Lina malam itu, setelah berkata-kata tidak jelas. Akhirnya tertidur ditemani hujan yang sangat deras, ia mimpi bertemu, Yusuf di taman.
"Aku senang banget, loh, kak bisa ke tempat seindah ini, sudah gitu hawanya sejuk banget." Ucap, Lina.
"Iya, cantik ini memang momen yang indah, kita yang tak pernah terlupakan. Apalagi, aku akhir-akhir ini sedang banyak kesibukan, jarang ada waktu untuk bersamamu." Balas, Yusuf.
Jangkrik dan kodok menjadi suara alam, yang meramaikan waktu malam seperti biasa. Sementara itu, Sandi di kamar sedang curhat dengan pacarnya, lewat telpon sambil duduk di kursi.
"Aku itu sedang sedih banget, loh, yang." Ungkap, Sandi.
"Emang sedih kenapa si? Apakah soal pekerjaan yang membuat hatimu susah?" Sambung, Santi.
"Bukan soal kerjaan si, kalau pekerjaan si aman-aman aja. Ini soal, adikku, dia kelihatannya sedang sedih tingkat dewa. Aku tadi lewat depan kamarnya, dia kaya sedang ngomong sendiri gitu. Aku kan merasa takut barangkali, dia kenapa-napa." Ungkap, Sandi lagi.
"Kamu jangan terlalu khawatir, dia kayanya sedang ingin sendiri. Tunggu aja, kalau perasaannya sudah tenang, dia bakalnya cerita. Biasanya gimana? Dia suka cerita sama, kamu atau tidak? Kalau, dia sedang ada masalah atau sedang merasa susah?" Sambung, Santi lagi.
"Dia itu kalau lagi sedih, susah, perasaannya kecewa dan sejenisnya. Dia biasanya cerita, kalau perasaannya sudah merasa lega. Terus ceritanya tanpa ditanya terlebih dahulu, dia mengungkapkan isi hatinya."
Kata, Sandi dengan pelan, rasa kantuk sudah menghampiri. Sandi tetap berusaha kuat, demi melepas rindu dengan sang kekasih. Santi yang menyadari kekasihnya sudah ngantuk berat, ia mengakhiri telponannya.
"Besok lagi, ya telponnya, kamu istirahat dulu! Kalau ngantuk itu jangan ditahan-tahan!" Ujar, Santi.
"Bentar lagi si, say, aku masih kangen. 15 menit lagilah, kita itu jarang telponan, loh." Kata, Sandi.
"Sudahlah tidak usah menawar, sekarang tidur! Telponan bisa besok lagi, masih banyak waktu kok!" Ujar, Santi tandas.
Mau tidak mau, Sandi pun istirahat, walaupun sebenarnya masih rindu pada kekasihnya.
Sementara itu, Andre di cave semangat menghibur penonton sampai jam 23.00, baru selesai. Ia melangkah di jalan dengan cepat, agar segera sampai di rumah.
"Aku untungnya bawa payung besar jadi, aku tidak kehujanan. Aku kok ingat, Yusuf, ya kalau hujan deras kaya gini. Makan bakso di tengah derasnya hujan, sambil cerita banyak hal. Sayangnya, Yusuf sudah jauh dariku, dia belum ada kabar sampai sekarang. Semoga sih di sana baik-baik aja, semoga juga, dia segera menghubungi orang-orang terdekatnya di Indonesia." Gumam, Andre, dalam hati.
Andre sesampainya di rumah langsung cuci kaki, tidak lupa gosok gigi. Setelah itu, Andre pergi ke alam mimpi, berharap hari esok lebih indah, dari hari ini.
Sementara di tempat lain, Yusuf tidur dengan nyaman di bawah selimut yang tebal. Ia sengaja tidur sore, menyiapkan tenaga untuk besok. Karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu, Yusuf dengan senang hati, untuk dibersihkan.
Waktu menunjukan pukul 04.00, semua orang baru terbangun, semangat beraktifitas terlihat dengan jelas. Mereka menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid sebelum mulai aktifitas.
Sementara di Desa, Lina dan Sandi sudah terjaga. Lina termenung di tepi ranjang, membayangkan mimpinya semalam.
"Andaikan itu nyata, aku merasa amat bahagia, sayangnya hanya mimpi. Aku tak tahu, kak Yusuf kok bisa setega ini, aku ditinggal pergi. Sudah gitu tanpa kabar sampai sekarang, sedihnya lagi, dia nomornya tidak aktif. Aku bingung harus bertanya pada siapa, nyatanya tidak ada yang tahu." Batin, Lina.
Sehabis itu, Lina ke kamar mandi, mengambil air wudhu, ekspresinya tidak semangat sama sekali. Dia shalat dua rakaat, lalu berdoa, mohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa agar hatinya lebih tenang.
"Sebentar lagi subuh, aku semoga tidak buang angin. Supaya sehabis ngaji, aku bisa langsung shalat subuh. Kalau sudah shalat, mau buang angin yang banyak, ya tidak apa-apa." Batin, Lina.
Sesudah itu, Lina bersih-bersih rumah untuk menghilangkan rasa sedihnya.
Sementara itu, Yusuf usai shalat subuh, langsung mengambil sabit dan karung. Ia sudah siap melaksanakan tugasnya dengan semangat. Bu Parno bertanya pada, anak semata wayangnya dengan lembut.
"Tidak sarapan dulu, nak? Nanti kalau lemas gimana? Belum sarapan sudah mau aktifitas, mbok tunggu dulu! Paling 15 menit lagi nasinya matang, ibu tadi bikin pecel sama bakwan." Kata, bu Parno.
"Tidaklah, bu, aku aktifitas dulu, makannya nanti pas istirahat." Balas, Yusuf.
Bu Parno mengangguk mengiyakan, sambil tersenyum manis, bagaikan madu.
Yusuf memotong rumput dengan teliti, agar tidak ada yang tertinggal. Yang pertama di potong, rumput di samping rumah, lalu yang di belakang rumah.
"Alhamdulillah yang di sekeliling rumah sudah rampung, sekarang lanjut memotong rumput di kebun. Wah, sudah dapat rumput sekarung, kalau ditambah rumput dari kebun. Kira-kira hasilnya berapa, ya?" Batin, Yusuf.
Rumputnya disimpan di belakang rumah, niatnya mau dibakar. Yusuf berjalan ke ke kebun, di sana tangannya memotong rumput. Setelah itu, ia membakar semua rumput dengan dedaunan kering dan kertas.
"Akhirnya salah satu pekerjaan sudah terselesaikan, sekarang saatnya makan. Pasti pecel dan bakwan sudah tidak sabar, berharap segera disantap. Nanti sore atau siang, kalau semua pekerjaan sudah beres, aku mau telpon, Lina untuk melepas rindu." Batin, Yusuf.
Ia ke keran, membasuh muka dan cuci tangan, lalu sarapan dengan nikmat.
Sementara di Desa sebelah, Lina habis aktifitas, menulis puisi. Mengungkapkan perasaannya, yang lagi galau tingkat dewa.
"Aku mau nulis dululah, hitung-hitung cari kegiatan. Dari pada, aku semakin galau kaya gini, memikirkan tentangnya yang belum jelas. Yang entah di mana rimbanya, setiap kubuka chat hasilnya tetap sama. Dia menghilang tanpa kabar, dia benar-benar jahat." Batin, Lina.
Setelah itu, Lina mengukir kata demi kata di laptop, tentang segala perasaannya.
Kau datang dan pergi dengan sesuka hati,
Kau membuatku perasaannya porak-poranda, bagaikan diterjang badai,
Kau sungguh tega, meninggalkanku begitu saja, tanpa permisi,
Aku tak tahu lagi, harus mencarimu di mana lagi,
Yang kumau jangan menggantungku seperti ini, katakan bila ingin pergi.
Tulis, Lina dalam puisinya.
Waktu cepat berganti, pagi menjadi siang. Sementara itu, Yusuf baru panen, berbagai macam buah. Ada belimbing, jambu biji, jambu air, nanas, kedondong dan mangga muda.
"Wah, kalau buah untuk bahan rujak kaya gini, nanti habis asyar, tak jual ke tukang rujak langgananku. Semoga, beliau mau beli, aku sekarang mau mandi, terus shalat dhuhur." Gumam, Yusuf.
Yusuf usai shalat membuka hp, mengirim chat ke, Lina sambil senyum-senyum sendiri. Untungnya tidak ada yang tahu, Yusuf senyum sendiri. Saat membuka hp, Yusuf terkejut, pesannya banyak banget.
Komentar
Posting Komentar