil melamun, biar tidak tersesat lagi. Oh iya, pulangnya muter, jangan lewat jalan yang tadi, nanti dikejar lagi." Imbuh, pak Sugi.
"Iya, pak, sekali lagi terima kasih, sudah ditolong. Suatu saat, aku bakal berkunjung ke Desa ini." Kata, Yusuf.
Setelah pamitan, Yusuf menjalankan sepedanya dengan kecepatan tinggi. Yusuf terkejut, melihat papan nama Desa di tepi jalan.
"Desa Banyu Putih, aku berarti tersesat sampai kecamatan sebelah. Pantesan aja, aku merasa asing dengan tempat ini." Pikirnya.
Pak Parno habis dari pasar menjual buah-buahan hasil panen dari kebun sendiri, mengalami kecelakaan, ditabrak orang sedang mabuk. Untungnya saja yang menabrak mau tanggung jawab.
"Itu ada kecelakaan!!!! Ayuk buruan tolongi!!!!" Kata para warga.
Bu Parno yang swdang ada di toko pun dikabari oleh salah satu warga.
"Bu suami, sampean nengalami kecelakaan." Kata, bu Rohmah.
"Apa? Kecelakaan?" Respons-nya.
"Iya, bu keadaannya keritis." Kata, bu Rohmah lagi.
Bu Parno sangat sedih melihat keadaan, suaminya yang sangat parah, para warga berusaha menghiburnya.
Yusuf belum tahu, ayahnya kecelakaan, ditelpon juga tidak ada respons.
Di tempat lain, lina tidak menyentuh hp sama sekali, ditelpon Windi salah satu temannya tidak diangkat.
"Ah biarin aja paling, kak Yusuf yang telpon." Gumamnya.
Yusuf akhirnya sampai di desanya lagi, mengayuh sepeda dengan napas sedikit tersengal setelah kejadian absurd di desa sebelah. Kepalanya masih dipenuhi ingatan tentang puluhan ekor anjing yang mengejarnya tanpa ampun. Namun, begitu melirik jam di tangannya—**sudah hampir jam 11.00 siang**—pikiran itu perlahan teralihkan.
Saat mendekati rumah, langkahnya semakin melambat. Ada sesuatu yang **tidak biasa.
Rumahnya ramai. Banyak orang.
Dadanya mulai terasa sesak, berbagai pwrtanyaan hinggap di pikirannya.
"Apa yang sedang terjadi? Mengapa di rumahku ada banyak orang?"
Yusuf bingung sendiri, dirinya merasa tidak ada acara apa-apa di rumahnya.
"Itu kenapa rumah rame banget?" gumamnya, pelan.
Ia merasa ada firasat tak enak, seolah ada rasa tak nyaman di hatinya.
Begitu ia melangkah masuk, beberapa orang langsung menyambarnya dengan suara penuh emosi.
"Kamu itu dari mana sih?! Main terus kerjaannya! Tidak tahu apa kalau ayahmu kecelakaan?! Anak kok kerjaannya ngeluyur terus, sepedaan terus!"
Dunia serasa berhenti berputar.
"Ayah… kecelakaan?
Kata-kata itu bergema di kepalanya, berputar begitu cepat hingga sulit untuk diproses. Nafasnya tercekat, tangannya gemetar tanpa sadar.
"Bapak… kecelakaan?" suaranya nyaris tidak terdengar, lebih seperti gumaman yang ditelan oleh kekacauan di sekitarnya.
Seseorang menghela napas panjang dengan ekspresi kesal.
"Ya! Dari tadi semua orang heboh cari, kamu, malah entah ke mana!" Tambah salah satu warga.
Yusuf menelan ludah, tubuhnya terasa lemas. **Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Di tempat lain, di teras rumah yang tenang, Andre duduk santai dengan gitar di pangkuannya.
Jari-jarinya menari di atas senar, menciptakan melodi lembut yang menyatu dengan hembusan angin siang. Ia sesekali menggoyangkan kepalanya, menikmati alunan musik yang ia buat.
"Hari ini rasanya damai banget, kayaknya tidak ada hal buruk terjadi," gumamnya, tersenyum puas.
Kakinya diayun pelan, matanya memejam sejenak, menikmati kesejukan tanpa gangguan.
Sementara itu, di rumah Yusuf—**kehebohan sedang berlangsung.
Andre **sama sekali belum menyadari bahwa sahabatnya sedang kena musibah. Dikiranya, Yusuf belum ada kabar itu, sedang punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.
Suasana di rumah Yusuf semakin riuh. Beberapa warga masih menyampaikan omelan tanpa henti.
**"Anak muda zaman sekarang kerjanya cuma keluyuran! Padahal keluarganya lagi butuh, dia, malah main sepeda! Dihubungi juga susah banget, anak macam apa si!" Kamu tuh di mana aja, ha?! Dari tadi orang nyariin!"
Yusuf berdiri di tengah keramaian, merasa seperti **tertuduh dalam sidang rakyat**. Tatapannya kosong, pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku... aku tidak tahu," ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara suara-suara yang membentaknya.
Tiba-tiba, seorang wanita dengan wajah cemas muncul dari dalam rumah. Ibunya dengan kesedihan yang terlihat nyata di wajahnya.
"Minggir dulu! Kasih jalan!" Perintahnya.
Suara ibunya terdengar tegas, membuat para warga sedikit menyingkir.
Yusuf menoleh. Begitu melihat ekspresi ibunya—**mata berkaca-kaca, napas tersengal, wajah penuh kecemasan**—dadanya langsung terasa semakin sesak.
"Ibu…?"
Ibunya menarik napas panjang sebelum berbicara dengan suara bergetar.
"Ayahmu… kritis, dia sekarang ada di rumah sakit."
Dunia terasa berhenti sejenak. Yusuf terdiam. **Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa ringan, tetapi sekaligus berat.
"Apa…?"
Ibunya menelan ludah, berusaha menahan air mata.
"Kamu harus segera ke rumah sakit. Cepat!" Pintanya.
Detik itu juga, tanpa pikir panjang, Yusuf berbalik badan dan **berlari secepat mungkin** menuju sepedanya. Tanpa sadar, tangan dan kakinya sudah gemetar.
Pikiran yang tadi masih berisi Lina dan candaan semalam **langsung terhapus tanpa sisa.
Sekarang yang ada di kepalanya hanya satu hal.
Ayahnya sedang kritis, dia harus segera ke rumah sakit. Untuk mengetahui keadaan, ayahnya yang kritis, terbaring di rumah sakit.
Komentar
Posting Komentar