MENAKLUKKAN HATI WANITA 25

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian sungai yang bikin, Yusuf basah kuyup. Hari ini, Andre bangun dengan niat mulia. Bersilaturahmi ke rumah, Yusuf. Tanpa mengabari dulu, ia langsung naik sepeda menuju ke sana. Kirim chat pun, hanya menyapa, tidak memberi tahu bahwa, dirinya akan berkunjung.


"Hai, Suf apa kabar?"


Sapaannya tak ada jawaban, Andre berharap kedatangannya tak sia-sia.


"Semoga si, Yusuf ada di rumah." Batin, Andre.


Sementara itu, Yusuf sedang sibuk di toko, tangannya penuh dengan botol minuman dan kardus mie instan. Belum sempat menyentuh ponselnya, suara ayahnya sudah menggema dari arah dapur.


"Yusuf! Lantai masih kotor, rak belum disusun, itu pelanggan datang tidak disambut, malah buka HP!"

"Aku cuma liat sebentar, Yah. Ada pesan dari Andre, siapa tahu penting. Lagi pula ada, pak Yanto dan bu Yanti yang siap melayani itu, loh." jawab, Yusuf pelan.


"HP lagi! Sudah kerja dulu, tidak usah mainan layar! Yanto sedang belanja berbagai kebutuhan yang sudah pada habis, Yanti sedang sibuk ngurusi pesanan para pembeli! Dibilangi sama orang tua itu tidak usah ngeyel!" bentak sang ayah.


Yusuf pun terpaksa menaruh ponsel di rak belakang, tak sempat melihat isi chat apapun. Walaupun dalam hatinya penasaran, sebenarnya apa isi chat-nya.


Sementara itu, Andre sudah sampai di depan rumah, Yusuf. Dari kejauhan, ia melihat sosok pria yang sangat mirip dengan, Yusuf: duduk santai di teras, pakai kaus polos dan sandal jepit, gaya jalan dan senyumnya pun sama. Andre pun langsung memanggil dengan sempringah, bagaikan mendapat rezeki setumpuk. Dirinya tak memperdulikan lagi, pesan yang tadi di kirim.


"Yusuf! Wah, tumben di rumah, Bro!"


Pria itu berdiri, tersenyum lebar sambil menjabat tangan, Andre. "Wah, Andre! Lama tidak main ke sini! Duduk dulu, ngobrol dulu!"


Mereka pun duduk, dan pria itu terlihat sangat akrab. Andre, tanpa rasa curiga, mengobrol santai sambil sesekali tertawa.


"Gimana, Suf? Sibuk tidak akhir-akhir ini?"

"Ya lumayan, tetapi ini sebentar lagi mau balik kampung dulu. Ada keperluan di Singapura," ucap pria itu santai.


Andre langsung melongo, benar-benar bingung tingkat dewa.


"Ke Singapura? Seriusan? Wah, kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin?!"


"Namanya juga mendadak, Bro. Ada panggilan kerja dari teman lama. Doain lancar, ya!"

"Wah, gila sih! Semoga sukses, ya,, Suf! Kamu keren banget, berani berangkat ke luar negeri!"  


Pria itu hanya tersenyum, tak menjelaskan lebih jauh. Padahal yang duduk di situ bukan, Yusuf, melainkan pamannya yang bernama, Ayub. Wajah, suara, gaya bicara, bahkan kelakuannya *plek ketiplek* dengan, Yusuf, bagaikan pinang dibelah dua. Andre yang belum pernah bertemu, Ayub pun, **sepenuhnya terkecoh.


Setelah cukup lama mengobrol, Andre pamit pulang. Namun, sebelum pulang ke rumah, ia sempat mampir ke rumah, Lina.


"Lin! Kamu udah tahu belum?! Yusuf mau ke Singapura! Udah gitu tidak memberi tahu, kita sama sekali!" kata Andre, dengan napas tersengal.


Lina yang sedang nonton sinetron langsung menoleh.


"Apa?! Singapura?! Seriusan?!"

"Iya! Barusan banget ngobrol sama, dia. Katanya ada panggilan kerja dari temannya di sana. Besok mau berangkat!" Tutur, Andre.


Lina terdiam. Matanya membesar. Hatinya mendadak agak... dingin.


"Kenapa, dia tidak bilang sih ke, aku dari kemarin si. Jahat banget itu orang, apa susahnya bilang si! Tidak sempat ke sini, ya kan bisa, bilang lewat telpon!" Grutu, Lina.


Andre merasa lega sudah menyampaikan kabar itu, walaupun kabarnya terasa tidak enak. Padahal tanpa disadari, kabar yang disampaikan itu sepenuhnya salah paham.


Sementara, Yusuf masih di toko, sibuk dengan teh botolan dan rak jajanan. Ponsel masih tertinggal di rak belakang, belum sempat dibuka. Selesai menata jajanan dan minuman, Yusuf merasa gembira, bagaikan dapat uang milyaran.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, semuanya sudah tertata rapi. Sekarang saatnya membuka hp, melihat pesan dari, Andre dan mengabari, Lina." Batin, Yusuf.


Yusuf baru berjalan beberapa langkah, belum sampai ke rak belakang, tempat tumpukan beras. Tempat, Yusuf meletakan hp, Yanto menghampiri, dengan belanjaan di tangannya.


"Suf ini ada gula, mie instan, minyak goreng, kopi, teh dan sabun. Tolong ditata, ya, Suf! Jangan sampai ada barang yang terlewat!" Titahnya.


Yusuf mengangguk mengiyakan, sambil ke rak penyimpanan barang. Usai menata barang, Yusuf akan ke belakang, mengecek hp, lagi-lagi dapat kerjaan. Yanti menghampiri dengan segepok belanjaan, yang sudah ada nama penerimanya.


"Suf tolong antarkan pesanan! Ini sudah tak bungkus dan tak kasih nama. Awas jangan sampai tertukar!" Ucapnya.


Yusuf melaksanakan tugasnya, dalam hatinya ingin sekalian mampir. Ingin ketemu, Lina walau hanya sebentar saja, agar lebih semangat. Pak Parno yang tahu gelagat, Yusuf pun memberi peringatan.


"Awas jangan mampir ke mana-mana! Habis ngantar barang langsung ke sini lagi!"

"Aku tidak mampir-mampir kok, yah, lagian kan barangnya banyak. Ya wajar aja si, kalau ngantarnya lama." Kata, Yusuf.

"Alah, sudah tidak usah banyak alasan, buruan berangkat! Ayah tahu, kamu mampir ke Desanya, Andre kan? Mumpung ada kesempatan untuk pergi."


Yusuf di perjalanan kumat-kamit sendiri, untungnya tidak ada orang yang memperhatikan.


"Ayah lagi kenapa si? Kok tumben banget terlalu protektif kaya gitu? Biasanya, ya aman-aman aja, kerja sambil buka-buka hp. Aku heran aja si, ayah lagi gampang emosian gitu."


Yusuf ocehannya tak terbalas, hanya terdengar oleh angin yang berhembus.Mampir ke tempat, Lina pun gagal, Yusuf tubuhnya merasa lelah. Sore yang dinanti pun tiba, pukul 16.00, Yusuf pulang ke rumah dengan sepeda kesayangannya.


Lina mencoba chat, untuk minta penjelasan, Yusuf yang pergi ke Singapura.


"Mengapa harus ke Singapura si, kak?! Padahal, kak di rumah aja, sudah punya banyak pekerjaan!" Omelnya.


Lina keadaannya sangat nelangsa, pesannya malah centang satu.


"Kakak kok tega banget si! Pergi tanpa pamit! Kakak jahat!" Ocehnya.


Lina menunggu sampai setengah jam, pesannya tetap saja centang satu. Mencoba telpon whatsapp malah memanggil, telpon seluler juga tidak aktif.


"Kak Yusuf itu maunya apa si? Nomornya kenapa sampai tidak aktif kaya gini? Apa salahku si? Kenapa, kak Yusuf tidak kasih penjelasan sama sekali?"


Pertanyaan, Lina tak mendapat jawaban. Lina hatinya terluka dan sedih, karena kehilangan sosok yang sudah menyusup di hatinya.


Sebenarnya drama tentang keberangkatannya ke Singapura, baru saja dimulai. 

Komentar