Kau bilang cinta, tetapi sering sekali diberi goresan luka.
Terkadang ku bertanya, cinta macam apa yang tak ada kejujuran di dalamnya.
Aku memang orang yang tak sempurna, orang yang masih banyak kekurangannya.
Hanya satu Yang ku minta, jika mencintai haruslah tulus dari hatinya.
Kau bilang sayang, tetapi masih saja kau ciptakan goresan luka.
Kau bilang diriku adalah sosok yang paling berarti, tetapi mengapa selalu dilukai hatinya?
Kau bilang diriku adalah penyemangatmu, tetapi mengapa masih saja dikecewakan perasaannya?
Kau bilang diriku adalah sosok yang paling berharga, tetapi mengapa masih ada kebohongan di dalamnya?
Apakah dirimu tak tahu, aku sangat terluka oleh kebohonganmu?
Kau apakah tak tahu, aku tak ingin dengar lagi semua kebohonganmu?
Aku sangat kecewa, hati ini tergores luka yang sangat dalam.
Kau bila masih ingin bersamaku, hilangkanlah segala dusta dan kebohonganmu!
Bila dirimu punya tinta, mengapa tinta itu digunakan untuk menggoreskan luka?
Mengapa tinta itu tak kau gunakan untuk melukiskan sebuah kebahagiaan?
Mengapa tinta itu selalu digunakan, untuk menuliskan sebuah kata-kata kebohongan?
Mengapa tinta itu tak digunakan untuk melukiskan sebuah kejujuran?
Kau mengapa selalu membuatku kecewa, kau mengapa menggoreskan luka di hatiku?
Coba kau katakan apa salahku?
Coba jelaskan apa dosaku?
Coba kau tunjukkan seberapa besar salahku padamu?
Kau sungguh tega padaku, menggoreskan sebuah luka di hatiku.
Rasa empatiku padamu runtuh seketika, bagaikan benteng runtuh.
Rasa percaya kepadamu seolah gugur perlahan, bagaikan pagar yang runtuh.
Ku Tak habis pikir, kau tega berbohong padaku.
Kau mengapa seolah-olah cari perhatian padaku, nyatanya kau ciptakan goresan luka di hatiku.
Coba kau jelaskan, di mana kurangku hingga, kau dustai diriku?
Di manakah hati nuranimu hingga, kau berani berbohong padaku?
Asalkan kau tahu, walau hanya berbohong setitik debu, itu sangat melukai hatiku.
Komentar
Posting Komentar