Hari minggu sore adalah momen yang ditunggu-tunggu, jam menunjukan pukul 16.00 Wib. Semua peserta lomba hari Kemerdekaan harap-harap cemas, mereka perasaannya dak-dik-duk, sudah tidak sabar menanti pengumuman.
"Kok lama informasi pemenangnya, ya, bang? Aku padahal sudah ingin pulang, aku rasanya sudah capek banget." Keluh, Lina.
"Ya sabarlah, abang juga capek, bukan cuma dirimu aja yang capek." Balas, Sandi.
Sementara di masjid orang tuanya Andre, Yusuf dan Lina sedang berkumpul. Mereka pesan minuman di warung, yang ada di depan masjid. Yang perempuan memesan teh, sedangkan yang laki-laki memesan kopi.
"Ahmad! Apa kabar?" Sapanya dari sebrang meja.
Pak Ahmad pun memperhatikan yang menyapa, ternyata sahabat baiknya.
"Eh, Parno! Kamu apa kabar? Aku alhamdulillah kabarnya baik." Balas, pak Ahmad.
"Ya syukurlah kalau kabarmu baik, aku juga alhamdulillah sehat." Sambung, pak Parno.
"Gimana, lancar jualanmu lancar?" Tanya, pak Ahmad.
"Ya alhamdulillah, aku tokonya lancar, ramai pembeli terus. Gimana, kamu masih kerja di pabrik tas?" Balas, pak parno.
"Ya syukurlah kalau jualanmu lancar, aku masih kerja di pabrik, istriku juga kerja di sana." Jawab, pak Ahmad.
"Agung sekarang kerja di mana? Dia gimana kabarnya?" Kata, pak Parno.
Pak Ahmad tidak menjawab, hanya melirik ke arah kanan. Pak Agung yang menyadari lirikan, pak Ahmad langsung bersuara sambil menghirup kopinya.
"Parno kabarku sehat, aku masih kerja di pabrik sepatu. Parno rupanya merindukanku, nyatanya bertanya tentang diriku." Ucapnya dengan pd.
Mereka pun tertawa mendengar sahutan, pak Agung yang suka bercanda.
"Ya wajar kalau, aku bertanya tentang dirimu, aku kan jarang ketemu. Tidak kaya, Ahmad yang satu Desa, sering bertemu tentangmu." Sloroh, pak Parno.
Mereka mengobrol dengan hikmat, bagaikan sedang rapat. Sedangkan yang perempuan, selesai minum teh bersantai di teras masjid.
Sementara dari tengah lapangan, panitia lomba sudah mengeluarkan suara, melalui pengeras suara.
"Baiklah, kepada para peserta, semuanya harap tenang! Kami akan membacakan juara dari perlombaan yang sudah, kalian ikuti!"
Sementara di bawah pohon rindang, empat sekawan asyik ngobrol sambil minum es tebu.
"Coba tebak! Lomba apa yang pertama diumumkan?" Kata, Sandi.
"Kalau menurutku lomba baca puisi." Cletuk, Lina.
"Menurutku lomba baca teks Undang-Undang Dasar." Kata, Yusuf.
"Menurut tebakanku lomba kelereng." Jawab, Andre.
"Menurut perasaanku lomba balap karung." Bisik, Sandi.
Ternyata, tebakan dari empat sekawan salah semua, mereka saling pandang. Saat mendengar lomba joget bola, yang diumumkan paling pertama.
"Langsung saja, kami akan membacakan pemenang lomba joget bola!" Kata panitia.
"Peserta yang lain mendengarkan dengan serius, sedangkan empat sekawan tetap saja ngobrol, mendengarkan dengan santai.
"Juara 1 lomba joget bola yaitu, Andre dan Sandi! Juara 2 diraih oleh, Tini Dan Tina! Dan, juara 3 diraih oleh, Rizal dan Agus! Kepada yang mendapat juara lomba joget bola, juara 1 2 dan 3 di harap maju ke tengah lapangan! Seru panitia.
"Hore, kita menang!!!! Ayuk, San buruan ke sana! Biat tidak ketinggalan sama yang lain!"
Seru, Andre sambil menarik, Sandi seperti narik tambang. Sandi dan Andre berlari ke tengah lapangan, untungnya tidak menabrak peserta yang lain.
Sandi dan Andre beserta pemenang yang lainnya diberi bingkisan hadiah, lalu foto bersama sebagai dokumentasi. Sandi dan Andre mengucapkan terima kasih, terus kembali ke bawah pohon. Begitu pula dengan pemenang yang mendapat juara 2 dan 3, mereka kembali ke tempat duduk, setelah mengucapkan terima kasih.
Sandi dan Andre kembali berlari agar cepat sampai ke bawah pohon rindang, Lina dan Yusuf iseng-iseng bertanya.
"Kira-kira hadiahnya apa, bang? Kok bentuknya kotak, kaya balok?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu apa isinya. Kalau isinya ada dua, satu untukku dan satu untuk, Andre si. Akan tetapi kalau isinya hanya satu, tak kasihkan ke, Andre saja." Jawab, Sandi.
Panitia kembali mengumumkan, pemenang lomba berikutnya.
"Yang selanjutnyaadalah lomba balap karung!"
Para peserta yang lainnya pada tegang, mereka berharap menjadi pemenangnya. Namun, 4 sekawan yang duduk di bawah pohon rindang, tidak merasa tegang, tidak merasa cemas, mereka tenang-tenangan saja.
"Ayuk tebak! Pemenangnya cewek atau cowok!" Kata, Andre.
Yusuf dan Sandi mengatakan pemenangnya laki-laki, Lina mengatakan pemenangnya perempuan. Suara panitia lewat mikrofon, menyebutkan nama-nama pemenangnya, wajahnya pun terlihat serius.
"Juara satu diraih oleh, Nanda! Juara 2 diraih oleh, Dimas! Juara 3 diraih oleh, Sinta! Para pemenang lomba balap karung yang, kami sebutkan namanya! Harap maju ke tengah lapangan!"
Tebakan dari empat sekawan kurang tepat, karena ada yang menyebutkan juaranya hanya perempuan dan ada yang menyebutkan juaranya hanya laki-laki. Sementara di tengah lapangan, mereka yang mendapatkan juara, diberi hadiah serta melaksanakan foto bersama. Yang selanjutnya diumumkan adalah lomba menulis puisi, Lina dan Yusuf pun membuka percakapan tentang lomba tersebut.
"Cantik kira-kira yang dapat juara siapa, ya? Aku atau dirimu, ya?" Tanya, Yusuf.
"Ya, Aku tidak tahulah, aku bukan cenayang yang bisa lihat tanpa diberitahu. Emangnya kenapa si, kak?" Balas, Lina.
"Ya tidak apa-apa sih, aku cuma ingin tahu aja." Jelas, Yusuf.
"Kalau, kita tidak ada yang menang gimana?" Tanya, Lina.
" Ya tidak apa-apa, itu berarti belum rezekinya." Jawab, Yusuf.
Andre dan Sandi hanya mendengarkan percakapan keduanya, mereka tidak menyambungi sama sekali.
Suara panitia kembali mengalun lewat pengeras suara.
"Juara 1 menulis puisi diraih oleh, Lina! Juara 2 menulis puisi diraih oleh, Yusuf! Juara 3 menulis puisi diraih oleh, Putri! Para pemenang yang, kami sebut! Segera maju ke tengah lapangan!"
Lina dan Yusuf mendengar hal tersebut perasaannya bahagia, mereka berjalan ke tengah lapangan sambil senyum-senyum, tidak perduli diperhatikan orang. Perasaan bahagia juga hadir di hati, Putri yang berlari menuju tengah lapangan.
Lina, Yusuf dan Putri diberi hadiah dan foto bersama. Ketiga pemenang menulis puisi itu mengucapkan rasa terima kasih, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
Lina dan Yusuf berjalan bergandengan tangan, menuju ke bawah pohon sambil membawa hadiah. Sandi jailnya kambuh melihat, Lina dan Yusuf datang membawa bingkisan, ia bertanya pada keduanya sambil tersenyum.
"Kalian habis beli kado untuk pernikahan, ya?"
"Pernikahan siapa, bang?" Tanya, Yusuf.
"Ya pernikahan, kalianlah." Jawab, Sandi.
Lina mencubit perut, Sandi dengan keras.
"Aduh, sakit tahu!!!!" Seru, Sandi.
"Makanya jangan usil mulutnya, kalau tidak mau dicubit. Sudah jelas-jelas hadiah ikut lomba, bilangnya kado pernikahan." Kata, Lina sambil cemberut.
Sandi hanya tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Ayah dan ibu di mana, ya, dik?"
"Aku tidak tahu, abang cari aja sendiri." Kata, Lina.
Sandi pun menelpon orang tuanya, ia malas mencari ke berbagai tempat, yang belum tentu ada hasilnya.
Sementara itu, bu Ahmad menerima telpon di teras masjid.
"Halo, ada apa, nak?" Sapa, bu Ahmad.
"Ibu dan ayah ada di mana?" Tanya, Sandi.
"Ibu lagi istirahat di masjid, yang tadi, kita shalat asyar. Ayahmu lagi ngobrol dengan, pak Parno sahabatnya sejak SMP di warung kopi. Kalian kalau sudah selesai, langsung ke sini!" Kata, bu Ahmad.
Sandi pun mengiyakan, lalu menutup panggilan telpon.
Lomba membaca teks Undang-Undang Dasar diumumkan, panitia dengan semangat menyebutkan nama-nama pemenangnya.
"Juara 1 membaca teks UUd diraih oleh, Yusuf! Juara 2 membaca teks UUD diraih oleh, Lina! Juara 3 membaca teks UUD diraih oleh, Sandi! Kami harap kepada para pemenang! Segera maju ke tengah lapangan!"
Mereka terkejut, kembali menjadi pemenang. Hatinya sangat bahagia, mereka berjalan menuju ke tengah lapangan dengan bersama-sama, hadiah yang didapatkan sebelumnya, mereka titipkan pada, Andre. Mereka diberi hadiah dan melakukan foto bersama. Mereka menyalami panitia dan mengucapkan rasa terima kasih. Setelah itu, mereka menghampiri, Andre di bawah pohon mengajak, Andre meninggalkan lapangan. Mereka pergi ke masjid, tidak menunggu pengumuman lomba kelereng. Mereka menuju ke masjid menggunakan kendaraan, Lina dan Sandi naik motor, Yusuf dan Andrenaik sepeda. Hadiah yang didapatkan, mereka simpan dalam tas masing-masing, agar tidak repot membawanya.
Sesampainya di masjid, bapak-bapaksudah selesai ngobrol di warung kopi, mereka duduk di teras masjid menanti, anak-anaknya sambil menyelonjorkan kaki. 4 sekawan sampai di masjid, Pak parno yang melihat, lina langsung berkata.
"Ini anak perempuanmu kan, Ahmad."
Pak Ahmad hanya mengiyakan ucapan sahabatnya sambil tersenyum.
"Ahmad anak perempuanmu kayaknya cocok kalau bersanding dengan, Yusuf untuk menjadi pendamping hidupnya." Ucap, pak Parno.
Komentar
Posting Komentar