Yusuf naik sepeda sambil melamun, kali ini arahnya benar, tidak salah jalan.
"Ya Allah kenapa nasipku sedang sial banget? Aku tadi tersesat sampai dikejar anjing, untungnya ada yang nolongi. Ayahku sekarang kecelakaan sampai kritis, mengapa cobaanku berat sekali, ya Allah." Ratapnya.
Yusuf tiba-tiba menabrak pohon, sepedanya roboh, dirinya terjatuh tergeletak di tanah. Untungnya itu sepeda tidak mengalami kerusakan, dirinya pun tidak terluka.
"Aduh!!!! Aku tidak kenapa-napa untungnya." Pikirnya.
Sementara di tempat lain, Lina pas baca novel sambil makan kuaci, menyaksikan salah satu tulisan. Tentang remaja yang tidak punya saudara, lalu hidupnya kesepian terus menerus, Lina pun sadar.
"Aku harusnya bersyukur, bisa punya saudara dan orang tua yang masih lengkap. Tokoh di novel aja sangat sedih, tidak punya siapa-siapa. Aku nanti harus minta maaf sama, Sandi kalau orangnya sudah ada di rumah." Batin, Lina.
Sementara itu, Yusuf di lobi rumah sakit bertemu salah satu suster, dirinya ditanya tujuannya.
"Masnya ingin berobat? Kira-kira sakit apa, ya, mas? Kelihatannya sehat-sehat aja, mas." Katanya.
"Maaf, sus, aku memang tidak sakit, aku tidak ingin berobat. Aku anaknya, pak Parno korban kecelakaan tadi siang. Pak Parno dirawat di ruangan mana, sus? Di lantai berapa, ya, sus?" Tanya, Yusuf.
"Pak Parno di lantai 3, kamar nomor 105, mas." Jawab susternya.
Sesampainya di kamar inap, pak Parno, Yusuf langsung memeluk sambil menangis. Perasaannya amat sedih melihat, ayahnya belum sadarkan diri dengan infus menempel di tubuhnya.
"Ayah maafkan, aku gara-gara diriku, ayah kaya gini. Hik-hik. Hik-hik. Andai saja, aku tidak main dan tersesat, ayah pasti bakal baik-baik aja. Hik-hik. Hik-hik." Gumam, Yusuf.
Yusuf merasa nelangsa, ayah tercintanya harus mengalami kecelakaan, sampai terluka parah. Pak Parno tubuhnya banyak yang diperban, terutama tangan dan kakinya. Yusuf hatinya makin hancur, pak Parno belum membuka mata walaupun, Yusuf ada di dekatnya. Yusuf tidak menyerah tetap mengajak, pak Parno berbicara.
"Kalau, ayah sudah sadar, aku pingin cerita sama, ayah tentang banyak hal. Oh iya, yah, aku hari ini gagal ke rumah, Andre malah dikejar, anjing banyak banget." Celoteh, Yusuf.
Pak Parno belum bereaksi, masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
Waktu cepat sekali berputar, siang sudah berganti sore. Sementara para warga sudah pada bubar, bu Parno di rumah sendirian. Duduk di teras, menunggu kedatangan anak semata wayangnya, yang selalu menguatkan hatinya. Lalu membuka hp, menelpon pegawainya dari pada lewat chat belum tentu dibalas, bu Parno memerintah pegawainya menutup toko.
"Halo, bu maaf ada apa, ya? Ibu apakah perlu bantuan?" Sapa, Yanti ditelpon.
"Sekarang sudah sore, di tutup aja tokonya! Kamu dan Yanto habis itu pulang! Kuncinya dibawa aja dulu! Aku barangkali berangkat ke tokonya agak siang." Tegasnya.
"Iya baik, bu, kita akan menutup tokonya sekarang juga. Kita turut berduka atas musibah yang menimpa, bapak, ya, bu." Jawab, Yanti.
"Iya terima kasih." Balas, bu, Parno.
"Aku pulang dulu, ya, yah! Aku besok ke sini lagi buat menemani, ayah biar tidak sendirian. Kalau malam ini, aku mau menemani, ibu biar tidak kesepian." Bisiknya.
Setelah itu, Yusuf berlalu dari kamar inap, pak Parno dengan ekspresi sedih. 10 menit sebelum maghrib, Yusuf sampai di rumah, lalu mandi agar bau wangi.
"Wah, segarnya, aku sudah wangi, aku sudah ganteng. Lina pasti tambah jatuh cinta padaku ni. Pasti, dia tak akan berpaling dariku, tak akan bertahan lama, bila jauh dariku." Batin, Yusuf.
Sudah jelas-jelas sedang terkena musibah, masih sempat-sempatnya memikirkan, Lina yang selalu terpatri di hatinya. Yusuf selesai shalat maghrib menemui, ibunya untuk berbincang-bincang.
"Ayahmu keadaannya gimana sekarang? Dia apa sudah sadar, nak?" Tanya, bu Parno.
"Ayah belum sadar tadi, siapa tahu ada keajaiban besok, bu. Ayah semoga bisa sadar bu terus bisa pulih dengan cepat." Sahut, Yusuf.
"Makanya, ayahmu didoakan terus, biar cepat sehat. Ayahmu supaya bisa beraktifitas lagi seperti biasanya." Imbuh, bu Parno.
"Iya, bu, aku selalu mendoakan, ayah tanpa diminta." Sahut, Yusuf lagi.
Yusuf sebelum tidur membuka hp, Andre mengirim banyak chat dan menelpon sampai 50 kali. Yusuf sehabis membaca pesannya, langsung mengirim balasan untuk sahabatnya. Di relung hatinya merasa amat menyesal, tidak sampai kediaman, Andre malah tersesat.
"Andre sorry banget, kamu sudah setia menunggu kedatanganku. Aku bukan bermaksud ingkar janji, aku tersesat ke Kecamatan sebelah, anjingnya puluhan mengejarku tanpa ampun. Untungnya ada yang menolongku namanya, pak Amin dan pak Sugi. Kalau tidak ada, mereka diriku belum tentu selamat, sudah menjadi santapan empuk bagi para anjing. Tiba di rumah malah, ayahku kecelakaan, masuk rumah sakit. Aku di sana menemani, ayah sampai sore."
Tulis, Yusuf panjang kali lebar, bagaikan rumus matematika. Andre belum sempat membuka hp, sudah tidur sejak usai shalat isya. Andre sedang ingin istirahat, setelah seminggu manggung di cave.
Sementara itu, di tempat lain, Lina duduk di dekat, Sandi tiba-tinba menyapa saudara lelakinya.
"Bang."
"Nah, akhirnya, kamu mau bicara padaku juga. Aku semalam mimpi apa ni? Kok si jutek tiba-tiba mau menyapaku, ya?" Crocos, Sandi.
"Aku minta maaf, bang, aku tidak seharusnya marahan sama saudaraku sendiri. Aku kemarin sedang terbawa emosi, bang jadi, hawanya ingin marah terus." Kata, Lina, pelan.
"Aku tahu, dik, aku tidak serius menanggapi kemarahanmu nyatanya, aku masih suka meledek dan membuatmu marah. Aku sudah memaafkanmu dari kemarin kok." Jawab, sandi sambil tersenyum.
"Terima kasih, ya, bang, aku sudah dimaafkan." Kata, Lina lagi.
"Kamu kok seharian ini tidak pegang hp? Kamu emangnya tidak kesepian si, seharian tanpa chat-an atau telponan?" Selidik, Sandi.
"Aku masih males buka hp, bang, ya tidak kesepianlah, kan ada novel. Soalnya, aku masih sebal sama, kak Yusuf yang tidak sabaran banget." Jelas, Lina.
"Jangan gitulah, yang ingin menghubungimu bukan hanya, Yusuf saja. Teman-temanmu di luaran sana, pastinya ingin tahu kabarmu juga, loh. Jadi, apa salahnya buka hp, biar teman-temanmu bisa berkomonikasi denganmu." Kata, Sandi.
Lina hanya mengangguk mengiyakan ucapan saudaranya, yang menurut, Lina ada benarnya juga. Lina hatinya lega luar biasa, sudah baikan lagi dengan, abang tersayang.
Pada keesokan harinya, Andre baru membuka pesan dari, Yusuf membuat dirinya terkejut.
"Tak kira ada kesibukan, ternyata ada musibah. Sahabat macam apa, aku ini, sahabatnya sedang berduka, malah tidak tahu sama sekali." Batin, Andre.
Tidak pikir panjang, Andre langsung mengirim balasan untuk sahabatnya tercinta.
"Suf, ayahmu bisa kecelakaan, itu gimana ceritanya? Sekarang gimana kondisinya? Dirawat di rumah atau di rumah sakit? Terus di rumah sakit mana kalau dirawat?" Ujar, Andre.
Yusuf baru membaca pesannya, Andre kirim SMS lagi.
"Ayuk, Suf buruan jawab dong! Aku kan butuh jawabanmu secepatnya!" Ujar, Andre lagi.
"Ini orang tidak sabaran banget si, aku kan masih ngetik."
Gumam, Yusuf sambil balas pesan dari, Andre terasa bagaikan diintrogasi dadakan.
Komentar
Posting Komentar