Mendengar suara, Ayub di ujung telepon, Yusuf langsung semangat 45. Suaranya pun terasa mengandung amarah, pamannya dilabrak habis-habisan.
"Om itu apa-apaan! Menyebarkan gosip yang tidak ada nyatanya! Semprot, Yusuf.
"Maksudnya si gimana, Suf?" Tanya, Ayub.
"Sudahlah, Om tidak usah pura-pura! Om memang jahat banget kok! Menyebarkan gosip yang tidak ada nyatanya itu, jatuhnya fitnah, loh, om!" Seru, Yusuf.
"Coba jelaskan dulu apa maksudmu! Aku bukan pura-pura, aku tidak bakalan paham sampai kapanpun kalau, kamu hanya marah-marah dan tidak mau menjelaskan." Balas, Ayub di ujung telepon.
"Kenapa, Om bilang kalau, aku ke Singapura?! Aku Padahal di rumah lagi sibuk, tidak pergi ke mana-mana sama sekali! Om tahu kan kalau pas waktu itu, Ayah memerintahku untuk melakukan banyak hal?" Kata, Yusuf dengan ketus.
"Aku sebenarnya tidak bermaksud memfitnahmu, waktu itu niatnya hanya bercanda. Andre kan datang ke rumah pagi-pagi, Aku bingung mau ngapain saat itu, ya sudah, Andre tak ajak ngobrol. Aku memang pas waktu itu iseng-iseng bilang mau ke Singapura, aku padahal habis dari tempatmu akan pulang ke kampung. Maaf, aku tidak bermaksud mengfitnahmu, Kamu kan tahu kalau diriku suka bercanda." Ucap, Ayub.
"Bercanda sih boleh bercanda, om, tetapi jangan berlebihan. Takutnya orang-orang menganggapnya serius, loh, om terus habis itu terjadi salah paham. Oke, aku maafkan kali ini, tetapi ada syaratnya." Tandas, Yusuf.
Ayub di ujung telepon menjawab dengan semangat, hatinya lega kesalahannya sudah dimaafkan.
"Apa syaratnya, Suf?" Tanya, Ayub.
"Om harus bikin klarifikasi, kalau yang kemarin menyebarkan berita ke Singapura adalah, Om sendiri bukan, aku gitu." Balas, Yusuf.
"Oke, akan, aku usahakan, kamu jangan khawatir." Kata, Ayub.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya besok pagi, om harus membuktikannya." Balas, Yusuf lagi.
Setelah itu, Yusuf mematikan telepon, Iya sedang tidak ingin bercanda, dari raut wajahnya saja sudah terlihat sangat serius.
Sementara itu, Lina sedamg duduk di sofa bareng, Sandi di temani nyannyian kodok dan jangkrik.
"Suara binatang malam sangat ramai, ya, bang?" Ucap, Lina.
"Iya, mereka itu sedang bercerita makanya ramai. Tidak seperti, kamu yang marah terus dari kemarin." Balas, Sandi.
"Abang ini apaan si, jawabnya malah ke mana-mana." Ucap, Lina lagi.
Sandi tidak peduli, adiknya sebal dengan sindirannya. Sandi pun bertanya tentang ke Singapura, yang tidak ada nyatanya.
"Kok bisa-bisanya si? Orang yang di rumah sedang banyak kesibukan, dikira ke Singapura? Gimana ceritanya si, dik? Sudah gitu, ternyata yang pergi, pamannya bukan, Yusuf?" Ujar, Sandi.
"Jadi, gini ceritanya, aku siang-siang sedang nonton TV. Kak Andre tiba-tiba datang, ia mengayuh sepeda sangat kencang, napasnya pun sudah senin kamis. Ia mengabarkan kalau, kak Yusuf ke Singapura. Aku pagi-paginya minta diantar ke Desa sebelah, aku dan kak Andre sampai di sana. Ada orang naik taksi, ia benar-benar mirip, kak Yusuf tidak ada bedanya. Yang membuatku tambah yakin, Yusuf dari kemarin-kemarin tidak bisa dihubungi." Ungkap, Lina.
"Andre kan sudah kenal, Yusuf sudah lama. Masa si sama, pamannya tidak kenal?" Sahut, Sandi.
"Emangnya, aku cenayang apa, aku tanya-tanya yang aneh-aneh sama, kak Andre aja tidak. Ya, aku tidak tahulah, dia kenal sama keluarganya, kak Yusuf atau tidak." Kata, Lina sambil cemberut.
Sandi hanya tertawa, menyaksikan tingkah adiknya.
"Kalau cemberut terus, bisa cepat tua, loh, dik." Ledek, Sandi.
"Abang ini sok tahu, aku masih muda, ya dibilang sudah tua." Sungut, Lina.
Sandi tertawanya semakin puas, sampai air matanya keluar, serasa tanpa dosa.
Sementara, Andre sedang ngobrol dengan, Ana lewat facebook.
"Aku minta nomormu dong, An! Masa si, iya, kita kenal lama, belum tukaran nomor." Kata, Andre.
Ana pun mengiyakan, lalu mengirimi nomor hp.
"Terima kasih, ya, Ana sudah mau tukaran nomor. Ini nomorku, silakan disimpan! Kalau, aku pas ada waktu senggang, kamu tak telpon biar tidak bingung. Kalau belum punya nomorku, kamu tak telpon pasti bingung setengah mati." Tulis, Andre.
"Kak Andre itu bisa aja, tenang aja nomornya pasti tak simpan. Oh iya, kak Andre kesibukannya apa?" Balas, Ana.
"Kesibukanku nyanyi di cave, ini bentar lagi mau berangkat." Jawab, Andre.
"Yang semangat, ya, kak kalau butuh teman curhat, Ana siap mendengarkan." Imbuh, Ana.
Andre mengiyakan sambil pamitan, ia sudah saatnya berangkat ke cave. Andre belum sempat ngobrol dengan para sahabatnya, Sandi kalau siang kerja, ia kalau siang nyantai. Sedangkan kalau malam sebaliknya, ia yang bekerja, Sandi yang bersantai di rumah. Andre masih menganggap, Yusuf ada di Singapura. Andre tidak tahu, Yusuf berkunjung ke tempat, Lina dengan gerobak kosong. Andre berangkat ke cave sambiil tersenyum, seperti mendapat penyemangat dari syurga.
Sementara itu di tempat lain, Yusuf membuka laptop, mulai menulis novel. Bu Parno yang melihat dari kejauhan, mendekat dan bertanya dengan lembut.
"Kamu kalau malam kok nulis terus si, nak? Apa tidak main si, nak? Terus dapat calonnya kapan?"
"Calon si sudah ada, bu ini masih dalam pdkt atau pendekatan, doakan, ya, bu supaya berhasil." Kata, Yusuf.
"Seorang, ibu mendoakan buah hatinya itu sudah pasti, tanpa diminta." Sahut, bu Parno.
Setelah itu, bu Parno berlalu dari kamar, Yusuf tidak lupa menutup pintunya. Yusuf menulis dengan semangat, tanpa terasa dapat 3 BAB. Ingin lanjut satu bab lagi, matanya sudah tidak kuat serasa tinggal 5 watt. Yusuf pergi ke alam mimpi, berharap hari esok lebih indah dari pada hari ini.
Sedangkan, Andre baru pulang Dari cave pukul 23.00, ia langsung cuci kaki, cuci tangan, sikat gigi, terus tidur. Ia tidak sempat buka hp, walaupun banyak pesan yang masuk.
Semua orang tertidur dengan nyaman, hanya ada satpam yang sesekali berpatroli, agar Desanya terasa aman.
Yusuf terbangun sekitar pukul 04.00 pagi, Iya mandi dan bersiap untuk melaksanakan ibadah salat subuh. Yusuf usai melaksanakan salat subuh menghubungi, pamannya yang jauh berada di kampung Pinggir Gunung.
"Jangan lupa klarifikasinya, ya, Om!" Serunya.
"Iya sabar, tunggu sebentar lagi. Aku sudah siap untuk membuktikannya, tidak sampai 5 jam sudah sampai." Kata, Ayub.
Yusuf tersenyum puas,, rasa kesalnya akan terbalas oleh bukti. Bahwa, dirinya tidak pergi ke mana-mana, dirinya juga tidak pergi ke luar negeri.
Sementara itu, Lina membantu orangtuanya bersih-bersih rumah, sambil mendengarkan lagu-lagu pop tentang percintaan.
"Cie cie yang hatinya sedang bahagia! Bersih-bersihnya semangat banget!" Ledek, Sandi.
Lina tidak menanggapi sedikitpun, ia tidak heran, abangnya memang suka iseng padanya. Lina bersih-bersih dengan fokus agar cepat selesai, ia berniat sehabis bersih-bersih, akan sarapan, lalu membaca dan menulis.
Sementara, Yusuf sedang emosi tingkat dewa, pamannya mengirim bukti klarifikasi melalui video.
"Aku maunya, omdatang ke sini untuk membuktikan! Bukannya mengirim video seperti ini, kalau kayak gini sih dikiranya, aku yang mengarang cerita! Aku tunggu sampai nanti sore pokoknya! Aku tidak mau tahu, gimana caranya om harus datang ke sini!" Tulis, Yusuf.
Ayub hanya mengiyakan saja kata keponakannya, sambil mengirimkan emoji tersenyum. Yusufberniat kalau, ayub tidak nongol rumahnya nanti sore, Ayub akan dijemput paksa. Yusuf yang akan menjemputnya menggunakan sepeda, walaupun dari rumah ke desa pinggir gunung lumayan jauh.
Komentar
Posting Komentar