Andre menuju ke tempat, Yusuf terjebur, untuk menolong sahabatnya.
"Suf coba ulurkan tanganmu ke atas! Siapa tahu tanganmu tak tarik, dirimu bisa selamat." Kata, Andre.
"Sudahlah tidak usah, aku naik sendiri aja. Kamu menarik tanganku. Takutnya malah, kamu ikut terjebur kan gawat." Respons, Yusuf.
Yusuf naik ke daratan dengan perlahan, pegangan kayu yang tumbang, akhirnya berhasil juga. Setelah tercebur ke sungai, Yusuf berdiri sambil menahan tawa malu, pakaiannya basah kuyup dari ujung rambut sampai kaki. Lina sibuk mengomel pada, Andre yang masih tertawa geli walau sedikit menyesal.
"Sudah jatuh tercebur, malah diketawain! Kakak tuh, ya, suka banget bikin ulah!" gerutu Lina.
Andre angkat tangan sambil berjalan mundur. "Maaf, maaf, aku cuma pengin bercanda. Aku tidak nyangka, Yusuf kayak kaget level dewa."
"Level dewa apaan? Tuh, bajunya sampai beleberan semua!" seru Lina.
Tangannya menunjuk, Yusuf yang sedang menatap kausnya yang menempel ke tubuh seperti kulit kedua.
Yusuf hanya bisa menggeleng, lalu berjalan ke pinggir, mencoba memeras celananya. Air sungai mengalir tenang, kontras dengan perasaannya yang kacau.
"Aku bersumpah, ini masuk buku pengalaman hidup: dicemplungkan oleh sahabat sendiri waktu lagi PDKT," katanya, separuh bercanda.
Lina menyodorkan sapu tangan. "Ini bukan buat ngelap seluruh tubuh, tetapi minimal muka, kamu bisa kelihatan manusia."
Yusuf menyambutnya dengan senyum lelah. "Terima kasih, ya, cantik. Kamu memang calon bidan—penolong di kala darurat."
Andre garuk-garuk kepala, sambil berucap pada kedua kawannya..
"Eh, kalian mau lanjutin jalan-jalan atau pulang ganti baju dulu? Biar tidak kedinginan, takutnya nanti kalau masuk angin."
Yusuf menatap langit sebentar. "Masih pagi, belum waktunya nyerah."
Lina menoleh dengan ekspresi heran. "Kamu yakin lanjut kayak gini? Nanti dilihat warga, dikira abis duel sama naga air."
"Akan tetapi naga air-nya baik, loh sebenarnya. Dia cuma salah timing dorong," sahut Yusuf.
Ia sambil menatap, Andre. Mereka semua tertawa, sampai puas dan matanya berair.
Akhirnya mereka memutuskan melanjutkan jalan-jalan, tapi kali ini lewat jalur yang tidak terlalu ramai. Baju dan celana, Yusuf mulai mengering pelan-pelan karena matahari yang bersinar cerah.
Sementara itu, di rumah, Sandi masih membaca komik sambil tiduran di sofa. Tiba-tiba HP-nya berbunyi.
"Jangan-jangan itu, Santi yang kirim chat."
Sandi langsung buka hp dengan semangat empat lima, ternyata salah orang. Andre yang terlihat kirim pesan di whatsapp, Sandi tetap membukanya.
"Eh… Andre kirim foto, kurang kerjaan banget si. . Apa-apaan si ini?"
Sandi memperbesar gambarnya, supaya lebih jelas gambarnya.
"Ada foto, Yusuf basah kuyup, caption-nya 'Spesies langka yang baru keluar dari sungai legendaris.'"
Sandi terpingkal-pingkal. "Astaga! Ini bakal, aku cetak, tempel di kulkas! Kalau, ayah dan ibu tanya, aku bakal jawab, itu postor unik yang langka."
Sedangkan di tempat lain, Lina merasa bahagia, meskipun awalnya sempat emosi pada, Andre yang iseng. Hari itu pun dipenuhi tawa, meski dimulai dengan insiden kocak. Dan walau, Yusuf basah kuyup, hatinya hangat—karena, dia bisa tertawa bersama orang-orang yang paling penting dalam hidupnya.
Matahari semakin menyengat, mereka merasa kepanadsan, bagaikan di panggang.
"Pulang yuk! Aku sudah tidak betah, hawanya panas banget." Keluh, Lina.
"Kamu takut gosong, ya, Lin? Makanya sudah ingin pulang, atau takut meleleh karena terkena panas?" Sambung, Andre.
"Ih, enak aja! Meleleh, emangnya es batu!" Sahut, Lina.
"Sudah-sudah jangan ribut! Mari pulang, lagi pula ini sudah siang banget!" Kata, Yusuf.
Mereka berjalan beriringan, menuju Desa pinggir Sawah. Dengan keringat bercucuran, bagaikan habis mengangkat benda berat. Sesampainya di depan rumah, Lina, mereka mengucap salam dengan kompak.
"Assalamualaikum!!!!"
Sementara, Sandi yang sedang duduk dan membaca, langsung membukakan pintu. Melihat, Yusuf penyakit jahilnya kambuh.
"Tadi gimana, Suf?" Tanya, Sandi.
"Apanya, bang yang gimana?"
Kata, Yusuf, dengan ekspresi kebingungan terpampang di wajah, Yusuf dengan jelas.
"Ini, loh, Suf masa si dirimi lupa? Tadi itu lagi belajar renang, ya?
Tanya, Sandi sambil memperlihatkan foto insiden di sungai.
"Tadi tidak sengaja terjatuh gara-gara kaget, bang. Itu pelakunya, orang yang pakai baju merah, lagi duduk di bawah pohon. Bang Sandi kok bisa punya foto itu? Dapat foto itu di mana si?" Ujar, Yusuf.
"Andre tadi yang kirim foto, niatnya si mau tak pajang." Jelas, Sandi.
"Dipajang di mana, bang?" Tanya, Yusuf, penasaran.
"Pajang di pintu kulkas." Jawab, Sandi.
Yusuf tertawa, membayangkan dirinya dipajang di pintu kulkas, dalam keadaan basah kuyup.
"Oh gitu, ya, bang?"
"Iya, Suf.
"Abang si tidak ikut, padahal seru banget, loh." Imbuh, Yusuf.
"Aku tadi sebenarnya mau ikut, tetapi pingin telponan sama cewekku. Lagi pula takut mengganggu, kalian yang lagi ingin romantisan." Papar, Sandi.
"Kita tidak romantisan, cuma jalan biasa kok, bang. Terus telponannya sudah selesai sekarang?" Balas, Yusuf.
"Ya belumlah, aku telpon aja tidak direspons. Dia mungkin masih sibuk, belum sempat buka hp." Papar, Sandi lagi.
Yusuf mengangguk memahami penuturan, Sandi.
Andre hanya senyum-senyum, ia tahu, dirinyalah yang dimaksud.
"Wah, pelakunya malah senyum tanpa dosa, asli kayanya minta dikasih kaos kaki yang sudah bau. Sudah 3 bulan belum dicuci, dia biar kapok." Crocos, Lina.
"Andre memang orangnya suka iseng, sudah biarin aja. Kalau dipikir terlalu serius, kamu malah capek sendiri." Kata, Yusuf.
Sesudah itu, Yusuf pamit pulang, ingin ganti pakaian yang bersih.
"Aku pulang dulu, ya! Mau mandi sama ganti, biar tidak bau kecut."
"Perlu diantar atau tidak, Suf?" Tawar, Sandi.
"Tidak, bang terima kasih, aku jalan kaki saja. Lagi pula tadi datangnya juga jalan kaki, tidak bawa sepeda." Tolaknya.
Yusuf pun berlalu, melangkahkan kaki sampai ke Desanya.
Andre juga pamit ke rumah untuk istirahat, agar nanti malam bisa bekerja dengan semangat.
"Aku ke rumah dulu, ya! Biasa ni, mau tidur siang, soalnya nanti malam mau ke cave."
Lina dan Sandi mengangguk mengiyakan, karena juga sudah mendekati waktu dhuhur. Di bawah pohon tinggal, Lina dan Sandi, mereka duduk sebentar, lalu ke dalam rumah.
Komentar
Posting Komentar