Pagi yang indah, suara burung berkicau saling bersahut-sahutan, ayam saling berkokok, bunga-bunga pun tersenyum. Para warga sudah sibuk dengan aktifitasnya, ada yang bertani di sawah, ada yang berdagang, ada juga bekerja di kantor atau pabrik, dan yang lainnya.
Lina sudah terlihat rapi, dengan setelan kaos dan celana kulot berwarna biru, serta jilbab warna senada yang dipakainya. Semakin mempercantik penampilannya, terlihat bagaikan bidadari. Sandi pun penasaran, adiknya sudah terlihat cantik.
"Kamu mau ke mana si? Pagi-pagi sudah rapi kaya gini penanpilannya?" Ujar, Sandi.
"Biasalah, bang, aku mau jalan-jalan, menikmati udara segar." Jawab, Lina.
"Jalan-jalan sama siapa, dik? Aku boleh ikut apa tidak?" Ujar, Sandi lagi.
"Ada deh, jalan-jalan sama seseorang pokoknya, bang, kepo banget si. Abang tidak boleh ikut, di rumah aja kalau lagi libur kerja. Atau telponan sama, kak Santi biar tidak kesepian." Jawab, Lina lagi.
Sandi pura-pura cemberut, mendengar ucapan, Lina di pagi itu.
"Masa si, aku di rumah sendirian, ibu dan ayah tidak di rumah, kamu pergi. Iya kalau, Santi tidak sibuk, aku ada teman ngobrol." Grutu, Sandi.
"Kak Santi selalu ada kok, abang jangan khawatir.
Setelah itu, Lina ke teras, menunggu, Yusuf menjemputnya. Sandi yang penasaran, adiknya mau pergi dengan siapa. Duduk di sofa ruang tamu, sambil mengawasi dari jendela.
Yusuf datang tanpa sepeda, senyumnya mengembang, melihat pujaan hatinya. Yang sedang duduk di teras, eskpresinya sudah tak sabar. Yusuf pun mendekat, lalu menyapa, Lina.
"Hai, cantik sudah siap untuk menghirup udara pagi?"
"Aku sudah siap dari tadi, kamu aja yang baru nongol. Aku kira dibatalkan jalan-jalannya, makanya dirimu belum nongol." Crocos, Lina.
"Ya jadilah, aku tidak mungkin membatalkannya, apalagi diriku jarang ada waktu, untuk jalan bersamamu. Ngomong-ngomong, bang Sandi lagi ke mana si? Kok tidak kelihatan batang hidungnya? Terus kok tidak terdengar suaranya sama sekali?" Ucap, .
Sementara, Sandi yang mendengar, Yusuf mencari dirinya. Langsung membuka pintu, lalu keluar menemui, Yusuf sambil tersenyum.
" Ada apa si? Pagi-pagi sudah nencariku, kaya mau nagih hutang aja si." Kata, Sandi.
"Ini, loh, bang, aku mau izin buat ngajak, Lina jalan-jalan. Boleh kan, bang?" Pinta, Yusuf.
"Ya bolehlah, adikku yang penting jangan diapa-apakan. Kalian emangnya mau jalan-jalan ke mana emangnya?" Kata, Sandi lagi.
"Ok siap, bang, mutar-mutar di sekitar Desa aja si. Lewat Desa ini, desaku, terus Desa pinggir kebun." Jawabnya.
Yusuf pun menyalami, Sandi, lalu pergi bersama sang pujaan hati. Melewati perumahan warga yang banyak tanaman bunganya.
"Ternyata, bunga bisa terlihat cantik, ya? Walaupun di teras warga, bukan di taman bunga." Gumam, Yusuf.
"Yang namanya bunga itu bisa ditanam di mana saja, bukan hanya di taman bunga. Asalkan dirawat dengan baik, disirami dan tidak dirusak. Kaya, kak Yusuf tidak pernah menanam bunga saja sih, melihat bunga di teras rumah warga sampai terheran-heran." Respons, Lina.
Yusuf mengangguk-ngangguk dengan penjelasan, Lina, dirinya lalu berucap.
"Aku di kebun menanam sayuran dan buah-buahan, bukan menanam bunga yang cantik-cantik. Jadi, wajar saja kalau tidak tahu. Pahamnya bunga hanya indah saat berada di taman wisata."
Lina pun memakluminya, dirinya berniat suatu saat akan menunjukkan, bunga-bunga cantik yang ada di belakang rumahnya. Supaya, Yusuf tidak terheran-heran lagi bila bunga bisa dirawat di rumah, bagaikan merawat anak kesayangan.
Sementara itu, Sandi di rumah sedang bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Iya mencoba menghubungi kekasihnya, sayangnya Tak ada jawaban.
"Aku dari pada tidak ngapa-ngapain, mendingan mau baca komik Doraemon. Santi juga sepertinya sedang sibuk, nyatanya tidak merespon teleponku sama sekali. Andre juga tidak kelihatan, dia entah sedang ke mana, rumahnya juga tutupan dan sepi." Batin, Sandi.
Sedangkan, Lina dan Yusuf sudah sampai di persawahan warga, mereka sangat terpesona dengan tanaman yang menghijau.
"Sangat indah, ya tanamannya?" Tanya, Lina.
"Iya dong, soalnya yang menanam para petani yang sudah ahli, jadi, tanamannya terlihat subur, segar dan indah. Padinya juga sudah menguning, sepertinya sudah siap untuk dipanen." Jawab, Yusuf.
Mereka melanjutkan perjalanan sambil berbincang, menelusuri sawah satu persatu dengan perlahan.
"Itu suara sungainya sudah terdengar, kira-kira masih jernih kayak dulu atau tidak, ya?" Tanya, Lina.
"Kayanya sekarang sudah keruh, karena sudah tercemar berbagai kotoran. Kalau zaman dulu masih jernih, malah digunakan oleh para warga, untuk mandi dan mencuci. Kamu kalau itu kemungkinan belum lahir, makanya tidak merasakannya." Jawab, Yusuf.
"Kata siapa, aku belum lahir? Orang dulu, aku suka mandi di sungai, loh." Protes, Lina.
"Ya maaf, aku kan tidak tahu, apalagi, kita kan belum kenal." Balas, Yusuf.
"Iya, kak sekarang jarang, ya orang mandi atau nyuci di sungai." Ungkap, Lina.
"Iya, cantik soalnya sudah pada punya sumur dan kamar mandi sendiri. Jadi, mereka kalau membutuhkan air, tidak harus jauh-jauh pergi ke sungai." Urai, Yusuf.
Lina pun mengangguk, tanda paham. Sesampainya di tepi sungai, mereka terkejut, dugaannya meleset.
"Wih, ternyata sungainya jernih banget, aku ternyata salah menilai." Ujar, Yusuf.
"Kak Yusuf ini gimana si? Orang sungai jernih dibilang keruh, padahal nama tempat tinggalnya aja, Desa pinggir sungai." Grutu, Lina.
"Soalnya, aku jarang banget berkunjung ke desa ini. Kalau ke sungai, ya paling yang ada di desaku. Kalau sudah di desaku ada dua, semuanya masih jernih dan dapat digunakan." Jelas, Yusuf.
Sementara itu, Andre yang juga sedang jalan-jalan, menghirup udara segar, agar pikirannya lebih semangat. Tak sengaja menyaksikan kebersamaan, mereka dari jauh, penyakit isengnya kambuh secara tiba-tiba.
"Aku kagetin ah, mereka kaya gimana, ya reaksinya? Salahnya pacaran kok di tepi sungai, kaya tak ada tempat lain aja si." Batin, Andre.
Ia berjalan dengan pelan-pelan menghampiri, Yusuf dan Lina yang sedang ngobrol dengan asyik.
"Dor!!!!"
Lina dan Yusuf kaget tingkat tinggi, Yusuf malah tercebur ke sungai.
"Pyur!!!!"
Lina merasa sangat emosi, meminta pertanggungjawaban pada, Andre.
"Kakak sudah bikin, kak Yusuf terjebur!!!! Aku tidak mau tahu, kakak pokoknya harus tanggung jawab!!!!" Tandas, Lina.
Andre pun tidak menyangka, niatnya hanya bercanda, malah membuat sahabatnya celaka.
Komentar
Posting Komentar