Seminggu telah berlalu, pak Parno sudah keluar dari rumah sakit, senyum bahagia terlukis di wajahnya. Di sore yang cerah, pak Parno asyik menikmati buah pisang dan teh hangat sambil membaca buku tentang sejarah.
"Aku senang sudah 5 hari ini berada di rumah lagi, sudah bisa menikmati masakan, ibu lagi. Tidak ditipu kaya pas di rumah sakit, aku sebel banget kalau teringat." Oceh, pak Parno.
Bu Parno yang mendengarkan hanya tersenyum dalam hati, dirinya terbayang kejadian saat di rumah sakit, saat suaminya susah makan. Namun, bu Parno tidak menanggapi ocehan suaminya, ia sok menyibukan diri, membuka berbagai bingkisan dari para warga.
"Lihat, ayah para warga ngasih, kita banyak makanan. Ada yang bawa jeruk, ada yang bawa apel, ada yang bawa melon, ada yang bawa kue bronies. Makanan sebanyak ini pasti habisnya lama, ya, ayah?" Ujar bu Parno.
"Ya tidak apa-apa, bu walaupun, aku sebenarnya, mereka mau menjenguk tidak membawa buah tangan, aku rasanya sudah merasa bahagia. Akan tetapi, mereka memberi rezeki untuk, kita, bu, dosa kalau ditolak." Balas, pak Parno.
Bu Parno pun mengangguk mengiyakan, lalu menyimpan semua makanan di kulkas.
Yusuf di kamar yang sedang menyalin novel tentang rindu, yang ditulis seminggu yang lalu ke laptop, sambil bergumam dalam hati.
"Asyik di kulkas banyak makanan, aku bakal semangat empat lima ni nanti malam. Aku melanjutkan nulis novel sambil menikmati kopi dan kue, rasanya sungguh nikmat."
Sedangkan di Desa lain, Lina dan Sandi lagi ngobrol santai di ruang keluarga. Usai makan bakso dan es kelapa muda, mereka tidak lupa menyalakan musik, untuk meramaikan suasana.
"Kamu akhir-akhir ini suka bikin puisi? Kamu mau bikin buku antologi puisi, ya, dik?" Selidik, Sandi.
"Iya, bang, aku emang pingin nerbitin buku antologi puisi, syukur-syukur si bukunya bisa laris. Ini salah satu impianku sejak lama, doakan, ya, bang semoga bisa terwujud." Ujar, Lina.
"Yusuf kan biasanya nulis novel, kamu bisa minta masukan dengannya. Atau minta koreksi sama, Yusuf biar tulisanmu menarik dan bisa menyentuh hati pembaca." Saran, Sandi.
"Iya, bang, aku juga niatnya gitu, aku mau minta dikoreksikan. Kalau, kak Yusuf pas tidak sibuk, kalau tidak, aku besok akan bilang. Biar puisiku dikoreksi, aku biar tahu di mana kurang dan salahnya." Ujar, Lina lagi.
"Ngomong-ngomong, Yusuf kok tidak main ke sini lagi, dik? Kalian apa masih belum baikan?" Tanya, sandi.
"Kak Yusuf masih sibuk bantuin orang tuanya jaga toko, makanya belum main ke sini. Kita sudah baikan kok, malah kemarin sudah ketemuan, di bangku yang di bawah pohon, depan rumah." Jelas, Lina.
"Wah, Yusuf bakal menjadi calon pedagang, dia sudah beralih profesi? Dia sekarang sudah tidak nulis novel lagi?" Tanya Sandi lagi.
"Dia nulis novel si masih, kalau di toko itu kegiatan tambahan. Kalau, dia lagi tidak ada kesibukan di rumahnya, kadang juga bantu mengurus kebun, yang ditanami sayuran dan buah-buahan." Jelas, Lina lagi.
"Wah, masa depanmu suatu saat bakal terjamin kalau, kamu menjadi istrinya. Dia kalau nulis novel, langsung laris di pasaran. Dia ikut mengelola toko, ikut mengurus kebun pula. Kamu pasti bakalnya hidup maknur, tidak akan kekurangan. Dia berapa bersaudara si?" Kelakar, Sandi.
"Dia anak satu-satunya, bang. Dia tidak punya kakak, juga tidak punya adik, bang." Jawab, Lina.
"Wah, dia anak satu-satunya, berarti suatu saat bakal melanjutkan usaha orang tuanya. Kamu pasti tidak kelaparan, tidak kekurangan." Kelakar Sandi lagi.
"Abang ini bisa aja, orang nikah sama, dia aja belum. Sudah membayangkan kehidupan di masa depan, jangan-jangan dirinya yang sudah kepingin." Jawab, Lina lagi.
"Ya mbok diaminkan, siapa tahu di masa depan beneran makmur dan terjamin." Imbuh, Sandi.
Lina ingin membalas ucapannya, Sandi malah ada telpon dari pacarnya. Lina cemberut, lalu ke halaman belakang, mengangkut jemuran yang sudah kering.
Waktu cepat sekali berlalu, sore berganti malam, gerimis rintik-rintik membuat suasana semakin sejuk. Suara jangkrik saling bersahutan satu sama lain, meramaikan desa yang terasa sepi. Kodok dan burung hantu juga tidak mau kalah, mereka ikut meramaikan Desa dengan semangat.
Sedangkan di tempat berbeda, Andre sedang asyik menulis lagu, ia kali ini membuat lagu-lagu romantis.
"Kamu sedang jatuh cinta, ya, nak? Kok bikin lagu-lagu yang romantis itu?" Tanya, bu Agung.
"Tidak kok, bu, aku sampai saat ini masih belum mendapat tambatan hati. Doakan, ya, bu, aku supaya dapat tambatan hati, yang mau menerimaku apa adanya." Balas, Andre.
"Ibu selalu mendoakanmu tanpa diminta, ya mendoakan supaya sehat terus. Mendoakan supaya dimudahkan segala urusanmu, termasuk mendoakan supaya mendapat jodoh yang terbaik, nak." Tambah, bu Agung.
Setelah itu, bu Agung berlalu dari kamar anaknya, berbincang santai di teras dengan suami tercinta. Andre melanjutkan menulis lagu dengan fokus, agar lagunya terasa maksimal keromantisannya.
Sementara itu, Yusuf di rumahnya sudah menyeduh kopi, diletakan di atas meja, disebelah gelas kopi ada kue bronies. Yusuf menyalakan laptop sambil chat-an dengan pujaan hatinya.
"Cantik besok, kita jalan-jalan yuk!" Ajak, Yusuf.
Sementara di tempat lain, Lina baru selesai melipat pakaian, mendengar hp-nya bunyi. Lina langsung membukanya, ternyata itu pesan dari, Yusuf.
"Ayuk, jalan-jalannya naik sepeda kan, kak?" Balas, Lina.
"Ya jalan kakilah, namanya juga jalan-jalan. Kalau naik sepeda, itu namanya sepedaan bukan jalan-jalan." Protes, Yusuf.
"Oh gitu, emangnya mau jalan-jalan ke mana si?" Ucap, Lina.
"Sudah pokoknya siap-siap aja besok, tidak usah banyak tanya. Yang pasti, aku tidak bakal menyesatkan, ke tempat yang suasananya teduh dan indah." Kata, Yusuf.
"Ayolah, kak, aku dikasih tahu!" Pinta, Lina.
Yusuf sudah menutup aplikasi whatsapp-nya, sengaja tak merespons, Yusuf ingin kasih kejutan untuk kekasihnya. Lalu hp-nya di letakan begitu saja, Yusuf asyik menulis novel, dan menikmati hidangan yang sudah tersedia di meja. Tanpa terasa sudah larut malam, waktu menunjukan pukul 23.00, Yusuf sudah merampungkan novelnya.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga ini novel, aku besok tinggal ngedit, siapa tahu masih ada yang kurang. Besok kalau novel ini laris di pasaran, Lina mau tak kasih bukunya satu. Gumam, Yusuf dalam hati.
Sementara itu, di tempat lain, Lina amat penasaran, rasanya sudah tidak sabar menanti hari esok.
"Kak Yusuf nyebelinnya lagi kambuh, ngajak jalan-jalan aja tempatnya dirahasiakan segala. Aku kan ingin tahu, barangkali tempatnya bagus untuk foto-foto." Batin, Lina.
Rasa penasarannya terbawa ke alam mimpi, karena jawabannya akan didapat, saat jalan-jalan esok pagi.
Komentar
Posting Komentar