MENAKLUKKAN HATI WANITA 19

Lina mencerna informasi yang baru saja didapatkannya. Rasa kaget tertampar jelas di wajahnya, Lina menemui, Andre yang sedang menikmati secangkir kopi.


"Kak Andre." Sapa, Lina.


Andre terkejut dengan sapaan, Lina dirinya sedang menyeruput kopi sampai tersedak.


"Uhuk-uhuk!!!! Uhuk-uhuk!!!! Kamu itu ngaget-ngagetin aja si, aku sampai tersedak ni. Dasar datang tak diundang pergi tak diantar, aku sebel banget yakin." Balas, Andre sambil cemberut.

"Haha, makanya minum itu jangan sambil melamun." Kata, Lina.

"Sudah langsung aja utarakan apa tujuanmu menemuiku? Tidak usah basa-basi, aku lagi tak ingin bercanda." Balas, Andre, serius.

"Emang benar, ya, kak? Ayahnya kak Yusuf masuk rumah sakit?" Tanya, Lina.

"Loh, kamu baru tahu?" Balas, Andre lagi.


Lina hanya mengangguk, mengiyakan ucapan tetangganya.


"Aku kira, kamu sudah tahu duluan dari, Yusuf langsung. Kirain dari tadi duduk di bawah pohon itu, lagi bingung gimana caranya menghibur, Yusuf yang lagi sedih." Kata, Andre.

"Belum, kak soalnya, aku lagi sebel sama, kak Yusuf dari kemarin." Jelas, Lina.

"Oh gitu, emangnya perkara apa si? Sampai berantem dan tidak saling sapa? Kata, Andre lagi.

"Biasalah, kak Yusuf tidak sabarannya kambuh, aku sampai di kirimi pesan banyak banget. Gara-gara, aku belum sempat respons chat-nya asli bikin, aku emosi tingkat tinggi." Jelas, Lina lagi.

"Ini nanti sore, aku dan Sandi mau ke sana, mau nengok. Kamu apa mau ikut?" Sambung, Andre.

"Tidaklah, kak, aku nitip salam aja buat, kak Yusuf sekeluarga. Takutnya kalau, aku ikut, malah bikin keributan di sana. Terus kalau, aku dan kak Yusuf bikin keramaian, kasihan para pasien yang sedang istirahat." Ungkap, Lina.


Andre pun memahami apa yang diutarakan tetangganya itu.


"Ya sudah kalau gitu, kalian harus baikan lagi, loh! Tidak baik, orang diam-diaman terlalu lama." Sambung, Andre lagi.


Lina hanya mengangguk, mengiyakan ucapan, Andre lalu pamit.


"Aku pulang, ya, kak mau siap-siap shalat, sebentar lagi dhuhur." Kata, Lina.

"Iya, pulangnya jangan lari! Biar tidak jatuh, lagian kan rumahnya dekat." Imbuh, Andre.


Sementara di rumah sakit pada pukul 11.00 dokter datang mengecek keadaan, pak Parno bersama suster.


"Permisi, mas, mau melakukan pemeriksaan." Kata dokter.


Mendengar hal itu, Yusuf berpindah ke sofa, supaya dokter bisa memeriksa dengan leluasa. Sebelum dokter keluar, Yusuf bertanya keadaan ayahnya.


"Ayahku kondisinya bagaimana, dok?"

"Ayah, mas Yusuf sudah melewati masa kritisnya, insya-Allah nanti sore atau nanti malam akan segera sadar. Kalau gitu, permisi dulu, ya, mas nanti kalau ada apa-apa sampaikan saja pada, kami." Kata dokternya.


Yusuf hanya mengangguk mengiyakan, hatinya terasa lega. Yusuf mengecek jam, ternyata 20 menit lagi dhuhur. Yusuf ke musola untuk mengaji sebentar dan melaksanakan shalat dhuhur.


"Ayah tak tinggal ke musola dulu, aku nanti balik lagi." Batin, Yusuf.


"Sementara itu, Andre habis shalat dhuhur malah tidur, tidak lupa memasang alarm, agar bangunnya tidak terlambat.


"Tidur dululah, nanti kalau ke rumah sakit biar tidak ngantuk. Masa si, iya nengok orang sakit sambil ngantuk, kan tidak lucu." Gumam, Andre.


Sedangkan, Lina yang kembali duduk di bangku bawah pohon, sesudah shalat dhuhur, mendapat chat dari kedua sahabatnya.


"Maaf banget, Lin, aku lagi banyak pesanan masakan. Jadi, aku siang ini tidak bisa telponan, nanti pas ada waktu luang, aku akan menghubungimu." Tutur, Ana nan jauh di pinggiran Kota.

"Iya, An tidak apa-apa kok. Aku ngerti kalau dirimu lagi sibuk, kalau dirimu lagi ada waktu senggang terus butuh teman ngobrol, aku selalu ada untukmu." Oceh, Lina.


Lina sesudah membalas pesan , Ana dirinya beralih ke chat, Windi yang ada di Kabupaten sebelah.


"Maaf, Lin, aku lagi sibuk banget, di tempatku lagi panen jagung soalnya. Lain kali kalau, aku pas tidak sibuk, aku bakal menghubungimu." Tutur, Windi.

"Iya, Win tidak apa-apa, aku yang telponnya tidak tepat. Maaf jadi, menggamggu kesibukanmu, kalau ada waktu luang telpon aja. Kalau, aku lagi santai, pasti tak angkat telponnya." Balas, Lina panjang lebar.


Sementara itu, Yusuf sehabis dari musola menelpon, bu Parno mengabarkan kondisi ayahnya.


"Ibu tadi kata dokter, ayah sudah melewati masa kritis. Kemungkinan besar nanti sore atau nanti malam, ayah akan sadar." Tulis, Yusuf.


Sementara di toko, bu Parno mendengar hp-nya bunyi, langsung membukanya. Setelah membaca pesan itu, bu Parno membalasnya dengan cepat.


"Alhamdulillah, ayahmu sudah melewati masa kritisnya, ibu senang dengarnya. Kamu nanti jangan pulang sebelum, ayahmu sadar, ayahmu pas sadar ada, kita di sisinya pasti bahagia." Ujar, bu Parno.


Yusuf pun mengiyakan keinginan, bu Parno dengan sungguh-sungguh.


Waktu cepat berlalu, siang kini telah berganti sore.


Sedangkan di tempat lain, Andre mengucek mata sebentar lalu mengumpulkan nyawa.


"Alhamdulillah, aku bangun tidak terlambat, malah itu alarm belum berbunyi. Lebih baik itu alarm, aku matikan saja." Batin, Andre.


Pukul 16.00, Sandi sudah rapi, lalu menghampiri, Andre yang sudah menunggu di teras rumahnya.


"Sudah siap untuk berangkat kan?" Tanya, Sandi.

"Aku sudah siap dari tadilah. Kamu bawa buah tangan apa?" Sambung, Andre.

"Aku bawa buah-buahan segar, tadi beli di jalan. Kalau, kamu bawa makanan apa?" Selidik, Sandi.

"Aku bawa kue bolu, soalnya buahnya belum pada matang, di pohon masih pada mentah. Tahu gitu, aku tadi nitip, tetapi tak apalah, bawa kue juga sama enaknya." Sambung, Andre lagi.

"Kamu si tidak bilang kalau mau nitip, aku, ya tidak nawarin. Lina tadi tak ajak tidak mau, bilangnya nitip salam aja." Cerita, Sandi.

"Tadi sama, aku juga bilang gitu si, ingin nitip salam aja. Dia barangkali masih menata hati, untuk kembali menjalin komonikasi dengan, Yusuf si menurutku." Ungkap, Andre.


Sandi mengangguk, setuju dengan pendapat sahabatnya.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di lobi rumah sakit. Andre merogoh saku, mengambil hp, lalu SMS, Yusuf mempertanyakan di mana kamar inapnya.


"Suf, aku sudah sampai ni, aku lagi ada di lobi. Ayahmu di rawat di lantai berapa? Terus di kamar nomor berapa si?" Tanya, Andre.


Sementara di kamar rumah sakit, Yusuf hp-nya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


"Pasti, Lina sudah merindukanku, makanya sampai chat duluan." Pikirnya.


Pas dibuka ternyata pesan itu dari sahabatnya. Yusuf langsung membalasnya dengan kalimat singkat.


"Kita ada di lantai 3, kamar nomor 105." Kata, Yusuf.


Andre dan Sandi langsung menuju lokasi yang dimaksud, menggunakan lift supaya cepat sampai.


"Assalamualaikum." Ucap keduanya.

"Waalaikumsalam. Silakan masuk!" Jawab, Yusuf.


Andre dan Sandi langsung masuk, lalu meletakan makanan di atas meja.


"Kalian itu, loh repot-repot bawa makanan segala si. Padahal, kalian mau berkunjung aja, aku sudah senang banget." Crocos, Yusuf.

"Kita tidak repot kok, anggap aja itu rezeki untukmu." Balas, Sandi.


Setelah itu, mereka menuju ke ranjang pasien, menengok keadaan, pak Parno dan mendoakannya, semoga cepat sembuh. Gara-gara, Andre dan Sandi tidak mengajak, Lina gadis kesayangannya, Yusuf pun membuka hp. 

Komentar