KE SAWAH DAN SALAH JALAN

Lina namaku, pada tanggal 22 Juli 2025, aku jalan-jalan pagi seperti biasanya. Rute yang kutuju adalah persawahan sebelah barat desa, suasananya terasa sangat sejuk, bagai di syurga. Suara burung berkicau saling bersahutan, suara angsa dan suara air di sawah. Mengiringi langkahku yang perlahan-lahan di pinggir sawah, berbagai tanaman seolah menyapaku.


Para warga yang berpapasan denganku pun menyapa, rasanya pun sangat ramah.


"Lina mau ke mana? Kok sendirian aja? Yang lain mana?" Kata warga satu.

"Aku lagi pingin jalan sendiri, yang lain pada di rumah. Sampean mau ke mana?" Balasku.

"Oh, ya sudah kalau lagi ingin jalan sendiri, hati-hati, ya! Jalannya jangan sampai ke tengah! Aku mau lihat tanaman, barangkali dimakan burung, atau dimakan ulat." Kata warga satu lagi.


Aku mengangguk mengiyakan sambil tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba ada yang menyapaku lagi, suaranya, aku enggak kenal sebenarnya.


"Jalan-jalan, mbak?" Sapanya.

"Iya, pak." Jawabku.


Aku terus berjalan hingga ke SD, lokasinya ada di tengah sawah. Aku berbalik arah untuk kembali ke desa, awalnya masih baik-baik saja. Di sebelah barat Desa ada Simpang dua, Aku seharusnya ambil lurus, tetapi enggak sengaja belok ke arah kiri. Niatnya ingin melewati desa sebelah utara, aku malah salah arah.


Ada, mbah J yang bertanya padaku, dengan rasa heran di wajahnya.


"Kamu mau ke mana? Kok melangkah ke arah utara terus-menerus dari tadi?"

"Aku mau pulang ini, mbah, ini kan ke arah timur. Kok bisa si, mbah bilangnya Ini ke arah utara?" Ucapku.

"Ini arah utara, nak bukan arah timur!"

"Ini arah timur, mbah."

"Ini arah utara, nak!"

"Enggak, mbah ini arah timur."


Aku dan mbah J enggak ada yang mau ngalah, terus eyel-eyelan. Sampai ada, ibu I yang datang menengahi perdebatan tersebut.


"Lina ini ke arah utara, kamu tadi lewatnya salah. Kamu mending balik arah, ke selatan lalu ada belokan, kamu ke arah kiri. Kamu baru menemukan jalan yang benar, kalau ini salah, kamu ke utara terus, nanti takutnya kalau sampai Desa sebelah." Jelasnya panjang lebar.


Aku pada akhirnya menurut, melewati yang diarahkan oleh, ibu tersebut. Aku pun sampai di rumah dengan keadaan sehat walafiat, tanpa kurang suatu apapun.


Selesai 

Komentar