Yusuf setelah membuka semua cat yang berdatangan di hp-nya, iya terheran-heran. Tidak biasa-biasanya, Lina kirim chat sebanyak itu.
"Ada angin apa ini? Lina kirim chat, kaya senapan peluru? Jangan-jangan, Lina sudah kangen berat padaku?" Gumam, Yusuf.
Untuk memastikan dugaannya, dari pada menerka-nerka tidak jelas, Yusuf mengirim chat.
"Hai, cantik apa kabar? Aku merindukanmu, apakah dirimu juga merindukanku?" Tulis, Yusuf.
Sementara ittu, Lina yang asyik menulis puisi tentang kecewa dengan serius.
Aku tak menyangka, kau sangat kejam padaku,
Kau awalnya berusaha menaklukkan hatiku,
Kau kini mengecewakanku dengan bertubi-tubi,
Kau memang amat kejam dan tak punya hati.
Tiba-tiba, Lina mendengar hp-nya berbunyi, dirinya langsung mengambil hp sambil menggerutu.
"Siapa sih yang chat siang-siang kayak gini?! Kurang kerjaan banget, pakai chat-chat segala."
Pas dibuka ternyata, Yusuf yang mengirim pesan padanya. Lina merasa tidak yakin, Iya mencubit tangannya sendiri, demi membuktikan kalau itu nyata.
"Aduh!!!!"
Lina setelah merasa kesakitan, Iya baru percaya dan bergumam sendiri dengan pelan.
"Nyatanya aja, aku sampai kesakitan, pas tak cubit. Berarti ini bukan mimpi, aku pokoknya mau protes dengannya. Dia biar tahu, gimana rasanya sakit hati, rasanya dikecewakan." Gumam, Lina.
Sementara, Yusuf yang tidak sabar dengan balasan chat-nya. Langsung mencari nama, Lina untuk ditelpon.
Sementara, Lina di rumahnya sedang merasa emosi, gara-gara mau ngetik, Malah ada telepon.
"Ih, siapa lagi ini yang telepon?! Tidak tahu kalau, aku lagi mau bikin perhitungan apa?!" Oceh, Lina.
Ia tidak mengecek siapa nama yang telpon, ia langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang.
"Halo, maaf dengan siapa?" Tanya, Lina.
Sementara di tempat lain, Yusuf amat gembira, telponnya langsung diangkat. Walaupun suaranya jutek dan ketus, Yusuf tetap menyapa dengan manis.
"Halo, cantik masa lupa denganku, kamu jahat banget si. Padahal, aku kangen denganmu, kita sudah sekian lama tidak menghabiskan waktu bersama." Ujar, Yusuf.
"Kakak yang jahat! Pergi tanpa pamit! Sudah gitu tanpa kabar! Kalau sudah bosan itu mbok, ya bilang, kak! Kayanya di Singapura sudah ada yang baru, aku makanya dilupakan.!" Crocos, Lina di ujung telpon.
Yusuf semakin terheran-heran, Lina menuduh dirinya ke Singapura.
"Kok aneh banget si? Informasi palsu dari siapa ini? Aku padahal di rumah terus, loh, aku memang tidak sempat pegang hp si. Jangankan komonikasi sama, Lina, aku komonikasi sama teman-teman aja belum sempat." Gumam, Yusuf dalam hati.
Yusuf berkata-kata dalam hati, menelan informasi yang baru saja didengarnya. Lina di sebrang telpon semakin sewot, untungnya tidak melempar barang.
"Itu kan diam aja! Berarti benar sudah punya yang lain! Sudah sana pacaran sama orang Singapura!" Omel, Lina.
"Aku itu di rumah, tidak ke singapura." Kata, Yusuf.
"Sudahlah, kak jujur saja kalau ke Singapura!" Omel, Lina lagi.
"Aku di rumah kok, tidak ke Singapura..." Kata, Yusuf lagi.
Lina tetap ngotot meyakini kalau, Yusuf ada di Singapura.
"Kakak tidak usah banyak alasan, apa susahnya si? Tinggal ngaku aja kok repot! Bohong itu dosa, loh, kak!" Crocos, Lina lagi.
"Aku itu lagi banyak pekerjaan, makanya belum sempat..." Ucap, Yusuf.
"Sudahlah, kak tidak usah menyangkal terus! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri pas, kakak pergi ke bandara dengan taksi! Kakak pergi dengan tas tersampir di punggung!" Crocos, Lina, kalap.
"Aku itu di rumah, dari kemarin belum sempat menghubungimu. Pekerjaanku banyak banget, aku belum sempat pegang hp."
Jelas, Yusuf dengan sabar agar, Lina Bisa mengerti.
"Paling-paling yang, kakak katakan Hanya omong kosong! Semua itu bohong tidak ada nyatanya!"
"Beneran, cantik, aku itu di rumah lagi sibuk, tidak ada waktu untuk buka hp. Kamu tambah manis kalau lagi ngambek, membuatku semakin mencintaimu." Ucap, Yusuf.
"Sudahlah, kak! Tidak pakai modus segala! Paling, ya rayuan palsu! Mending rayuanmu untuk cewek yang di Singapura saja!"
Seru, Lina lalu mematikan sambungan telpon.
Sementara itu, Yusuf di rumahnya kembali menelpon. Namun, ditelpon berulang kali, Lina tetap saja tidak mau merespons.
"Ya sudah kalau marah, aku besok bakal buktikan. Kalau, aku tidak bohong, aku tidak ke Singapura. Aku besok bakal menghubungi, om Ayub untuk minta penjelasan, apa yang terjadi. Siapa tahu, Andre atau bang Sandi ke rumah, terus, mereka ngobrol sesuatu entah apa. Om Ayub kan kalau ngomong suka ceplas-ceplos seenaknya sendiri, sudah gitu kadang sama orang sok akrap." Batin, Yusuf.
Setelah itu, Yusuf merebahkan tubuhnya di kasur sambil kipas anginan.
"Istirahat dululah sebentar, aku nanti mau jual buah ke tempat, bu Rom." Gumam, Yusuf.
Belum ada 10 menit, Yusuf sudah mendengkur dengan nyaman.
Sedangkan di tempat lain, Lina sedang ngomel sendiri di kamar.
"Dasar orang jahat, sudah pergi tanpa pamit! Masih saja mengelak, apa susahnya jadi, orang jujur si!" Oceh, Lina.
Sementara, Sandi masih bekerja, belum pulang jadi, tidak menyaksikan, adiknya yang sedang marah. Sedangkan, pak Ahmad dan bu Ahmad tidak di rumah, sehingga, tidak mendengar, Lina yang sedang emosi.
Andre saat bermain facebbook, berkenalan dengan cewek, Ana namanya. Andre hatinya berbunga-bunga, bagaikan mendapat uang milyaran.
"Salam kenal, ya, ana." Kata, Andre.
"Iya, Andre salam kenal juga." Balas, Ana.
"Kamu aslinya orang mana?" Tanya, Andre.
"Aku orang Batang, lokasinya di pinggiran. Kalau, kak Andre aslinya mana?" Sambung, Ana.
"Aku orang Batang juga, tepatnya di Desa Pinggir Sawah." Jawab, Andre.
"Kok mirip nama Desanya temanku, ya?" Sambung, Ana.
Andre membalasnya dengan emoji tersenyum, sekaligus pamitan, Andre baterainya lobat. Andre berjanji, kalau ada waktu luang akan menghubungi, Ana lagi.
Tanpa terasa, siang berganti sore, matahari masih menyapa Bumi. Sementara itu, Yusuf mengangkut aneka buah-buahan ke penjual rujak, menggunakan gerobak.
"Permisi, bu! Baru buka, ya, bu? Kok masih sepi kaya gini?" Ucap, Yusuf.
"Tadi tutup sebentar, mas, tak tinggal belanja. Mas Yusuf mau beli berapa porsi? Kok sampai bawa gerobak kaya gitu?" Balas, bu Rom.
"Aku ingin menjual buah-buahan untuk bahan rujak, bukan mau beli apa-apa. Sampean barangkali bersedia membeli, tetapi kalau tidak mau, ya tidak apa-apa." Jelas, Yusuf.
"Ya sudah buahnya, aku beli semua. Aku jadi, banyak stok bahan rujak, terus bisa digunakan sampai besok sore." Kata, bu Rom.
Yusuf hatinya lega, buahnya sudah terjual semua. Tinggal menghubungi, paman Ayub, supaya tidak ada salah paham. Yusuf berniat membuka laptop, menulis novel sudah beberapa hari terbengkalai.
"Aku mau bikin novel, tanganku gatal sudah lama tidak menulis. Semoga bisa dapat satu bab, di sore ini. Lagi pula, om Ayub kalau sore kaya gini. Biasanya baru pulang dari sawah, terus habis itu mandi dan shalat." Gumam, Yusuf dalam hati.
Sementara itu, Sandi pulang kerja, rumah terasa sunyi.
"Lina betah banget si? Mengurung diri di kamar dari kemarin, apa tidak bosan? Sebenarnya apa yang sedang, Lina kerjakan si?" Pikir, Sandi.
Namun, Sandi tidak mendapat jawaban, semakin menumpuk rasa penasarannya.
Komentar
Posting Komentar