Yusuf selesai sarapan, ia berangkat ke toko bersama kedua orang tuanya. Sesampainya di toko, ia berbincang dengan, pak Parno.
"Ini tidak ada tugas yang berat, ayah?" Tanya, Yusuf.
"Tidak ada tugas berat untukmu, kamu hanya mengawasi saja. Semuanya yang mengurusi biar, Yanti dan Yanto, ibumu yang dibagian kasir. Kamu boleh nyambi kok, mau telponan mau chat-an terserah, yang penting tokonya diawasi. Barangkali ada barang yang datang soalnya, kita barangnya sudah banyak yang habis, kamu nanti tak suruh angkat ke dalam, sudah gitu aja si." Jawab, pak Parno.
"Terus yang nata barangnya siapa?" Tanya, Yusuf.
"Yanto yang nata barangnya, ini belum ada tugas berat yang menantimu." Jawab, pak Parno lagi.
Yusuf mengangguk mengiyakan sambil tersenyum, dalam hatinya berkata.
"Wah, asyik ni, aku bisa sambil ganggu, Lina pasti seru.*"
Sementara itu, Lina di tempat lain masih sarapan dengan nikmat. Sandi yang mengetahui, adiknya sedang makan dengan khusuk. Isengnya pun kambuh, Ia pun berkata sambil senyum-senyum.
"Kok tumben makanya serius banget, dik? Kamu sedang memikirkan apa sih? Pasti sedang memikirkan pacarnya, ya?"
"Abang ini apaan si! Jangan nakal si!" Kata, Lina.
Sandi hanya tertawa, adiknya protes, malah tangannya beraksi, Lina lauknya mau diambil.
"Abang itu ayam gorengku jangan diambil! Orang sudah dapat jatah sendiri, punya orang mau diambil!"
Gerutu, Lina sambil menyingkirkan tangan, Sandi dari piringnya. Pak Ahmad dan Bu Ahmad hanya menyaksikan pertengkaran, mereka yang tidak pernah akur bila sedang bersama. Selesai sarapan, Sanndi dan kedua orang tuanya berangkat kerja, Lina di rumah sendirian. Lina menyalakan laptop, lalu menulis puisi tentang alam.
Sungai yang jernih membuatku nyaman saat menatapnya,
Sungai yang mengalir dengan tenang membuat hatiku gembira,
Sungai yang sejuk membuatku terpesona dengan keindahannya.
Sedangkan di tempat lain, Yusuf membuka hp, mengirim pesan untuk, Lina.
"Halo, cantik, kamu lagi apa? Kamu sudah sarapan atau belum?" Ujar, Yusuf.
Sementara, Lina yang baru menulis, mendengar hp-nya bunyi, ia menggerutu sambil mematikan laptop.
"Siapa si yang chat? Ganggu aja, tidak tahu kalau, aku lagi sibuk apa si? Untungnya, aku sudah selesai nulis, awas aja kalau yang chat nomor iseng, yang tidak dikenal!"
Lina membuka hp, memastikan apa pesannya. Lina terkejut, Yusuf yang ternyata kirim chat.
"Kak Yusuf?! Dia bukannya kalau pagi ada di toko?" Tanya, Lina pada diri sendiri.
Lina langsung membalasnya, walaupun isinya hanya kalimat singkat.
"Aku sudah makan, ini lagi nulis puisi." Balas, Lina.
Sementara itu, Yusuf di toko hatinya berbunga-bunga, Lina sudah merespons chat-nya.
"Puisi untukku, ya, cantik? Pasti puisi romantis, ya?" Ujar, Yusuf lagi.
"Kakak kok pd banget si, itu puisi untukku sendiri. Kakak kalau ingin punya puisi, ya bikin sendiri." Balas, Lina lagi.
"Ya sudah kalau tidak mau bikin puisi untukku, aku nanti kalau ke situ dibacakan puisinya." Kata, Yusuf.
"Aku tetap tidak mau, kakak pokoknya harus bikin puisi sendiri dan di baca sendiri." Sahut, Lina.
Setelah itu, Lina meletakan hp, ia tahu kalau debat dengan, Yusuf tidak ada habisnya. Lina membaca salah satu novel miliknya, ia tidak menghiraukan hp-nya lagi.
Sementara di desa sebelah, Yusuf membaca pesan dari, Lina sambil senyum-senyum, hatinya merasa puas. Ia belum merespons pesan, Lina lagi, karena barang-barang sudah datang.
"Waduh, isinya sabun semua, akku pikir itu makanan." Batin, Yusuf.
Ia mengangkatnya ke dalam toko, yang datang ada 20 kardus, isinya ada sabun mandi sampai sabun cuci. Yusuf kembali nengirim chat ke, Lina sayangnya tidak dibuka. Yusuf mencoba telpon, tetapi tidak diangkat.
"Ini orang ke mana si? Masa si, ada hp bunyi tidak dengar?" Gumam, Yusuf.
Namun, Yusuf tidak mendapat jawaban, pertanyaannya terbang terbawa angin.
Tanpa terasa sudah memasuki waktu dhuhur, matahari terasa sangat panas. Semua orang menjalankan kewajibannya, baik itu shalat di rumah ataupun di masjid.
Lina melaksanakan shalat di rumah, ia sedang malas ke masjid.
"Ayah, ibu dan bang Sandi kalau siang tidak pulang, mereka makan dan shalat di sana. Aku shalat sendiri deh padahal kalau ada, mereka kan bisa berjamaah walaupun di rumah." Pikir, Lina sambil melipat mukena.
Sementara itu, Yusuf dan keluarganya shalat dhuhur di masjid, tokonya ditutup sebentar. Usai shalat, Yusuf izin pada orang tuanya, untuk pulang lebih awal.
"Ayah kayaknya, aku tidak bisa di toko sampai sore. Aku nanti jam 14.00 atau 14.30 pulang duluan, boleh kan, ayah?" Ucap, Yusuf.
"Kok tumben, kamu pulang duluan? Kamu memangnya mau ke mana atau Ada perlu apa?" Sambung, pak Parno.
"Aku mau nunggu, Om Ayub datang, iya siapa tahu hari ini beneran mau bertemu denganku." Ucap, Yusuf lagi.
"Bukannya, Ayub baru datang beberapa hari yang lalu? Dia biasanya datang sebulan sekali, loh? Ada apa ini belum ada seminggu, dia sudah mau datang?" Sambung, pak Parno lagi.
"Sesungguhnya, aku yang menyuruh, om Ayub datang kemari. Mau tak suruh klarifikasi, aku soalnya dibilang ke Singapura padahal ada di rumah. Kalau, Om Ayu klarifikasi lewat video,, aku dikiranya bikin bukti bohongan, bukan bukti secara nyata. Makanya tak suruh datang, biar semua orang tahu kalau, aku tidak pergi ke luar negeri sedikit pun, kemarin banyak kesibukan di rumah." Jelas, Yusuf.
Pak parno mengangguk-ngangguk paham, lalu mengizinkan anaknya untuk pulang lebih awal,, yaitu jam 14.00 siang.
"Pamanmu emang seperti itu, parah banget kalau isengnya lagi kambuh. Dia kalau bicara cepat-ceplos, Ayah aja dulu pernah dibilang ke Malaysia. Ayah padahal sedang ada di rumah dan akan pergi ke sawah. Kalau, pamanmu datang Jangan ribut, loh! Permasalahannya dibicarakan secara baik-baik aja, jangan sampai bertengkar!" Kata, pak Parno.
Yusuf hanya manggut-manggut, menghilangkan pesan orang tuanya.
Sementara itu ,Ayub yang jauh berada di desa pinggir gunung, sedang menuju ke kampung halaman ponakannya dengan sepeda motor. Iya tidak lupa mengisi bahan bakar, agar motornya tidak mogok di jalan.
Sedangkan di tempat lain, Lina membuka hp-nya, iya penasaran siapa tahu ada pesan atau telepon. Saat ada panggilan tak terjawab dari, Yusuf serta satu pesan belum dibaca. Lina langsung menghubungi, Yusuf melalui telepon, ia merasa kalau lewat chat akan lama.
Sementara, Yusuf di desa sebelah perasaannya sangat gembira, Lina mau menghubungi dirinya. Yusuf langsung mengangkatnya dengan ceria, bagaikan mendapat makanan kesukaan.
"Halo, cantik, kamu menelponku pasti sudah rindu denganku, ya?" Sapa, Yusuf.
"Eh, enak aja, aku itu cuma ingin bertanya. Tadi ada apa telepon?" Balas, Lina.
"Tidak ada apa-apa sih, aku cuma ingin ngobrol denganmu. Ya sudah orang, kamu tidak mau mengangkat teleponku. lagipula, kamu tadi menghilang ke mana?" Crocos, Yusuf.
"Aku tadi baca novel, tidak buka HP jadi, tidak tahu kalau ada telepon."
Kata, Lina dengan enteng, tanpa rasa bersalah. Mereka ngobrol tentang banyak hal, sampai tidak terasa waktu menunjukkan pukul 14.00, Yusuf mengakhiri telepon. Iya langsung bergegas ke rumah, pamannya Siapa tahu sudah datang.
Komentar
Posting Komentar