Yusuf sampai di rumah dengan langkah penuh semangat, ia membuka pintu, menaruh tasnya, lalu langsung duduk di ruang tamu sambil celingukan.
"Om Ayub belum datang?" gumamnya sambil melirik jam dinding.
Ia berdiri, berjalan ke dapur, lalu ke halaman depan, terus balik lagi ke ruang tamu, Yusuf sampai beberapa kali mundar-mandir bagaikan gasing, yang ditunggu belum nongol juga. Yusuf memutuskan untuk telpon, Andre sambil menunggu, pamannya datamg. Ia perasaannya deg-degan membayangkan, Andre reaksinya gimana saat di telpon.
Sementara di tempat lain, Andre hp-nya bunyi dengan nyaring, Andre terheran-heran sambil membuka hp. Nama, Yusuf terpampang di layar hp, Andre mengangkat telpon dengan rasa emosi.
"Halo, tumben banget telpon? Ada angin apa ini?" Tanya, Andre.
Sementara itu, Yusuf perasaannya senang, sahabatnya langsung mengangkat telpon.
"Hai, Andre apa kabar? Aku telpon bukan dibawa angin, tetapi karena merindukanmu. Aku sudah lama tidak berjumpa denganmu, aku nanti sore mau berkunjung ke rumahmu." Ucap, Yusuf.
"Kamu jahat padaku, selama di Singapura tidak pernah menghubungiku! Jangan-jangan kangenmu itu pura-pura, kamu menghubungiku karena ada maunya! Aku tidak salah dengar ini? Kamu mau ke tempatku?" Selidik, Andre.
"Nah, itu dia, kedatanganku ke tempatmu salah satunya mau klarivikasi tentang ke Singapura. Ya kangen sungguhanlah, masa si, iya sama sahabat sendiri kangen bohongan." Ucap, Yusuf lagi.
"Ok, Suf tak tunggu kedatanganmu, aku harap, pamanmu ikut ke sini juga. Aku nyesal sudah salah paham, Lina juga sudah tak kasih tahu isumu ke Singapura." Balas, Andre di ujung telpon.
Yusuf menutup telpon, hatinya merasa lega, sahabatnya sudah mau memahaminya. Lima menit kemudian, suara motor terdengar dari luar, sangat nyaring suaranya.
"Brmmm…! brmmm…!"
Yusuf langsung berdiri tegak, ia bersorak dalam hati.
"Nah, itu pasti, Om Ayub! Hore, dia menepati janjinya untuk menemuiku!"
Pintu dibuka, dan benar saja—sosok pria dengan kaus oblong, celana jeans, dan senyum sok akrab khasnya masuk sambil membawa tas belanjaan.
"Woy, ponakan favorit! Mana nih yang katanya mau klarifikasi internasional?" sapa Ayub sambil nyengir.
Yusuf langsung menyambut dengan semangat, bagaikan mendapat sekarung beras.
"Wah, untungnya datang, kalau tidak datang, bakal tak jemput, om! Ini penting banget, Om! Kemarin, aku dikira ke Singapura gara-gara, Om!" Ujar, Yusuf.
Ayub tertawa keras, tawanya benar-benar serasa tanpa dosa.
"Hahaha! Masa sih? Kok bisa? Aku cuma bilang mau balik kampung, terus ada urusan luar negeri dikit…"
"Dikit apaan! Andre dengar, Om ngomong gitu, dia terus bilang ke, Lina kalau, aku ke Singapura! Aku dituduh ninggalin, dia tanpa pamit! Dia sampai ngambek yang sangat parah!"
Ayub mengangkat tangan, ia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Waduh,… kok bisa sampai ngambek? Itu sih bukan salahku, itu salahmu yang tidak ngecas HP!"
Yusuf melotot, ia tidak mau disalahkan, ia yakin semua itu salah, Ayub yang ngomongnya suka ngacau.
"Om! Jangan lempar kesalahan! Ini semua karena, Om mirip banget denganku! Bahkan, Lina aja tidak sadar kalau itu bukan diriku!"
Ayub menyeringai, ia sadar kalau dirinya dengan keponakannya bagai pinang dibelah dua.
"Ya itu bukan salahku dong, salah genetik, salah Tuhan." Kata, Ayub dengan enteng.
Yusuf menghela napas panjang, ia bingung harus berucap apalagi.
"Om, tolong bantu, aku klarivikasi! Bukannya ngasih jawaban yang bikin kesal, om! Aku pengin semua orang tahu kalau, aku tidak ke mana-mana! Aku cuma di warung, sibuk, lupa ngecas HP, dan tidak ninggalin siapa-siapa!"
Ayub mengangguk, ia akan membantu keponakannya, agar tidak dituduh ke Singapura.
"Oke-oke, aku akan bantu, tetapi ada syaratnya."
Yusuf curiga dengan, pamannya yang suka jail.
"Syarat apa?"
"Tolong, aku dibelikan es kelapa muda dua bungkus. Satu pakai gula aren, satu pakai susu kental manis. Terus, aku mau kerupuk kulit yang kriuk. Baru, aku mau klarivikasi, aku yang waktu itu mengwrang cerita ke Singapura."
Yusuf menatap, Om Ayub dengan ekspresi setengah hidup, omnya seperti orang kelaparan.
"Om… ini klarivikasi, bukan traktiran ulang tahun." Apa jangan-jangan, om sedang melakukan pemerasan?"
Ayub nyengir, ia memang sedang kelaparan, habis cari rumput, langsung ke tempat keponakannya.
"Ya kan biar semangat, klarivikasi harus pakai tenaga."
Yusuf akhirnya menyerah memenuhi keinginan, pamannya yang terkadang membuat sebal.
"Ya sudah, tetapi habis itu, Om harus ngomong langsung ke, Andre dan Lina! Jangan pakai gaya sok misterius lagi!"
Ayub mengacungkan jempol, meyakinkan ucapannya tidak misterius atau iseng lagi.
"Siap, bos!"
Sementara itu, di rumah, Lina baru selesai mandi,, ia masih duduk di kamar sambil menatap layar ponsel. Barangkali, Yusuf akan menghubungi dirinya untuk sekedar ngobrol atau cerita soal, pamannya yang dari plosok Desa. Tiba-tiba, Andre baru saja mengirim pesan, padahal bisa dibicarakan langsung orang rumahnya dekat.
"Lin, Yusuf katanya sudah pulang dari toko, Dia nunggu, pamannya buat klarivikasi supaya semuanya jelas. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, Yusuf selama ini ada di rumah ternyata."
Lina membalas cepat, ia pura-pura tidak tahu, Lina sesungguhnya sudah ketemu, Yusuf duluan.
"Klarivikasi apaan? Emang, dia pikir ini acara gosip?"
Andre membalas sambil senyum-senyum.
"Ya biar, kamu tidak ngambek lagi, dia bilang tidak ke Singapura itu, pamannya yang iseng tidak jelas."
Lina mengetik dengan cepat, masih pura-pura tidak tahu.
"Aku tahu itu, pamannya, tetapi kenapa mirip banget sih?! Aku sampe pengen lempar sandal!"
Andre merespon lagi, ia memang sedang malas keluar, Lina makanya diajak chat-,an.
"Ya jangan lempar sandal, lempar cinta aja."
Lina menjawab, ditambahi emoji tertawa.
"Dre, aku serius."
Andre merespoms lagi.
"Aku juga, Yusuf tuh panik banget, dia sampe nyuruh, pamannya datang langsung. Katanya biar, kamu percaya kalau, dia tidak bohong."
Lina mendesah, ia tahu kalau, Yusuf orang yang gigih, kalau sedang menginginkan sesuatu.
"Ya sudah, aku tunggu klarivikasinya, tetapi kalau, pamannya datang pakai gaya sok akrab lagi, aku pura-pura jadi, patung aja."
Sore itu, Yusuf dan Ayub sudah duduk di ruang tamu rumah, Andre. Lina datang dengan ekspresi datar, duduk di kursi paling ujung.
Ayub langsung berdiri, membuka tangan lebar-lebar, ia wajahnya terlihat serius.
"Lina! Kamu cantik banget hari ini! Mirip artis Korea!"
Lina menatap tajam.
"Aku patung."
Yusuf menahan tawa, mendengar ucapan kekasihnya. Andre sudah geleng-geleng kepala, mau klarivikasi masih sempat bercanda.
Ayub duduk pelan-pelan, lalu mulai berbicara serius.
"Oke, oke, aku serius. Aku pamannya, Yusuf kemarin tidak ada yang ke Singapura. Aku yang bilang mau ke Singapura, tetapi itu, aku bukan teman kalian yang bernama, Yusuf. Yusuf tidak ke mana-mana, dia di toko sibuk banget. Lupa ngecas HP, dia istirahat aja hanya sebentar."
Lina menatap, Yusuf bertanya dengan iseng.
"Kamu yakin tidak bohong?"
Yusuf mengangguk cepat, sambil tersenyum.
"Sumpah demi es kelapa muda."
Lina menatap, Ayub dengan penasaran.
"Om, lain kali kalau mau sok mirip, pakai papan nama. Biar tidak bikin orang bingung, sebel dan ngambek."
Ayub tertawa, seperti sedang nonton komedi.
"Siap, Nona Patung."
Lina akhirnya tersenyum tipis, seolah tertawa yang ditahan.
"Ya sudah, aku maafkan, tetapi jangan ulangi lagi. Aku tidak mau ngambek gara-gara HP mati lagi."
Yusuf tersenyum lega, permasalahannya sudah teratasi.
"Mulai sekarang, aku bawa powerbank dua. Satu buat HP, satu buat hati."
Andre tepuk tangan, kaya sedang nonton pertunjukan.
"Akhirnya… drama Singapura selesai!"
Ayub berdiri, misinya memperbaiki ucapan ke Singapura selesai.
"Oke, sekarang mana es kelapa muda dan kerupuk kulitnya?"
Yusuf langsung berdiri, lalu pamit pada, Lina dan Andre.
"Om, itu bagian paling berat dari klarivikasi. Ya sudah, aku pamit dulu! Dari pada, om Ayub nanti ngambek."
Mendengar perkataan, Yusuf semua pun tertawa. Walau menyebalkan, walau bikin pusing, tetapi hari itu berakhir dengan tawa dan satu pelajaran penting: jangan pernah remehkan kekuatan HP yang lupa di-charge.
Komentar
Posting Komentar