MENAKLUKKAN HATI WANITA 35

Yusuf menghampiri, Pak Parno sambil memegang setrikaan. 


"Ayah setrikanya sudah ketemu, aku menyetrikanya nanti, ya sehabis salat isya." Kata, Yusuf.


Pak parno mengangguk mengiyakan ucapan, anaknya dengan ekspresi tersenyum.


Sementara itu, di desa sebelah, Lina dan Sandi masih duduk di teras, mereka sedang berbincang sambil menanti orang tuanya pulang.


"Kamu tadi menyetrika baju atau tidak, dik? Kalau belum, kita nanti menyetrika bareng, biar cepat selesai. Masa si, iya ikut upacara 17-an, bajunya lusuh, kaya belum ganti selama seminggu." Kata, Sandi.

"Abang tenang aja, semua baju sudah tak setrika. Abang tinggal pilih, mau pakai yang mana." Sahut, Lina.

"Wah, kamu baik banget, sudah menyetrika baju. Ayah dan ibu kok belum pulang, ya, dik?" Kata, Sandi lagi.


Lina baru akan menjawab, ada suara motor yang mendekat. Pak Ahmad dan bu Ahmad pulang dengan membawa bingkisan, Lina dan Sandi penasaran dengan isinya.


"Itu, ibu bawa apa? Jangan-jangan isinya makanan enak?" Tanya, Sandi.

"Ini makanan mentah, bukan makanan matang, kalian harus memasak dulu, kalau mau makan." Ucap, bu Ahmad.

"Emang itu isinya apa, bu?" Tanya, Lina.

"Mie instan, telur, beras, gula dan teh." Ucap, bu Ahmad lagi.


Lina mengangguk mengerti, sambil membayangkan mie telur yang lezat. Suara murotal sudah terdengar dari masjid terdekat, tanda akan memasuki waktu maghrib. Pak Ahmad mengajak keluarganya masuk dan siap-siap shalat jamaah di rumah. Lina membuka pintu, sebab dirinya yang membawa kunci. Sandi yang menyalakan lampu dan menutup jendela. Mereka shalat bersama, pak Ahmad yang menjadi imamnya.


Sementara di tempat lain, Yusuf dan keluarganya baru pulang dari masjid. Ayub sudah mencangklong tas, lalu pamitan pada, pak Parno dan keluarganya.


"Aku pulang, ya!"

"Makan dulu, Ayub setelah itu baru boleh pulang! Kata, bu Parno.


Ayub tidak mau makan, ia takut kemalaman sampainya di rumah. Bu Parno membungkuskan makanan, Ayub barangkali kelaparan di jalan.


"Mas, mbak, Yusuf, aku pulang dulu! Jangan kangen, ya, Suf!" Kata, Ayub.

"Ih, siapa juga yang kangen, ini orang kok pd banget si. Sudah sana pergi! Bila perlu tidak usah datang lagi!" Balas, Yusuf.


Ayub hanya tertawa mendengar perkataan keponakannya, lalu memakai helem dan naik motor.


"Pulangnya hati-hati! Naik motornya jangan ngebut!" Pesan, pak Parno.


Ayub mengangguk mengiyakan, habis itu berlalu dari kediaman, pak Parno.


Yusuf menepati janjinya, ia setelah shalat isya dan makan, ia menyetrika. Selain disetrika juga diberi parvum yang wangi.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, aku mau tiduran sebentar. Aku lima menit lagi telpon, Lina walaupun Hanya sebentar." Gumamnya.


Belum ada lima menit, Yusuf sudah terlelap. Tidurnya sangat nyaman, ia mendengkur untungnya tidak keras.


Sementara di Desa sebelah, Lina membaca novel di kamar, hp-nya ada di meja.


"Aku mau baca novel sambil menunggu, kak Yusuf siapa tahu telpon." Batin, Lina.


Nyatanya yang ditunggu tidak kunjung datang, Lina pun memutuskan tidur.


Waktu terus berjalan, malam berganti pagi. Waktu menunjukan pukul 04.00, warga pada bangun, mandi dan bersiap shalat subuh. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.00, para warga Baru selesai sarapan, lalu menuju ke Kecamatan. Sementara itu, Yusuf mengirim chat pada kekasihnya.


"Cantik berangkat ke tempat upacara bareng yuk!" Ajaknya.

"Maaf, kak, aku sudah janji mau berangkat bareng, bang Sandi." Jawab, Lina.

"Oh, ya sudah tidak apa-apa, kalau gitu. Aku nanti bareng sama, Andre semoga, dia mau berangkat bareng denganku." Balas, Yusuf.


Yusuf langsung mengirim chat pada sahabatnya, berharap ada jawaban.


"Andre berangkat ke tempat upacara bareng yuk!" Ajaknya.

"Ayuk! Tak tunggu kedatanganmu! Balas, Andre.


Yusuf langsung mengambil sepeda, ia pamit berangkat duluan pada orang tuanya. Yusuf dan Andre berboncengan sepeda sambil bercerita, mereka tiba di tempat upacara suasananya sudah ramai. Kedua orang tua, Yusuf dan Andre juga sudah ada di sana, begitu pula dengan, Lina dan keluarganya.


Upacara 17 agustus berjalan dengan hikmat tanpa kendala apapun. Di penghujung upacara, Lina merasa kepanasan.


"Aduh panas banget si, Coba aja upacaranya di bawah pohon, pasti rasanya sejuk." Batinnya.


Yusuf malah merasa kehausan, Iya ingin minum sayangnya belum selesai upacaranya.


"Waduh, padahal tinggal sebentar lagi upacaranya selesai, aku rasanya haus banget. Aku semoga kuat menahan rasa haus ini, sampai rakyat upacaranya benar-benar berakhir." Pikirnya.


Saat upacaranya dibubarkan, Yusuf langsung minum sampai setengah botol di bawah pohon rindang, seperti sudah tidak minum selama 3 hari.


"Alhamdulillah akhirnya rasa hausku terobati juga." Batin, Yusuf.


Lina berteduh di bawah pohon rindang, mencari tempat yang sejuk, ternyata ada, Yusuf di sebelahnya.


"Hai, cantik, kita ternyata bisa bertemu di tempat ini juga." Sapa, Yusuf.


Lina menganguk-angguk mengiyakan ucapan, Yusuf sambil tersenyum.


Sedangkan, Andre menatap ke kanan ke kiri, merasa  kebingungan, bagaikan kucing kehilangan ikan.


Sandi yang menyadari sikap, Andre pun bertanya.


"Kamu kenapa sih? Kok dari tadi sepertinya gelisah?"

"Aku itu sedang mencari, Yusuf, dia tiba-tiba menghilang." Jawab, Andre.

"Sudah tenang saja, dia paling sedang sama, Lina di bawah pohon." Imbuh, Sandi.

"Terus kalau, dia tidak ketemu? Aku pulangnya gimana dong, San?" Tanya, Andre.

"Sudah tenang saja, tidak usah khawatir. Nanti pulang bersamaku kalau, Yusuf tidak menemuimu lagi." Balas, Sandi.


Saat semua orang sedang asyik dengan dunianya masing-masing, ada pengumuman lomba.


"Woro-woro, pada semua warga yang berkumpul di tempat ini! Ada berbagai perlombaan! Lombanya antara lain: balap karung, lomba kelereng, baca teks undang-undang dasar, menulis puisi dan joget bola. Bagi yang berminat, silakan mendaftar ke panitia!"


Sandi mengajak, Andre untuk lomba joget bola.


"Ndre ikutan yuk!" Ajaknya.

"Aku kalau joget bola tidak mau. Jawab, Andre.

"Memangnya kenapa, Ndre?"

"Ya malas aja si, San."

"Ayuklah ikutan! Buat seru-seruan, Ndre!"


Sandi menarik tangan, Andre menuju ke tempat pendaftaran. Andre pun mau tidak mau, mengikuti keinginan sahabatnya. Sandi mendaftar joget bola, menulis puisi dan baca teks UUd.


"Ini serius, San? Mau ikut tiga lomba?" Tanya, Andre.


Sandi mengangguk sambil tersenyum, menanggapi pertanyaan sahabatnya.


Sementara itu, yusuf dan Lina masih ngobrol di bawah pohon.


"Cantik, kamu mau ikut lomba yang mana?"

"Aku mau ikut semuanya, kecuali lomba kelereng. Kakak mau ikut lomba yang mana?"

"Aku si mau ikut semuanya." Kata, Yusuf.


Mereka pun menuju ke tempat pendaftaran, lomba joget bola, mereka ditolak.


"Maaf, kakak lomba joget bolanya sudah penuh jadi, sudah tidak bisa."


Yusuf dan Lina mengangguk dengan ikhlas, keduanya pun berlalu dari tempat pendaftaran. Lomba yang pertama, mereka ikuti balap karung. 

Komentar