Yusuf dan Lina menuju ke tengah lapangan, mereka pikir lomba balap karung yang paling pertama. Mereka berjalan sambil berbincang, seolah dunia hanya milik berdua.
"Aku pasti nanti dapat juara, aku soalnya bisa lari." Kata, Yusuf.
"Ya tidak bisalah, aku pasti pemenangnya." Balas, Lina.
"Taruhan yuk! Kalau, aku yang kalah, kamu yang menang. Kamu harus kasih hadiah! Begitu pula sebaliknya kalau, aku menang, kamu tak kasih hadiah." Tantang, Yusuf.
"Ayuk, siapa takut!" Balas, Lina lagi.
Mereka sampai di tengah lapangan, ternyata yang lomba paling pertama adalah joget bola. Mereka tahu, karena para pesertanya sudah memegang bola dengan pasangan masing-masing. Sandi dan Andre salah satu pesertanya, mereka menjadi satu pasang, membawa bola berwarna pink.
"Bang sandi sama Andre rupanya ikut joget bola, mereka lucu banget. Bolanya warna pink, seperti warna kesukaan cewek." Kata, Yusuf.
Lina pun melirik, Karena penasaran dengan yang dikatakan, Yusuf. Setelah itu, ia senyum-senyum menyaksikan, Sandi dan Andre membawa bola warna pink.
"Sambil menunggu perlombaan yang, kita ikuti. Kita nonton, bang sandi joget bola dulu, ya?" Aku Soalnya penasaran gimana hasilnya, mereka kira-kira menang atau tidak." Pinta, lina.
"Ok, aku juga penasaran si, mereka seperti apa bermainnya." Sahut, Yusuf.
Namun, mereka batal menyaksikan pertandingan Andre dan Sandi joget bola. Karena ada pengumuman dari panitia, soal lomba menulis puisi.
"Perhatian-perhatian, kepada para peserta lomba menulis puisi! Harap berkumpul di pohon rindang pinggir lapangan! Lombanya akan segera dimulai!"
Lina dan Yusuf pada akhirnya meninggalkan tengah lapangan, lokasi lomba joget bola. Mereka berjalan ke pinggir lapangan sambil tersenyum, mencari pohon rindang yang dimaksud. Ternyata di sana, sudah disiapkan meja dan kursi untuk menulis, agar tidak susah menulisnya. Lina dan Yusuf mengarang puisi dengan serius, agar hasilnya maksimal.
Sementara itu, di tengah lapangan, Sandi dan Andre sedang bercakap-cakap, sambil mempersiapkan diri.
"San Nanti kalau, kita kalah gimana?" Tanya, Andre.
"Kalah dan menang itu rezeki, tidak usah dipikirkan. Lagi pula, Kita niatnya ikut lomba hanya untuk seru-seruan saja." Balas, Sandi.
Mereka mulai lomba, bola ditempelkan di hidung keduanya. Mereka kebetulan tingginya sama sehingga, tidak ada yang kurang tinggi atau terlalu tinggi tubuhnya. Jadi, tidak ada yang menunduk maupun mendangak, mereka mulai berjoget, tubuhnya digoyangkan ke kanan dan ke kiri.
Para orang tua yang tidak ikut lomba sama sekali, mereka menjadi tim pendukung dan penyemangat.
Joget bola hanya dilakukan dua putaran, dari sekian banyak peserta yang bertahan hanya tiga pasang. Pasangan tersebut antara lain: Sandi dan Andre, Tina Ddan Tini, Rizal dan Agus.
"Alhamdulillah, kita bisa jadi pemenang." Kata, Sandi.
"Aku tidak menyangka, aku pikir akan kalah. Ternyata, kita adalah salah satu peserta, yang bertahan dari awal sampai selesai." Imbuh, Andre.
"Iya benar, Ndre." Kata, Sandi lagi.
Sementara itu, Yusuf dan Lina mengikuti lomba puisi dengan khusuk, mereka benar-benar serius.
"Kak tadi rasanya mengarang kayak gimana? Rasanya deg-degan atau tidak?" Tanya, Lina.
"Tadi rasanya lumayan tegang sih, aku takut salah tulis terus jadinya, pantun bukan puisi. Kalau, kamu sendiri rasanya kayak gimana tadi?" Sambung, Yusuf.
"Aku juga tadi lumayan tegang sih, takut tidak fokus." Jawab, Lina.
"Masa sih, kamu tegang pas mengarang puisi? Orang biasanya aja di rumah suka ngarang puisi, ya harusnya lebih semangat lah pas lomba kayak gini!" Ledek, Yusuf.
"Kakak juga, Iya kok masa seorang penulis novel, nulis puisi aja deg-degan. Kakak itu kayak tidak pernah menulis aja sih, pakai acara deg-degan segala." Balas, Lina tidak mau kalah.
Yusuf baru membuka mulut, ingin membalas ejekan, Lina yang dilontarkan padanya. Namun, panitia memberitahu bahwa, yang mengikuti balap karung segera siap-siap. Karena lomba joget bola telah berakhir, bagi peserta yang masih mengikuti lomba menulis juga, masih ditunggu untuk lomba balap karung.
Yusuf dan Lina melangkah ke tengah lapangan, mereka berjalan sambil berbincang.
"Gimana, kak? Yang tadi apakah masih berlaku?" Tanya, Lina.
"Ya masihlah!" Jawab, Yusuf.
Lina dan Yusuf bertanding dengan banyak orang, Andre dan Sandi juga ikut balap karung.
Yusuf balap karung dengan berlari sekencang mungkin, agar sampai di garis finish paling awal. Namun, kenyataan berkata lain, Yusuf Baru beberapa langkah sudah terjatuh.
"Aduh!!!! Nasiku sungguh sial! Bukannya berhasil lari malah terjatuh!" Batinnya.
Setelah itu, Yusuf minggir ke tepi, Iya sudah gagal dan kalah. Lina yang menyaksikan hal tersebut, merasa kasihan dan ingin tertawa. Lina terus bertanding dengan para peserta yang lain, Iya tidak berhasil memenangkan pertarungan balap karung. Andre dan Sandi juga kalah, keduanya belum sampai finish, tetapi sudah terjatuh.
"Pengumuman pengumuman, lomba balap karung telah Usai! Lomba yang berikutnya adalah lomba kelereng!"
Kata panitia dari pengeras suara.
Yusuf langsung bersiap-siap, Iya berdoa dalam hati, agar kelerengnya tidak jatuh dari sendok. Lina, Sandi dan Andre menonton lomba kelereng di tepi lapangan.
"Tadi dapat juara, Ya, bang? Pas ikut lomba joget bola?" Tanya, Lina.
"Iya, dik Tadi Alhamdulillah tadi bisa bertahan, sampai jogetnya selesai. Aku ikut lomba menulis puisi juga sih. Ternyata lomba puisi sama lomba joget bola, waktunya bareng, aku tidak sempat ikut lomba menulis puisi akhirnya." Tutur, Sandi.
"Ya sudah, bang tidak apa-apa, berarti belum rezekinya. Kan bisa ikut dilain kesempatan, untuk lomba menulis puisinya." Hibur, Lina.
Sandi mengangguk mengiyakan sambil tersenyum, hatinya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi padanya.
Yusuf tidak menang saat mengikuti lomba kelereng, baru setengah perjalanan, kelerengnya sudah jatuh dari sendok.
"Ya nasip, aku lagi-lagi kalah." Batin, Yusuff.
Setelah itu, Yusuf berjalan ke arah teman-teman dan pujaan hatinya.
"Aku sudah berdoa, supaya kelerengnya tidak lepas. Akan tetapi doaku belum dikabulkan, Di tengah perjalanan kelerengnya jatuh." Tutur, Yusuf.
Semua yang mendengarkan ceritanya, memberi semangat agar, Yusuf tidak bersedih hati.
Suara adzan berkumandang dari masjid terdekat, panitia perlombaan 17 Agustus mengumumkan.
"Kita istirahat terlebih dahulu! Untuk makan siang dan melaksanakan salat zuhur! Nanti habis zuhur, kita lanjut lagi! Untuk lomba yang terakhir, yaitu pembacaan teks undang-undang dasar!"
Seluruh warga salat berjamaah di masjid Kecamatan, saking banyaknya warga yang salat, sampai-sampai jamaah salat Zuhur ada tiga kali. Itu karena masjidnya sangat besar, Kalau masjidnya kecil pasti sholat jamaah bergantian bukan tiga kali, bisa-bisa sampai 10 kali.
Selesai makan siang, lomba kembali berlanjut. Lomba membaca teks undang-undang dasar, tempatnya di bawah pohon rindang, tempat yang tadi digunakan untuk lomba menulis puisi.
Lina dan Yusuf iseng-iseng tanya, sandi setelah selesai membaca.
"Bang gimana rasanya membaca? Deg-degan atau tidak?" Tanyanya.
"Rasanya, ya biasa aja sih, walaupun belum tahu menang atau tidak. Namanya juga lomba untuk seru-seruan, demi memeriahkan 17 Agustus. Kalian gimana rasanya? Deg-degan atau tidak?" Balas, Sandi.
"Rasanya biasa aja sih, kita ikhlaskan saja menang atau kalah itu rezeki." Jawab, Yusuf.
Andre sebagai penonton, hanya mendengarkan percakapan para sahabatnya.
Waktu menunjukkan pukul 14.30, semua lomba telah Usai. Tinggal menunggu pengumuman juaranya saja, yang akan diumumkan sehabis salat ashar.
Komentar
Posting Komentar