MENAKLUKKAN HATI WANITA 30

Sandi yang masih penasaran dengan apa yang dilakukan, Lina pun memanggil-manggil sambil mengetuk pintu kamar.


"Tok-tok!!!! Tok-tok!!!! Dik sini keluar!!!! Dik ayuk cepat keluar!!!! Kamu itu apa tidak bosan si? Kok mengurung diri di kamar terus?" Ucap, Sandi.

"Apa si, bang manggil-manggil!!!!" Kata, Lina.

"Abang bawa makanan enak, loh, bronies coklat kesukaanmu." Ucap, Sandi lagi.


Mendengar hal itu, lina langsung semangat, wajahnya berbinar-binar.


"Kalau ada bronies sih, aku mau banget. Pokoknya buat, aku semua, tidak ada yang boleh minta."


Kata, Lina sambil keluar dari kamar. Sandi hanya tersenyum, menyaksikan tingkah adiknya, yang seperti anak kecil. Sambil menyerahkan satu kotak bronies yang masih utuh, Iya sengaja memesan itu bronies, untuk saudaranya yang tersayang. Lina menerima makanan dengan gembira, Iya belum mau bercerita Apa yang dirasakan dalam hatinya.


"Dia biar senang dulu, kalau sudah puas menikmati makanan kesukaannya, Siapa tahu mau cerita. Apa yang, Lina lakukan dalam kamar, atau perasaan apa yang sedang, Lina sembunyikan." Batin, Sandi.


Sementara itu, Yusuf yang sudah sampai depan rumahnya, membatalkan niatnya menulis novel.


"Oh iya, aku kan mau membuktikan kalau aku ada di rumah. Sekarang ajalah, kalau menunggu besok kelamaan." Pikir, Yusuf.


Saking semangatnya, Yusuf tanpa sadar, bukannya menggunakan sepeda malah membawa gerobak kosong. Ia berjalan dengan sangat cepat, berharap agar cepat sampai di desa sebelah.


"Kalau, aku cuma ngomong-ngomong aja ditelepon seperti kemarin, Lina tidak akan percaya. Akan tetapi kalau, Lina, melihatku ada di hadapannya, dia pasti percaya kalau, aku ada di rumah." Pikir, Yusuf dengan pd.


Sementara di tempat lain, sandi bersantai di teras, sambil menikmati kopi. Tidak lupa menyalakan musik, untuk meramaikan suasana.


Sementara itu,Yusuf hatinya riang, Iya sudah sampai di desa sebelah dengan selamat.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga, aku pokoknya harus berhasil meyakinkan, Lina. Kalau, aku tidak pergi ke Singapura, aku hanya di rumah dan di toko, aku tidak pegang hp karena banyak kerjaan." Batin, Yusuf.


Walaupun tubuhnya sudah berkeringat, Yusuf tetap semangat.


Sedangkan, Sandi yang melihat dari kejauhan, sangat heran, Yusuf membawa gerobak kosong.


"Ngapain itu anak? Kok kurang kerjaan banget si? Kaya mau jualan, tetapi kok gerobaknya kosong." Batin, Sandi.


Sementara, Yusuf terus berjalan sampai di depan rumahnya, Lina dengan bahagia. Ia melihat, Sandi langsung memberikan senyuman. Sandi membalasnya dengan senyuman penuh ejekan membuat, Yusuf bertanya-tanya.


"Bang Sandi lagi kenapa si? Aku kasih senyum kok respons-nya tidak mengenakan gitu?"


Sandi yang melihat, Yusuf semakin mendekat ke arahnya pun bertanya.


"Suf, kamu habis jualan angin, ya?"

"Maksudnya gimana, bang?" Balas, Yusuf.


Rasa bingung tergambar jelas di wajahnya, seperti orang sedang tersesat.


"Kamu jalan sambil bawa gerobak kosong, ya berarti habis jualan angin, terus mampir ke sini. Kalau tidak jualan angin, ya harusnya itu gerobak ada isinya, tidak kosong kaya gitu." Jelas, Sandi, rasanya campur aduk. Malu, bingung, panik benar-benar bertahta di hati..


Yusuf baru sadar, ia salah tingkah.


"Itu anu, bang, aku tadi anu." Kata, Yusuf.


Sementara, Lina yang mendengar suara dari kejauhan, merasa tak asing dengan suara tersebut.


"Itu kaya ada, kak Yusuf benar atau tidak si? Apa jangan-jangan, aku yang salah dengar?" Gumam, Lina.


Setelah itu, Lina menyimpan kuenya, lalu duduk di kursi ruang tamu. Mendengar percakapan, Sandi dengan seseorang di teras.


Sandi masih menunggu ucapan, Yusuf yang salah tingkah.


"Kamu kalau cerita itu yang jelas! Dari tadi anu-anu tidak jelas!" Kata, Sandi.

"Aku tadi habis jual buah-buahan hasil panen dari kebun, aku ingatnya sudah menaruh gerobak. Aku pikir dari tadi itu mengayuh sepeda, bang bukan mendorong gerobak, loh." Ujar, Yusuf.

"Kamu itu lari sambil mendorong gerobak, bukan mengayuh sepeda. Untung halaman rumahku nyukup untuk tempat gerobak, jadi gerobakmu tidak tergeletak di jalanan." Balas, Sandi.


Yusuf yang masih salah tingkah, hanya senyum-senyum respons-nya.


Sedangkan, Lina yang penasaran tingkat dewa, mengintip dari sela tirai jendela.


"Postur tubuhnya mirip, suaranya juga mirip, kak Yusuf? Apa itu beneran, kak Yusuf? Aku harus ke teras, untuk membuktikan, itu sebenarnya siapa. Kalau, aku hanya berdiam diri di sini, aku tidak akan tahu jawabannya." Batin, Lina.


Sandi yang melihat, adiknya keluar langsung berkomentar.


"Cie cie dengar, Yusuf datang langsung keluar. Bagaikan kucing yang dipancing dengan ikan. Padahal tadi lagi makan kue di belakang, kamu pasti lari, ya ke sininya?"


Lina tak menghiraukan ucapan sang, kakak yang suka iseng.


"Ini yang datang beneran, kak Yusuf? Jadi, Kakak beneran ada di rumah? Bukan pergi ke Singapura seperti yang kudengar?" Tanya, Lina.

"Aku kan sudah bilang kalau tidak pergi kemana-mana, di rumah dan di toko lagi banyak pekerjaan. Kamu sih tidak mau mendengarkan penjelasanku, malah lebih percaya sama informasi palsu. Lagi pula itu informasi dari mana si?" Balas, Yusuf.

"Aku pas waktu itu di jalan, di dekat rumahmu. Aku pas waktu itu melihat, kamu pergi jauh naik taksi, jadi, aku pikir, kamu ke Singapura." Jelas, Lina.


Yusuf malah melamun, membayangkan sosok yang, Lina jelaskan.


"Nah, kan benar pelakunya, om Ayub, awas aja itu orang. Sudah menyebarkan gosip yang tidak benar, aku nanti bakalan protes ditelepon." Batin, Yusuf.

"Kok malah melamun si, kak?" Kata, Lina.

"Aku senang aja, bisa berjumpa denganmu lagi. Aku juga senang banget, kamu sudah percaya padaku kalau, aku tidak pergi. Itu yang kemarin naik taksi, omku mau pulang kampung bukan pergi ke Singapura, dia memang mirip banget denganku." Ungkap, Yusuf.

"Masa si, kak?" Imbuh, Lina.

"Iya benar, aku sama Om ku itu bagaikan pinang dibelah dua. Bedanya, dia kalau ngomong suka coblos-ceplos, makanya lain kali kalau ketemu, pasti ajak ngobrol jangan diambil hati." Ungkap, Yusuf sambil bangkit.


Lina hanya mengangguk mengiyakan sambil tersenyum. Yusuf pun pamitan karena waktu sudah sore. Saat salaman, Sandi sambil berucap.


"Kalau jalan hati-hati jangan sampai tersesat, itu kerupuk Jangan dianggap sepeda lagi, ya."


Itupun mengangguk Dan tersenyum, terlalu dari rumah pujaan hatinya dengan hati yang lega.


Sang dewi malam telah hadir untuk menggantikan sang raja siang,, udara malam hari itu terasa sangat sejuk. Sementara itu, di desa Pinggir Sungai, Yusuf menghubungi pamannya. Tulisannya berdering bukan memanggil, Yusuf sangat senang.


"Halo, Suf Ada apa malam-malam seperti ini menelpon?" Sapa, Ayub disambungan telepon. 

Komentar