Yusuf membuka hp, lalu mengirim pesan pada, Lina melalui WhatsApp.
"Hai, cantik apa kabar? Kamu kok tidak ikut ke sini si? Padahal, Andre dan bang Sandi sedang main ke sini, loh." Kata, Yusuf.
Sementara, Lina di rumahnya mendengar hp-nya bunyi.
"Klunting!!!!"
"Siapa si yang chat, aku sore-sore kaya gini." Grutu, Lina, sambil membuka hp.
Ternyata, Yusuf yang mengirim chat, Lina membalas dengan kalimat singkat.
"Aku tidak ikut, emang kenapa?" Balas, Lina.
Sedangkan di rumah sakit, Yusuf hatinya senang, Lina membalas pesannya. Walaupun hanya satu kalimat, Yusuf membalasnya dengan cepat.
"Aku merindukanmu, kita sudah sekian lama tak bercakap-cakap, kita belum berjumpa lagi juga. Kamu apa tak merindukanku?" Crocos, Yusuf, dalam chat.
Sementara itu, Lina malah pergi ke warung, membeli cireng, tidak membawa hp.
"Beli, yu." Kata, Lina.
"Beli apa, Lin?" Tanya penjualnya.
"Mau beli cireng, ada atau tidak, yu?" Sambung, Lina.
"Ada, Lin, kamu mau beli berapa?" Tanya penjualnya lagi.
"Aku beli 5 biji, yu." Sambung, Lina lagi.
"Tunggu sebentar, Lin, tak gorengkan dulu." Kata penjualnya.
Lina mengangguk mengiyakan, sambil membayangkan cireng isi ayam yang lezat. Saat cirengnya sudah matang dan sudah dibungkus dalam plastik, Lina membayarnya.
"Ini uangnya, ya, yu." Ucap, Lina.
Penjualnya menerima uang dari, Lina sambil berujar.
"Uangnya kok lecek amat, Lin? Tidak ada uang yang lain apa, Lin?"
"Itu uang paling baru, loh, yu, seperti habis disetrika." Sahut, Lina.
"Saking barunya, ini uang lecek banget, kaya belum mandi." Balas penjualnya.
Lina hanya tertawa dan berlalu meninggalkan warung. Lina sampai rumah rumah tidak membuka hp, dirinya tidak tahu kalau, Yusuf sudah mengirim pesan lagi.
Sementara di rumah sakit, Andre dan Sandi ke sofa sesudah menengok, pak Parno yang terasa memprihatinkan. Yusuf menyadari kedua sahabatnya menghampiri, langsung meletakan hp-nya.
"Lagi chat-an sama siapa, Suf? Kayanya kok serius banget gitu si?" Selidik, Sandi.
"Ya biasalah Lina pasti yang dichat." Tambah, Andre.
"Iya benar, Suf? Apa yang dibilang sama, Andre?" Selidik, Sandi lagi.
Yusuf malah mengalihkan pembicaraan, sambil menyerahkan akua botolan pada kedua sahabatnya.
"Silakan diminum dulu! Maaf adanya cuma akua, aku tidak sempat beli teh atau kopi. Terima kasih, ya, kalian sudah menyempatkan diri untuk berkunjung." Ujar, Yusuf.
"Itu sudah sewajarnya kalau, kita berkunjung apalagi, kita itu menganggapmu sudah seperti saudara. Kalau kangen sama, Lina, ya lumrah, besok kalau, ayahmu sudah keluar dari rumah sakit, Lina ditemui, diajak ngomong baik-baik." Pesan, Sandi.
Yusuf manggut-manggut, memahami kalimat yang diutarakan, Sandi padanya. Supaya suasananya tidak hening, Andre pun bertanya.
"Berarti jatuhnya ke aspal, ya, Suf? Nakanya sampai parah kaya gitu, kaki dan tangannya aja banyak yang diperban?"
"Aku kurang paham juga si soalnya, aku tak tahu kejadiannya. Kemungkinan si, iya terkena aspal dengan keras, jadi, keadaannya pun kritis." Papar, Yusuf.
"Kalau butuh apa-apa bilang aja sama, kita, ya, Suf, pokoknya jangan sungkan-sungkan. Kita pasti akan bantu sebisa dan semampunya, kamu jangan khawatir." Kata, Sandi.
Yusuf mengangguk mengiyakan dengan tersenyum. Sedang asyik ngobrol tiba-tiba, bu Parno datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jawab, mereka dengan kompak, bagaikan paduan suara.
"Wah, ada, Andre sudah di sini dari tadi, ya?" Sapa, bu Parno.
"Belum lama, baru setengah jam yang lalu, bu." Jawab, Andre.
"Terus yang satunya siapa? Teman barunya, Yusuf, ya?" Tanya, bu Parnno.
"Iya, bu, aku teman barunya, Yusuf namanya, Sandi." Sahut, Sandi.
Tak lama kemudian, mereka berpamitan.
"Mohon maaf, bu berhubung sudah sore, kita pamit pulang. Supaya sampai rumah tidak terlalu sore." Ucap, Sandi.
"Iya, nak pulangnya hati-hati, terima kasih sudah berkunjung. Doakan, ya agar ayahnya, Yusuf cepat sembuh, biar bisa aktifitas seperti biasanya lagi." Balas, bu Parno.
Sementara di tempat lain, Lina ditanya oleh orang tuanya.
"Abangmu belum pulang si, Lin?" Tanya, pak Ahmad.
"Belum, yah." Jawab, Lina.
"Kelayaban ke mana itu, bocah? Jam segini belum pulang? Tadi bilang mau ke mana atau tidak si, Lin?" Tanya, pak Ahmad lagi.
"Abang lagi menengok keluarganya teman yang lagi sakit, yah." Jawab, Lina lagi.
Pak Ahmad setelah itu berlalu, tidak bertanya-tanya lebih lanjut, dirinya tidak tahu kalau, Lina juga mengenalnya. Tak berselang lama, Sandi datang lalu menaruh motor di garasi. Sandi isengnya sedang kambuh, adiknya tiba-tiba di cubit.
"Aduh!!!! Sakit tahu!!!! Nanti tak bilangin sama, ayah dan ibu, loh." Ancam, Lina.
"Ya sana bilangin aja, aku tidak takut kok. Kamu makan cireng, aku kok tidak dibelikan si." Kata, Sandi.
"Orang uangku pas-pasan, ya tidak tak belikanlah." Kilah, Lina.
"Alah alasan." Sambung, Sandi, pura-pura ngambek.
Lina tak menghiraukannya, karena sudah terbiasa menyaksikan tingkah, Sandi yang seperti itu.
Sementara di rumah sakit, pak Parno matanya membuka dengan perlahan, lalu berkata dengan lirih.
"Ya Allah, aku di mana ini?"
Yusuf yang sedang membaca novel, di kursi dekat ranjang pasien, langsung memberi tahu, ibunya.
" Ayah sudah sadar, bu suaranya masih lemah banget." Bisik, Yusuf.
"Buruan kasih tahu dokternya!" Balas, bu Parno.
Yusuf ke ruangan dokter mengabari bahwa, ayahnya sudah siuman.
Dokter langsung bergegas ke kamar rawat, pak Parno bersama suster.
"Pak Parno sesudah diperiksa, disuruh makan dan minum obat.
"Bapak kondisinya sudah membaik, tinggal luka-lukanya yang belum terlalu kering, yang masih harus diobati. Habis ini nakan, ya, pak! Obatnya juga diminum!" Ujar, dokter.
Yusuf dan bu Parno diingatkan, agar tidak mengajak, pak Parno bicara terlalu lama. Agar tidak terlalu lelah, karena baru sadar juga.
Dokter dan suster pun berlalu dari kamar inap, pak Parno. Namun, sekitar 10 menit kemudian, suster datang membawa nampan.
"Permisi, mengantar makanan untuk, pak Parno." Kata suster.
"Iya terima kasih, tolong taruh di meja." Sahut, bu Parno.
Susternya meletakan nampan, lalu pergi dari kamar tersebut.
Suara azan berkumandang, Yusuf dan bu Parno shalat maghrib bergantian agar, Pak Parno tidak sendirian. Usai shalat, Yusuf berkata pada, ibunya.
"Tak belikan makan, dulu, ya, bu habis itu, aku pulang."
"Ibu sudah makan sebelum berangkat ke sini, ini juga bawa camilan. Buat jaga-jaga kalau, ibu lapar tengah malam. Kamu langsung pulang aja, nak!" Kata, bu parno.
Yusuf pun menurut, ia pamitan pada orang tuanya, lalu berjalan keluar.
"Aku pulang dulu, besok ke sini lagi kok. Assalamualaikum." Ucap, Yusuf.
"Waalaikumsalam." Jawab, bu Parno dan pak Parno dengan pelan.
Sesampainya di rumah, Yusuf langsung menutup semua jendela dan menyalakan lampu. Setelah itu, Yusuf membuka hp, mengirim chat ke, Lina, yang isinya...
Komentar
Posting Komentar