MENAKLUKKAN HATI WANITA 21

Sesampainya di rumah, Yusuf langsung menutup semua jendela dan menyalakan lampu. Setelah itu, ia merebahkan badan di sofa, mengambil ponselnya, lalu mulai mengetik pesan.


"Hai, cantik, kamu lagi ngapain?"


Belum sempat menunggu balasan, ia kirim pesan lagi.


"Gimana kabarmu hari ini?"


Masih hening belum ada jawaban, Yusuf menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu kembali mengetik.


"Tolong temani, aku dong! Ngobrol bentar aja, aku lagi butuh teman cerita."


Tak ada jawaban juga, ia menghela napas panjang, seolah mencari kekuatan. Menatap layar ponsel yang terus sunyi, lalu meletakkannya di samping. Dengan pelan, ia meraih buku catatan kecil, membuka halaman baru, dan mulai menulis. Niatnya tulisan novelnya mau dipindah ke laptop besok pagi, laptopnya kehabisan batrai sedang dicharger.


(Tentang kerinduan yang tumbuh diam-diam)


Tanpa tahu apakah kamu masih membaca pesan-pesan yang kuharap bisa mengetuk hatimu.*  

> *Aku baik-baik saja di luar, tapi kosong di dalam. Katanya rindu bisa sembuh kalau disampaikan…  

Tapi gimana kalau kamu diam terus?


Sementara itu, di rumah sakit, Bu Parno sedang berusaha menyuapi suaminya.


"Ayo, Pak… dicoba rotinya, ya."


Pak Parno menggeleng kecil.


"Tidak enak, aku tidak mau."

"Kalau gitu buburnya aja, biar gampang ditelan." Tawarnya, bu Parno.

"Rasanya hambar, kayak makan kapas." keluhnya.

"Ini pepaya, yah! Manis, segar. Dicicipi, ya?"

"Bau, taksegar, tak manis, tak enak."


Bu Parno menghela napas keras, menahan sabar. Hawanya emosi, pak Parno susah disuruh makan.


" Yah semua dibilang tak enak, ayah ini gimana si. Ayah mau makan apa dong? Kalau, ayah susah susah makan, terus belum sembuh. Belum bisa pulang ke rumah, gimana coba?" Ancam, bu Parno.

"Kalau bukan masakan, Ibu yang di rumah, ya rasanya beda."


Bu Parno tertawa kecil, antara kesal dan terharu. Walau masakan dari rumah sakit, bu Parno terpaksa berbohong, pak Parno supaya mau makan.


"Aduh, ayah… ini juga, Ibu yang bawain dari rumah, loh."


Pak Parno menatap istrinya, tersenyum lemah.


"Oh… ya, pantesan aja rasanya hambar kaya gini. Kayaknya tadi tak pakai cinta, masaknya asal-asalan."


Bu Parno nyengir, serasa tanpa dosa, mengakui masakan orang lain. Demi suaminya mau makan, agar cepat sehat.


"Lho! Ini cinta full paket, topping doa dan sabar! Bahkan cintanya dari lubuk hati yang terdalam, loh, ayah!"


Mereka tertawa kecil bersama, dan perlahan, Pak Parno pun menyuapkan suapan kecil pertama.


Sementara itu, Lina masih asyik menulis puisi di laptop, hp-nya dibiarkan gitu aja di neja. Lina tidak memperhatikan kalau hp-nya ada banyak chat yang masuk, bagaikan bom yang terus berbunyi.


(Merasa sebal)


Aku seharusnya ada untukmu, disaat dirimu bersedih,

Aku sayangnya masih mengabaikanmu, rasa sebal masih hinggap di dadaku,

Aku padahal menginginkan kehadiranmu, aku merasa sepi bila tanpamu,

Akan tetapi rasa sebal masih bertahta di hatiku.


Sedangkan di rumah, dengan satu pesan lagi yang belum dibalas, Yusuf memeluk bantalnya erat-erat.


"Ya udahlah, Lina kalau tidak bales sekarang. Paling besok juga bales, aku sudah hafal dengan kebiasaanmu. Kayak biasa kan, kamu emang jagonya bikin, aku nunggu, kamu seolah menguji kesabaranku." gumamnya lirih.


Layar ponsel tetap diam, tak berkedip menandakan pesan masuk sama sekali. Alan tetapi, Yusuf tersenyum. Entah kenapa, walau sepi, hatinya tetap berharap. Lina menemaninya di saat sendiri, di saat membutuhkan sosok yang membuat harinya semangat.


Malam itu sunyi, bagaikan di kuburan. Suara jangkrik bersahut-sahutan di luar jendela, serta burung hantu yang berkicau sambil mundar-mandir. Yusuf masih terjaga di depan meja belajarnya, menatap halaman novel yang masih setengah jadi, Yusuf sudah merasa kurang fokus. Ia menuliskan satu kalimat terakhir, dengan hati-hati, agar tidak salah tulis.


> *Dan rindu pun berubah menjadi kata-kata yang tak pernah sempat dikirimkan…*


Tangannya mulai lemas, matanya berat. Rasa kantuk pelan-pelan mengalahkan semangat menulisnya. Ia akhirnya tertidur di atas buku catatan, dengan lampu belajar yang masih menyala dan ponsel di sampingnya.


Pagi hari. Sinar matahari menerobos tirai kamar, Lina. Ia beranjak dari kasur, lalu duduk sambil meraih ponselnya di meja. Notifikasi pesan dari, Yusuf masih terpampang rapi—belasan pesan, semua dikirim semalam.


Lina menghela napas, matanya setengah tertutup. Dengan ekspresi datar, ia membuka chat tersebut satu per satu, lalu membalas.


"Lagi tiduran aja, kabar baik, iya."


Itu saja, benar-benar jawaban yang simpel.


Sementara itu di rumah, Yusuf baru selesai membuat kopi dan segera meraih ponselnya. Notifikasi balasan dari, Lina masuk. Ia tersenyum kecil, sempat mengira harinya akan dimulai dengan manis.


Akan tetapi setelah membaca isi balasan… ia hanya bisa menganga.


"Lagi tiduran, kabar baik, iya."


Yusuf memandang layar ponsel dengan ekspresi penuh penderitaan dramatis. "Ya Allah, aku nulis sepanjang lembar, dia bales kayak checklist belanja! Asli juteknya parah banget, tetapi nyatanya, tetap cinta si." Batinnya dalam hati.


Ia jatuh terduduk ke kasur, lalu meringkuk sambil merintih. Seolah curhat pada dirinya sendiri, untungnya tak sampai menangis.


"Aku bercerita pakai hati, dia bales kayak robot printer."


Tangannya mengetik pesan baru, untuk meluapkan rasa sebelnya.


"Kamu tuh ya… balesnya kayak template SMS banking, tak pernah berubah. Sedih banget, aku padahal sudah ngomong panjang kali lebar, seperti rumus matematika."


Namun, setelah mengetik, ia belum menekan kirim. Ia menatap langit-langit kamar, lalu tertawa pelan.


"Dasar, kamu, Lina… juteknya tak pernah diskon."


Akan tetapi yang aneh—di balik kekesalannya, Yusuf malah semakin jatuh hati. Meski dibalas seadanya, ia tahu, Lina tetap membuka pesannya. Dan, kadang, itu saja sudah cukup untuk membuat harinya terasa lebih hidup.


Sementara di Desa sebelah, Sandi ngomel-ngomel gara-gara sang mentari sudah menyapa bumi dengan senyum manisnya. Lina baru keluar dari kamar dengan santai.


"Kamu itu gimana si! Anak gadis jam segini baru bangun! Anak gadis itu bangunnya pagi-pagi!"

Aku lagi tidak shalat bang makanya baru keluar kamar. Aku sebenarnya sudah bangun dari tadi jam 04.00, loh." Jelas, Lina.


Sandi pun merasa tidak enak, adiknya sudah diomeli habis-habisan.


"Maaf, ya, dik, abang tidak tahu. Kalau, kamu lagi tidak sholat." Sesal, Sandi.


Lina mengangguk mengiyakan, dengan ekspresi datar, tanpa senyum. 

Komentar