Yusuf, Ayub, Lina dan Andre masih berkumpul, belum ada yang pergi. Walaupun, Yusuf sudah pamitan, Yusuf kembali berucap dengan serius.
"Aku pulang dulu, ya! Omku takutnya bakalan nangis, kalau tidak dituruti keinginannya. Soalnya, aku sudah janji, mau membelikan es kelapa muda dan kerupuk kulit."
"Emangnya mau beli es kelapa dan kerupuk di mana si?" Tanya, Lina.
"Aku belum tahu si, ini mau nyari. Siapa tahu di jalan ada warung yang jualan es kelapa muda. Kenapa, kamu ingin ikut?" Balas, Yusuf.
"Sebenarnya si pingin, kayanya enak banget menikmati es kelapa muda rasanya segar banget. Sayangnya, kalian belum tahu mau beli di mana, aku kalau mau ikut, ya bingung juga si." Kata, Lina.
"Itu, loh ada penjual es kelapa terdekat, malah bisa datang dengan jalan kaki. Lokasinya tidak jauh, dari sini lurus ke timur, terus belok kanan, langsung ketemu warungnya." Sambung, Andre.
"Ya sudah kalau gitu, aku tidak bingung nyari warungnya lagi. Soalnya yang biasanya jualan es kelapa muda di Desaku sedang tutup, aku tadi sudah nyoba mampir ke sana. Ayuk, kita segera berangkat! Andre juga ikut, biar ramai! Kalau kelamaan, takutnya itu warung keburu tutup." Crocos, Yusuf.
"Tolong tunggu, aku, ya! Aku mau ambil uang dulu sebentar!" Ujar, Lina.
"Sudah tidak usah ambil uang! Ayuk langsung berangkat aja!" Tandas, Yusuf.
"Yang benar aja, kak! Masa si, iya, aku ngutang! Aku ke sini tidak bawa uang sama sekali, loh, kak!" Gerutu, Lina.
"Sudah jangan khawatir, kamu tidak bakal hutang." Bisik, Yusuf.
Lina bingung dengan ucapan, Yusuf, ia tidak membawa uang, bisa menikmati es kelapa. Sudah gitu tidak hutang, masa si, iya, Lina mau menikmati es kelapa dengan cuma-cuma.
"Sudah tidak usah melamun! Ayuk, berangkat ke warung!"
Kata, Yusuf sambil menyentuh pundak menyadarkan, Lina dari lamunannya.
Mereka pun berangkat ke warung dengan raut wajah yang bahagia, pepohonan yang menyaksikan langkah, mereka pun memberi senyuman. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh penjualnya.
"Silakan, mas, mbak, mau pada beli apa?"
Tanya, bu Siti dengan ramah, sambil membawa buku menu.
"Aku es kelapa orijinal dan kerupuk pasir." Kata, Lina.
"Aku es campur dan kripik singkong." Kata, Andre.
"Aku es buah dan kerupuk pasir, terus untuk yang di sebelahkku es kelapa dua dan kerupuk kulit. Es kelapanya yang satu pakai gula aren, yang satu pakai susu kental manis." Kata, Yusuf sambil menyenggol, Ayub.
Bu Siti mencatat semua pesanan dengan teliti, agar tidak ada yang kelewat.
"Tunggu, ya tak buatkan dulu esnya. Ini yang kerupuk kulit ada di toples besar warna merah, kerupuk pasir ada di toples besar warna biru. Untuk kripik singkong ada di toples besar warna hijau, pilus pedas juga ada.".
Kata, bu Siti lalu berjalan ke belakang.
Mereka sambil ngemil membahas berbagai hal, salah satunya membahas bulan Agustus.
"Wah, bulan ini ada momen yang sangat bersejarah, ya." Ucap, Lina.
"Memangnya momen apa yang bersejarah?" Tanya, Yusuf.
"Ya pastinya hari kemerdekaan Indonesia, yang biasanya diperingati setiap tahun, ya itu setiap tanggal 17." Balas, Lina.
"Kok belum ada pengumuman untuk upacara, ya? Bukannya ini sudah tanggal 16 Agustus?" Imbuh, Andre.
"Ya siapa tahu bakal diumumkan besok, pas satu jam sebelum upacara, lagipula kan lapangan yang buat upacaranya dekat. Nyatanya aja, kita berkumpul dari tadi tidak ada pengumuman apa-apa." Jelas, Lina.
"Ya tunggu aja, siapa tahu nanti malam ada info tentang upacara, tidak mungkin kalau tidak ada upacara. Jalannya aja sudah bagus banget, warnanya merah putih kaya warna bendera. Bendera juga pada berkibar di berbagai tempat, benar-benar pemandangan yang sangat indah." Tambah, Yusuf.
Mereka mengangguk mengiyakan ucapan, Yusuf yang dirasa ada benarnya.
Bu Siti tiba-tiba datang dengan nampan di tangan, membawa es yang dipesan.
"Mas-mas, mbak silakan dinikmati!"
Mereka mengangguk serempak, sambil menerima esnya masing-masing. Mereka benar-benar menikmati, seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak minum es.
Waktu semakin sore, mereka sudah selesai minum es. Mereka pun pamit pada, Bu Siti,, Yusuf yang membayar semuanya.
Kak Yusuf terima kasih, ya sudah mentraktir, kita sore ini." Kata, Lina.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, yang penting, kita sore ini bisa menghabiskan waktu bersama." Jawab, Yusuf.
Di depan rumah, Andre, mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing.
"Siapa yang mau nyetir motor, om?" Tanya, Yusuf.
"Aku yang nyetir motor, kamu tinggal duduk manis sambil menikmati perjalanan." Jawab, Ayub.
Yusuf pun menurut apa kata, pamannya, lalu naik ke atas motor.
Sementara itu, Sandi sedang bingung, adik kesayangannya tidak ada di rumah, ayah dan ibunya juga tidak ada. Lina setelah melepas sandal, menyapa, Sandi dengan pelan.
"Bang."
Sandi masih melamun, adiknya memanggil, ia tidak dengar. Lina yang gemas dengan kelakuan, Sandi memukul pundaknya.
"Aduh!!!! Siapa si yang mukul-mukul? Kok kurang kerjaan banget si?" Gumam, Sandi.
"Salahnya siapa, dipanggil tidak jawab, malah asyik melamun. Lagi mikir apa si, bang? Kalau kangen sama, kak Santi, ya berkunjung ke rumahnya. Bukannya malah bengong, kaya sapi ompong, bang. Sloroh, Lina.
"Kamu itu sok tahu, aku itu kemarin habis ketemuan, ya kangennya sudah terobatilah. Aku itu sedang bingung, rumah masih sepi kaya kuburan. Kamu kelayaban entah ke mana, ibu dan ayah belum pulang. Kamu itu habis dari mana si? Sudah jam 17.00, kamu kok baru pulang si?" Omel, Sandi.
"Aku habis ketemu sama, kak Yusuf dan pamannya buat klarivikasi isu ke Singapura. Biar tidak ada kesalah pahaman lagi, kak Yusuf dan pamannya itu memang mirip banget, tidak ada bedanya, bagaikan pinang dibelah dua. Terus habis itu menikmati es kelapa muda bersama diwarung pojok Desa jadi, ya lama, aku perginya. Ayah dan ibu itu tadi sudah pulang, terus pergi lagi kondangan." Jelas, Lina.
"Kirain sih klarifikasi untuk hari kemerdekaan, membahas tentang lomba-lombanya gitu. Ternyata masih membahas isu drama ke Singapura, tetapi sudah selesai kan dramanya?" Ujar, Sandi.
"Alhamdulillah sih Sudah kelar dan aman, ngomong-ngomong soal kemerdekaan. Semoga ada lomba-lomba yang menarik untuk diikuti, ya, bang? Besok sehabis upacara atau nanti malam, biar semakin seru merayakan hari kemerdekaan." Sambung, Lina.
Sandi mengangguk-angguk mengiyakan ucapan, adiknya sambil tersenyum.
Sementara itu, Yusuf dan Ayub sudah sampai di rumah, Pak parno dan bung Parno juga sudah ada di rumah, mereka sedang bersantai di teras. Yusuf dan Ayub baru saja melepas sandal dan duduk di teras, mereka diintrogasi tentang klarifikasinya isu ke Singapura.
"Tadi gimana, apakah berhasil? Andre percaya kalau, kamu tidak ke Singapura?" Tanya, bu Parno.
"Andre untungnya percaya kalau, aku tidak pergi kemana-mana. Soalnya ada buktinya, Om Ayuk mau tak ajak ke sana. Coba aja, Om Ayu tidak mau ke sana, Andre pasti tidak percaya." Tutur, Yusuf.
"Ya syukurlah kalau, Andre sudah percaya, jadi, tidak ada kesalahpahaman lagi, kalian pun tetap akrab bersahabat." Sambung, pak Parno.
Mereka sedang asyik berbincang-bincang di teras, tiba-tiba ada pengumuman dari kepala desa untuk upacara hari Kemerdekaan.
"Woro-woro, bagi para warga besok ada upacara 17-an di lapangan pinggir alun-alun yang dekat Kecamatan! Upacaranya digabung, orang sekecamatan biar ramai! Untuk ulang tahun negeri, Kita tercinta, yaitu hari kemerdekaan Indonesia! Kami harap para warga pada datang semua!"
Pak parno memerintah, Yusuf untuk menyetrika pakaian.
"Suf Tolong setrika baju-bajunya yang untuk besok! Biar terlihat rapi pas waktu upacara 17 Agustus!" Seru, pak Parno.
Yusuf mengangguk mengiyakan perintah, ayahnya sambil melangkah ke dalam rumah.
Komentar
Posting Komentar