Gema takbir terdengar di mana-mana, hari raya Idul-Adha telah tiba. Lina dan kawan-kawannya tetap di asrama, tidak pulang ke kampung halaman masing-masing.
"Kayanya kalau malam ini, kita mengadakan takbir keliling, kayanya asyik banget ni. Ya rutenya tidak usah jauh-jauhlah, muter ke depan rumah warga, serta keliling asrama aja." Usul, Amin.
"Wah, kayanya seru juga si." Kata, Rifa mewakili yang lain.
Acara takbir keliling berjalan dengan lancar, tanpa kendala. Setelah itu, Lina dan kawan-kawannya duduk di depan musola, sambil menikmati teh hangat dan keripik singkong. Mereka ngobrol banyak hal, salah satunya rencana shalat Idul-Adha.
"Kalian besok mau shalat Idul-Adha di mana? Tanya, Lina.
"Aku dan Siah simau shalat di lapangan, tetapi kalau, Putri entah di mana. Aku kurang tahu, kamu kan yang rekan sekamarnya barangkali lebih tahu." Jawab, Lina.
Putri sudah ngomong duluan sebelum, Lina memberi jawaban.
"Aku lagi tidak bisa shalat, Lina besok diajak! Kalau, kalian memang shalat di lapangan." Kata, Putri.
"Ok siap." Kata, Rifa.
"Gimana kalau berangkatnya bareng, anak putri dan anak putra? Lagi pula tujuannya sama-sama ke lapangan, biar ramai." Usul, Amin.
Usulannya pun diterima, mereka merencanakan akan berangkat pukul 06.00, agar tidak terlambat.
Keesokan harinya, mereka mandi bergiliran, lalu ada yang shalat subuh di kamar, ada yang shalat subuh di musola.
Lina habis shalat subuh malah rebahan, sambil mendengarkan novel di hp.
"Tiduran dulu ah, lagian berangkatnya masih lumayan lama." Ujarnya.
"Jangan tiduran, Lin! Takutnya tidur sungguhan! Bisa-bisa ketinggalan, terus bakal ketinggalan shalat Idul-Adha, loh." Tutur, Putri.
"Sudah tenang aja, aku tidak bakal ketinggalan." Ujar, Lina, ngeyel.
Ternyata, benar belum ada 30 menit, Lina sudah mendengkur dengan nyaring.
"Kan benar dugaanku, dia tidur beneran." Batin, putri.
Di depan musola sudah pada kumpul, anak-anak yang akan melaksanakan shalat Idul-Adha. Putri membangunkan rekan sekamarnya dengan berbagai cara. Dipanggil dekat telinganya, digoyang-goyangkan badannya, dipanggil sambil treak, semuanya nihil.
"Lina bangun!!!! Jadi ikut shalat di lapangan atau tidak?"
Tetap tidak ada jawaban, Lina masih asyik di alam mimpi. Amin mencoba memanggil lewat jendela, sambil menotok kacanya.
"Tok-tok!!!! Tok-tok!!!! Lina ayuk buruan keluar!!!! Kita sebentar lagi berangkat, biar kebagian tempat."
Lina masih saja tidur, tidak kaget sama sekali. Rifa yang kamarnya sebelahan dengan, kamar, Lina memanggil melalui pintu.
"Lina sudah siap atau belum?"
"Dia sudah siap, tetapi tidur lagi. Dari tadi dibangunin susah banget ni." Balas, Putri.
Siah mencoba membangunkan lewat telpon, Lina tetap tidak bergemimg sedikitpun. Lina pada akhirnya ditinggal, sudah dibangunkan dengan berbagai cara, hasilnya nihil.
"Aku kok tidak diajak shalat Idul-Adha! Bukannya mau pada berangkat bareng." Protes, Lina.
"Kamu dibangunin tidak bisa-bisa salahnya. Ya wajar aja kalau ditinggal. Mereka terlambat sedikit aja, bisa-bisa tidak kebagian tempat." Respons, Putri.
Lina tidak marah, mendengar jawaban rekan sekamarnya. Lina sadar kalau pagi-pagi tidur lagi itu tidak baik. Lina mengikhlaskan kegagalannya ikut shalat Idul-Adha.
Selesai
Selamat hari Idul-Ahha
Komentar
Posting Komentar