MENAKLUKKAN HATI WANITA 18

 Di Desa pinggir Sawah, Lina usai membantu orang tuanya bersih-bersih rumah, membuka hp di bawah pohon yang terasa sejuk. Barangkali ada, kawannya yang chat atau telpon, siapa tahu bisa diajak ngobrol, agar hatinya tak kesepian.


"Aduh, ternyata banyak juga telpon dari, Windi dan Ana kemarin, mereka menelponku sampai sepuluh kali. Aku ini sahabat macam apa si, Windi dan Ana menghubungiku, sampai tidak ngerti. Aku mau telpon, mereka siapa tahu tidak lagi pada sibuk." Batin, Lina.


Namun, telponnya tak ada yang merespons, Lina pun berpikir positif.


"Mereka mungkin lagi banyak kesibukan makanya, tidak sempat angkat telpon. Nanti siang tak telpon lagi ajalah, mereka semoga punya waktu luang, lalu bisa berbincang denganku." Batin, Lina lagi.


Setelah itu, Lina asyik membaca buku dengan nyaman, tanpa gangguan dari siapapun. Sebab, abang kesayangannya yang suka usil, sudah berangkat kerja sehabis sarapan bersama.


Sementara di tempat lain, Yusuf masih membalas pesan, Andre dengan perlahan. Supaya tidak ada kalimat yang ketinggalan, atau ada yang salah tulis.


"Ayahku kecelakaan kemarin, setelah menjual buah dan sayur hasil panen. Ditabrak sama pengendara motor yang sedang mabuk, untungnya mau tanggung jawab si. Sekarang dirawat di rumah sakit umum terdekat, keadaannya kritis. Tolong doakan, ya! Ayahku supaya bisa sehat kembali, terus bisa aktifitas lagi." Ucap, Yusuf.

"Jadi, gitu ceritanya, aku benar-benar tidak tahu, kamu sedang terkena musibah. Tolong kirim alamatnya! Aku nanti sore tak nengok keadaannya, kalau sekarang tidak bisa, soalnya lagi banyak kerjaan ni." Balas, andre.

"Iya tak kirim alamatnya, tetapi kalau datang jangan bawa apa-apa! Kamu mau datang aja, aku sudah senang banget rasanya." Ucap, Yusuf lagi.


Yusuf tidak lupa mengirim alamat rumah sakit tempat, ayahnya dirawat pada sahabatnya. Ia lalu siap-siap untuk menemani, ayah tercintanya, Yusuf membawa buku dan novel. Siapa tahu dibutuhkan. Untuk menemani dirinya, agar terhibur, tidak merasa sedih terus-terusan. Yusuf sudah rapi, lalu pamitan pada, ibunya sambil menyalaminya.


"Bu, aku ke rumah sakit dulu, ayah semoga hari ini keadaannya membaik."

"Iya, nak pokoknya, ibu dikabari kalau ada apa-apa." Ujar, bu Parno.

"Iya, bu pasti tak kabari, ibu tenang aja. Ibu hari ini tidak ke toko pagi ini?" Kata, Yusuf.

"Ibu niatnya mau ke toko nanti agak siangan, tetapi bingung di rumah mau ngapain. Jadi, pada akhirnya, ibu berangkat pagi aja. Nanti malam jagain, ayah gantian sama, kamu. Terus biar ada teman ngobrolnya juga, kalau di rumah sendirian, kamu menemani, ayah di rumah sakit. Kalau di toko kan suasananya ramai ada, Yanti dan Yanto, kadang kalau lagi banyak pembeli juga tambah ramai." Ujar, bu Parno lagi.


Yusuf mengangguk mengiyakan, ibunya agar hatinya riang. Tidak bersedih memikirkan, ayahnya yang masih kritis.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Andre pagi itu membersihkan rumput di sekeliling rumahnya, supaya lebih rapi, lalu menata koleksi buku kesayangannya ke dalam lemari. Kegiatan itu sangat menguras tenaga, pukul 10.00 wib baru usai. Andre wajahnya terlihat lelah, keringat bercucuran di tubuhnya, rambutnya terlihat berantakan. Namun, Andre merasa puas dengan kerja kerasnya, dirinya benar-benar amat senang.


"Aduh, senangnya rumahnya sudah bersih dan rapi, tidak ada lagi rumput yang panjang-panjang. Aku tidak sia-sia meluangkan waktu untuk bersihin rumah, dedaunan juga sudah tidak berserakan di tanah. Lebih menyenangkan lagi kalau buah-buahan matang di pohonnya dan siap dipanen. Bisa dimakan sambil istirahat sejenak ditemani secangkir kopi. Sayangnya itu buah adanya yang masih mentah dan masih mengkal, ya akhirnya cuma minum kopi aja." Kata, Andre dalam lamunannya.


Lalu beranjak ke dapur, membuat kopi buat dirinya sendiri. Lalu dinikmati di teras, sambil mendengarkan lagu-lagu yang menenangkan hati.


Sementara itu, Yusuf sudah sampai di kamar inap, pak Parno, ia duduk di kursi samping ranjang, ayahnya diajak ngobrol seperti kemarin. Walaupun masih belum sadarkan diri, Yusuf tidak menyerah, ia merasa seolah, ayahnya mendengarkan ucapannya.


"Yah, aku hari ini bawa minuman dan makanan, biar kalau lapar tidak beli. Sehingga, aku bisa menemani, ayah seharian, paling tak tinggal sebentar, pas waktu shalat aja." Oceh, Yusuf.


Lalu mengambil buku yang dibawanya, dibaca dengan pelan.


"Ayah cepat sadar, ya nanti kalau, ayah sudah sadar. Kita bisa baca buku bareng atau, aku yang membaca, ayah yang mendengarkan. Aku hari ini bawa novel komedi sama buku sejarah, loh, yah soalnya, aku lagi tidak ingin baca cerita yang sedih-sedih." Oceh, Yusuf lagi.


Sambil mengelus lengan, pak Parno habis itu lanjut baca. Tiba-tiba teringat dengan, Lina nan jauh dari dirinya. Yusuf pun membuka hp, tetapi bingung mau menghubungi, Lina atau tidak.


"Menghubungi tidak, menghubungi tidak, menghubungi, tidak, menghubungi tidak."


Hitung, Yusuf sampai 10 kali, seperti wiridan.


"Wah, hasilnya tidak, aku nanti pokoknya kalau, ayah sudah membaik. Lina bakal tak kasih kejutan, biarin aja kalau sekarang, dia perasaannya masih sebel. Salahnya siapa, aku kemarin dicueki paling, ya bakalnya kangen sama, aku yang ganteng ini. Aku yakin, Lina pasti sedang mencariku atau memikirkanku karena sudah beberapa hari tak jumpa." Gumam, Yusuf dalam hati.


Yusuf di pikirannya penuh rencana, ingin membuat, Lina perasaannya terkejut. Mulai dari mau ngasih bunga, sampai mau ngasih makanan.


Sementara itu, Lina sehabis baca novel, makan coklat sambil melamun. Tidak ada yang membuat emosi, di sisi lain, Lina hatinya kesepian.


"Kak Yusuf sudah sadar kayanya, nyatanya tidak chat, aku dengan ucapan aneh-aneh. Dia kayanya lagi mikir, gimana caranya bisa ngobrol sama, aku lagi. Dia kayanya masih bingung gara-gara tak diamkan, salahnya siapa bikin perkara duluan." Pikirnya.


Lina tidak tahu, kalau yang dilamunin sedang terkena musibah.


Andre melihat, Lina dari kejauhan pun membatin.


"Lina pasti lagi mikir, gimana caranya menghibur, Yusuf biar tidak terlalu sedih. Makanya, Lina melamun, semoga aja si, Lina cepat dapat solusinya." Batin, Andre.


Padahal yang asli, Lina masih marahan sama, Yusuf makanya, Lina menyendiri.


Andre mengirim pesan pada, sandi tentang niatnya nanti sore.


"San nanti sore sibuk atau tidak? Kalau tidak sibuk, tak ajak pergi, yuk!" Tulis, Andre.


Sementara, Sandi yang sedang istirahat di tempat kerja, hp-nya berbunyi. Ternyata, Andre yang mengirim pesan, Sandi langsung membalas.


"Aku tidak sibuk si, nanti jam 15.00 sudah pulang. Emangnya mau pergi ke mana?" Tanya, Sandi.

"Ke rumah sakit menengok, ayahnya, Yusuf habis kecelakaan keadaannya kritis." Balas, Andre.


Sandi langsung mengiyakan ajakan, Andre lalu menghubungi, Lina yang ada di rumah.


Sementara, Lina di bawah pohon depan rumah kaget, abangnya telpon.


"Halo, bang ada apa telpon? Kangen, ya?" Sloroh, Lina.

"Ayahnya, Yusuf di rawat di rumah sakit, habis kecelakaan." Ucap, Sandi tanpa basa-basi.

"Ah masa si? Abang kalau ngomong yang benar." Respons, Lina.

"Ya beneranlah, aku tidak bohong. Andre yang kasih tahu, abang barusan." Ucap, Sandi lagi.


Lina berusaha mencerna informasi yang diterimanya.

Komentar