Yusuf sampai di rumah, tak sengaja melihat sandal pamannya ada di depan pintu. Yusuf mengucap salam, untuk membuktikan kalau di rumah ada orang. Karena setahunya, Yusuf tak ada orang selain dirinya. Ibu dan ayahnya masih di toko belum pulang, ia pulang yang paling awal.
"Assalamualaikum!!!!"
Ayub yang mendengarnya, langsung keluar, tidak lupa menjawab salam.
"Waalaikumsalam."
Jawab, Ayub sambil membuka pintu, lalu menyapa keponakannya.
"Baru pulang, suf?"
"Iya ini, om, aku baru datang. Ke sini kapan, om?" Balas, Yusuf.
"Aku datang tadi pagi si, mas Parno bilang kalau ingin ketemu, kamu sore kalau tidak malam. Kamu katanya lagi disuruh bantu-bantu di warung, soalnya lagi sangat ramai." Kata, Ayub.
"Ya gitulah, om, aku masuk dulu! Mau mandi dan ganti, biar tidak bau kecut!" Pamit, Yusuf.
Ayub mengangguk, lalu melanjutkan nonton TV, acaranya pertandingan sepak bola.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu, sang dewi malam telah tiba. Gerimis rintik-rintik di Desa Pinggir Kali, Desa Pinggir Sawah dan sekitarnya. Suara jangkrik dan kodok meramaikan waktu malam, yang terasa dingin dan sunyi.
Sementara itu, di tempat lain, Lina sedang berpikir bagaimana caranya membuktikan. Kalau, Yusuf benar-benar akan pergi ke Singapur dan bekerja di sana.
"Aku punya ide, besok pagi mau minta tolong, kak Andre untuk di antar ke rumahnya. Kak Andre kan sudah pasti hafal kediaman, kak Yusuf, kalau tidak hafal itu mustahil. Semoga aja, kak Andre mau mengantarkan ke sana dan tidak membuatku tersesat." Batin, Lina.
Setelah itu, Lina terlelap sambil membayangkan besok pagi, akan pergi ke Desa sebelah.
Sedangkan, Andre nyanyi di cave sampai larut malam, pukul 23.00 baru pulang. Di cave suasananya sangat ramai, meja kursi pada penuh semua, tak ada yang kosong.
"Oh pantas aja orang-orang pada ke cave, menikmati makanan atau minuman yang hangat. Hawanya aja gerimis kaya gini, aku untungnya bawa payung. Kalau tidak, aku hujan-hujanan, terus sampai rumah kedinginan, kan bisa gawat." Gumam, Andre di jalan.
Sesampainya di rumah, Andre membuka pintu dengan pelan. Supaya tidak mengagetkan kedua orang tuanya, yang sedang istirahat dengan nyaman.
Sementara, Yusuf menulis novel tentang cinta yang datang dengan tiba-tiba, di pojok kamar, tangannya asyik mengetik di laptop.
"Wah, nulis cinta-cintaan, tumben banget si? Kamu biasanya nulis novel patah hati, loh Suf." Komentar, Ayub.
"Iya ini, om, lagi ingin membahas dunia percintaan si.
Jawab, Yusuf dengan asal, sambil senyum- senyum. Ayub membuka lemari buku milik keponakannya, ekspresinya terheran-heran melihat tumpukan novel. Dimulai dari novel horor sampai novel romance, benar-benar tersedia, tinggal pilih mau baca yang mana.
"Walah-walah, Yusuf bukunya banyak banget, kaya habis kulakan terus dijual lagi. Padahal hanyak untuk dibaca, buku sebanyak ini kalau dibaca semua. Kapan selesainya?" Batin, Ayub.
Pukul 04.00 pagi, Yusuf mandi agar tubuhnya segar, lalu ke masjid bersama, ayah dan pamannya. Bu Parno shalat subuh di rumah tidak ikut ke masjid. Usai shalat subuh, Yusuf ngobrol dengan pamannya di teras.
"Rencana mau nginap di sini berapa hari, om?"
"Cuma semalam aja kok, aku pagi ini pulang, Suf. Maklumlah, di Kampung pekerjaanku banyak, untuk menyambung hidup dan makan sehari-hari." Kata, Ayub.
"Emangnya kerja apa si om? Apakah masih menggembala kambing kaya dulu?" Tanya, Yusuf.
"Kalau kambing si masih, sekarang tambah sapi, ayam, burung dan bebek. Kamu apa mau ikut bantu mengurus hewan-hewanku?" Kata, Ayub lagi.
"Tidaklah, om, aku mau bantu mengurus toko saja, yang tidak terkena panas. Pastinya kalau cari makan untuk sapi dan kambing kan ke sawah, kalau pas dapat rumputnya siang pasti hawanya panas. Lagi pula paling di sana tidak ada sinyal, kalau mau buka whatsap aja susah." Alasan, Yusuf.
"Itu si alasanmu aja, tinggal bilang aja tidak mau. Takut jauh dari pacarnya pasti ini, atau takut pacarnya diambil orang. Iya kan?" Goda, Ayub.
Yusuf hanya menanggapi dengan senyuman, ia tahu, pamannya memang suka bergurau. Makanya, ia tak pernah memasukan dalam hati, setiap candaan yang, pamannya lontarkan.
Sementara di tempat lain, Lina habis shalat subuh sudah bertandang ke rumah, Andre dengan ekspresi serius.
"Tok-tok!!!! Tok-tok!!!! Kak Andre!!!!" Panggilnya.
Andre pun keluar, pas baru bangun tidur, belum cuci muka.
"Iya ada apa, Lin? Pagi-pagi buta kok sudah mencariku?" Tanya, Andre.
"Tolong antarkan ke rumah, kak Yusuf yuk!" Pinta, Lina.
"Tunggu sebentar, ya! Aku tak shalat dulu, habis itu tak antar ke sana." Ujar, Andre.
Lina mengangguk mengiyakan, sambil duduk di teras.
Sedangkan di kediaman, Yusuf semuanya sudah rapi, Yusuf dan kedua orang tuanya ke toko. Ayub akan pulang menggunakan taksi, bukan ke Singapura, tetapi ke Desa Pinggir Gunung.
Sementara itu, Lina dan Andre menuju ke tempat, Yusuf naik sepeda.
"Aku kira jauh rumahnya, ternyata hanya di Desa sebelah." Kata, Lina.
"Kamu emangnya tidak pernah dikasih tahu? Yusuf sebenarnya tinggal di mana?" Celetuk, andre.
"Aku pernah dikasih tahu, cuma lupa." Balas, Lina.
Andre mengangguk tanda paham, memaklumi, namanya juga manusia kadang ada kalanya lupa.
Sementara, Ayub naik taksi, dengan tas di punggungnya. Lina dan Andre menyaksikannya dari kejauhan, di balik pohon rimbun, supaya tidak ketahuan.
"Nah, benar kan, Yusuf berangkat? Kamu sudah lihat sendiri kan? Aku berarti tidak bohong padamu?" Ucap, Andre.
Lina manggut-manggut, matanya berkaca-kaca, perasaannya amat sedih.
"Pulang yuk!" Ajak, Lina.
Mereka pun kembali ke Desanya dengan perlahan, suasananya masih terasa sejuk. Sang mentari belum menyapa bumi, Andre dan Lina pun masih diliputi kesedihan. Sandi belum menyadari apa yang terjadi, karena dirinya sedang bekerja saat, Andre membawa berita, Yusuf akan ke Singapura.
Saking sedihnya, Lina nyuci piring sampai tidak fokus. Gelasnya ada yang jatuh, pecah menjadi 3 bagian.
"Klutak!!!!"
Lina pun panik, takut kalau kena marah.
"Aduh!!!! Kenapa ini gelas pakai pecah segala si? Gimana ini? Semoga aja, ibu tidak marah, mau mengikhlaskan gelasnya." Gumam, Lina pelan.
Bu Ahmad yang menyaksikan tragedi tersebut, menenangkan, Lina dengan lembut.
"Sudah tidak apa-apa, nak lagi pula gelasnya sudah tua. Pinggirnya pada retak, dia sudah waktunya diganti yang baru. Kamu tidak usah sedih, sudah tidak usah terlalu dipikir."
Mendengar hal itu, Lina hatinya tenang, perasaannya lega luar biasa.
Komentar
Posting Komentar