MENAKLUKKAN HATI WANITA 27

Setelah tragedi gelas pecah, Lina mandi keramas. Malah ada tragedi baru, saat membuka sabun cair, ada yang tumpah.


"Aduh, kenapa ini sabun pakai tumpah segala si? Untungnya yang tumpah sedikit tidak banyak." Gumam, Lina.


Saat membuka sampau caset juga tak sengaja ada yang robek.


"Nasipku kayanya sial banget si, niatnya mau buka sampau satu. Malah dua yang ke buka, asli rasanya tidak mengenakan, hari ini banyak tragedi yang terjadi padaku." Gumam, Lina lagi.


Ia selesai mandi hanya berdiam diri di kamar. Lina tidak membuka hp, sore itu sahabatnya tidak ada yang menghubungi. Perasaannya masih sedih, ia masih terbayang-bayang kepergian, Yusuf ke Singapura.


"Dia kok jahat banget si, aku ditinggal gitu aja. Sudah gitu tanpa kabar sampai sekarang." Oceh, Lina.


Sementara, Andre main gitar di teras sambil ngopi, hatinya masih bersedih, Yusuf sudah jauh dari dirinya.


"Sekarang sahabatku cuma satu yang dekat, Sandi yang bisa kutemui. Yusuf sudah tak bisa lagi untuk dijumpai." Batin, Andre.


Waktu terus berjalan, sore berganti malam, suara azan berkumandang. Andre mengakhiri permainan gitarnya, lalu bersiap ke masjid. Shalat berjamaah dengan para warga Desa Pinggir Sawah.


Sementara, Sandi sore itu juga shalat di masjid, tetapi berangkatnya sudah hampir ikomah. Ia melihat sandal, Andre terpampang di barisan sandal yang terjejer, bagaikan barisan lebah.


"Itu kok kaya sandalnya, Andre, ya? Dia ke masjid, aku kok tidak diajak si? Padahal kalau ke masjid bareng, kan seru, terus menambah rasa semangat juga."


Gumam, Sandi sambil meletakan sandal di tempat yang masih kosong.


Sementara itu, Yusuf pulang dari toko, tubuhnya sangat lelah. Ia duduk sejenak untuk menghilangkan lelah, sambil membatin.


"Ternyata membungkus beras biar menjadi satu kilo, setengah kilo, dan seperempat, rasanya sudah capek banget. Apalagi kalau bulak-,,balik nata barang di rak dan di gudang kaya, pak Yanto pasti rasa capeknya dua kali lipat. Atau kaya, bu Yanti yang bulak-balik melayani pembeli, pasti capeknya luar biasa. Akan tetapi, ayah dan ibu juga capek, mengurus barang-barang lainnya, yang harus dibungkusi."


Setelah itu, Yusuf mandi, supaya bersih dan wangi. Sekitar jam 16.00, Yusuf disuruh, ayahnya menjual pisang ke pasar.


"Pokoknya nanti kalau pas ada waktu senggang, aku bakal menghubungi si jutek. Aku saat ini masih belum sempat menghubungi, Lina kesibukan masih belum libur. Walaupun sesungguhnya, aku rindu berat, aku si tidak tahu. Apakah, Lina merasakan hal yang sama? Semoga si demikian, rasanya pasti sama beratnya, kalau saling merindukan."


Batin, Yusuf sambil menarik gerobak dengan sepedanya, senyuman terlukis di wajah. Untungnya gerobaknya tetap aman, tidak lepas atau terbalik. Meskipun membawanya dengan pikiran yang berpetualang ke mana-mana, pisangnya sampai di pasar dengan selamat. Yusuf pun bertemu pembeli, yang biasanya langganan buah dengan, pak Parno.


"Pisangnya tak beli, aku saja, mas. Sampean biar tidak bingung menjualnya, sampean orang baru kan? Tanya pembelinya.

"Iya, aku orang baru, pak, aku mau jual pisang, sampean bersedia membeli. Aku jadi, tidak bingung, tidak susah mencari pembeli. Sampean penjual buah, ya? Kok melihat pisangku, langsung ingin beli?" Tanya, Yusuf.

"Aku ini bukan penjual buah, biasanya beli buah untuk bikin makanan, mas. Melihat, sampean membawa pisang yang masih segar, aku langsung tertarik." Jawab sang penjual.


Yusuf mengangguk mengiyakan, sambil menyerahkan pisang 10 tandon dan menerima bayaran. Ia lalu pulang, sebenarnya ingin mampir ke tempat, Lina atau Andre, sayangnya membawa gerobak. Akhirnya bablas ke rumah, lalu menyimpan gerobak di belakang rumah.


Sedangkan di tempat lain, Lina shalat maghrib di rumah, ia benar-benar tidak semangat sama sekali. Habis shalat mengurung diri di kamar, tidak duduk di ruang keluarga, menunggu untuk makan malam bersama seperti biasa.


Sementara, Sandi dan Andre pulang bersama sambil berbincang.


"Tak kira, kamu tidak ke masjid, malah sudah berangkat duluan. Aku tidak diajak, kamu itu gimana si." Grutu, Sandi.

"Ya maaf, aku pikir dirimu tidak ke masjid, ya, aku tidak menghampirimulah." Balas, Andre.

"Ya sudahlah tidak apa-apa, namanya tidak tahu. Malam ini sibuk tidak, bro?" Sambung, Sandi.

"Biasalah, nanti habis isya ke cave, paling pulangnya sudah larut malam. Emangnya ada apa si?"

"Ya tidak ada apa-apa sih, hanya ingin main bareng aja. Kalau, kamu memang lagi sibuk, ya lain kali ajalah main barengnya." Ujar, Sandi.


Andre mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Tanpa terasa, mereka sudah sampai di rumah, Mereka pun berpisah.


Sementara itu, Lina diajak oleh kedua orang tuanya makan malam, ia melangkah ke ruang makan dengan keadaan gundah. Sandi juga ternyata sudah ada di ruang makan, Iya iseng menggoda, adiknya sambil senyum-senyum sendiri.


"Kamu lagi kenapa sih? Kok kelihatannya tidak semangat banget kayak gitu? Apa jangan-jangan lagi kangen sama pacarnya?" Tanya, Sandi.

"Abang ini apaan sih nanya-nanya, kepo banget sih." Jawab, Lina acuh.


Pak Ahmad pun berusaha menengahi keduanya, supaya tidak ribut saat makan.


"Sudah sudah, kalian itu kebiasaan, kalau lagi bareng tidak akur. Kalau lagi tidak ketemu saling mencari, saling menanyakan satu sama lain. Kalau makan itu yang tenang, Jangan ribut, jangan saling jahil satu sama lain." Ujar, pak Ahmad.


Keduanya pun akhirnya terdiam, melanjutkan makan dengan tenang dan nikmat.


Sementara di tempat lain, Yusuf habis maghrib berbincang dengan, ayahnya di ruang keluarga.


"Suf besok, kamu tidak usah ke toko, rumput yang di sekitar rumah sudah tinggi, sudah waktunya dipotong! Kamu besok motong rumput, terus metik cabai, habis itu panen buah yang sudah pada matang! Jangan lupa sorenya buahnya dijual ke pasar!" Titah, pak Parno.

"Terus yang bantu di toko siapa, yah? Kalau, aku tidak ke toko, kan akhir-akhir ini banyak barang yang harus diurus atau dirapikan." Kata, Yusuf.

"Kamu kan lihat sendiri, di toko sudah banyak yang dibereskan. Itu semua karena kerja kerasmu, kamu sudah mau bantu di toko. Sehingga, kamu kalau ke toko, ya paling hanya mengawasi saja. Yang bagian melayani pembeli, Yanti, yang bagian mengantar barang suaminya. Ibumu yang dibagian kasir, ayah yang besok tak ke toko. Kamu di rumah bersih-bersih rumah dan panen buah, paham kan?" Ujar, pak Parno.


Yusuf mengangguk mengiyakan, ia bersedia memotong rumput, bersih-bersih rumah dan panen buah.


Jam menunjukan pukul 20.00, suara jangkrik sudah mulai ramai. Sementara itu, Lina di kamar mendengarkan musik sambil menggerutu. Hawanya emosi, semua kenangan bersama, Yusuf satu per satu terlintas di pikiran.


"Dasar cowok menyebalkan! Dulu mendekatiku dengan berbagai cara, sekarang pergi tanpa pamit! Dasar cowok jahat, tidak punya perasaan! Aku menyesal, kenalan sama cowok jahat kaya gitu!"


Sandi saat lewat depan kamar, adiknya tak sengaja mendengar. Ia langsung bertanya tanpa basa-basi, sambil mengetuk pintu.


"Tok-tok!!!! Tok-tok!!!! Dik tolong buka pintunya! Kamu lagi kenapa? Kok marah tidak jelas kaya gitu? Coba cerita! Siapa tahu, abang bisa bantu, jangan dipendam sendiri!"

"Apa si, bang?! Sudah jangan ganggu dulu, aku lagi pingin sendiri." Jawab, Lina.


Sandi pun mengalah, ia yakin kalau, adiknya sudah merasa tenang. Pasti akan cerita dengan sendirinya, apa yang, Lina rasakan. 

Komentar