MENAKLUKKAN HATI WANITA 38

Pada sore itu 3 keluarga yang sedang duduk di teras masjid, mereka berniat pulang sehabis salat magrib, karena 10 menit lagi suara adzan akan berkumandang. Pak Agung, pak Ahmad dan pak Parno adalah tiga sahabat yang sudah saling akrab sejak lama. Pak parno berkata sambil bercanda pada, Pak Ahmad tentang anak gadisnya.


"Lina ini kayaknya cocok kalau bersanding dengan, Yusuf untuk menjadi pendamping hidupnya."


"Parno ini ada-ada aja sih, jodoh itu tidak akan pernah ke mana kok, kalau memang sudah menjadi miliknya. Mereka pasti akan bersama Sampai menikah, ya berarti berjodoh, tetapi kalau tidak bisa bersatu, Ya bukan jodohnya." Balas, pak Ahmad.


Pak parno hanya mengangguk-angguk, mendengar tanggapan sahabatnya. Sandi yang mendengar percakapan tersebut, menimpali sambil tersenyum-senyum.


"Mereka kayaknya sih sedang proses pendekatan Kalau menurutku, mereka soalnya kelihatannya bukan hanya berteman biasa. Mereka seperti orang jatuh cinta pada umumnya, saling memberi semangat dan saling memberi dukungan serta menguatkan satu sama lain." Kata, Sandi.

"Bukan kayaknya lagi, mereka memang saling suka beneran." Sambung, Andre.


Lina dan Yusuf hanya tersenyum saja, mendengar orang-orang tersayang di sekitarnya membahas kedekatan, mereka selama ini. Tiba-tiba, Lina perutnya berbunyi, seolah memberi kode agar diberi isi.


"Aduh nasip, aku padahal tadi sudah makan, ini perut masih aja bernyanyi sih." Gerutu, Lina.

"Yo wajar kalau lapar, walaupun tadi sudah makan, namanya juga dari tadi aktivitas, istirahat hanya sebentar. Kalian sebaiknya makan dulu sana! Itu di sebelah warung kopi ada warung makanan, namanya aneka makanan sambal kacang." Kata, bu Ahmad.

"Ya sudahlah kalau gitu, aku mau makan dulu. Yuk Siapa yang mau menemaniku makan!" Kata, Lina.

"Aku mau ikut pastinya, Aku sudah lapar tingkat dewa ni!" Kata, Sandi.

"Aku juga mau ikut!" Kata, Yusuf dan Andre dengan kompak.


Mereka pun berjalan bersama, menuju ke warung. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh penjualnya.


"Silahkan, mas-mas, mbak! Mau pada pesan apa ni?" Tanya, penjualnya.


Mereka pun melihat buku menu yang tersedia di meja.


"Aku pesan tahu campur dan batagor." Kata, Sandi.

"Aku pecel dan cilok." Kata, Lina.

"Aku tahu campur dan cireng sambal kacang." Kata, Andre.

"Aku pecel dan batagor." Kata, Yusuf.

"Terus minumnya apa?" Tanya, penjualnya lagi.

"Minumnya es kelapa muda saja."

"Es kelapa semua?" Ucap penjualnya.


Mereka berempat mengangguk mengiyakan, perasaannya membayangkan minuman yang segar. Mereka sambil menunggu pesanan, mereka mengobrol yang tadi dibahas.


"Jadi, orang tua, kita itu bukan hanya sekedar kenal, tetapi sahabatan sejak lama." Ujar, Sandi.

"Aku juga baru tahu, loh kalau orang tua, kita saling bersahabat." Balas, Yusuf.

"Ayuk, Yusuf barangkali mau dijodohkan sama, Lina, loh." Cletuk, Andre.

"Aku si tidak masalah kalau mau dijodohkan sama, Lina, ya tak terima dengan senang hati. Lagi pula kan, kamu tahu, aku selama ini berusaha menaklukkan hatinya, Lina dengan berbagai cara. Soalnya dia susah banget sih didekati, dia orangnya jutek, bagaikan es batu yang masih membeku." Ujar, Yusuf lagi.

"Ih, enak aja, aku itu manusia bukan es batu atau salju." Balas, Lina.


Tanpa terasa pesanan, mereka telah tiba, Mereka pun menikmati makanan dengan hikmat. Es kelapa jadi pelengkapnya, agar semakin memuaskan hati.


Sementara itu, di teras masjid para orang tua duduk santai, sambil menikmati angin yang terasa sepoi-sepoi.


Sementara di warung 4 sekawan telah selesai menikmati hidangan, mereka membayar makanan lalu kembali ke teras masjid. Mereka baru duduk 5 menit, suara bedug terdengar nyaring disusul suara adzan yang merdu. Mereka mengambil wudhu satu per satu, setelah itu melaksanakan shalat berjamaah bersama para warga yang shalat di masjid tersebut. Mereka selesai shalat langsung pulang ke rumah, tidak mampir ke mana-mana. Pak Ahmad baru saja membuka pintu rumah, suara adzan isya berkumandang. Iya beserta, istri dan kedua anaknya melaksanakan shalat isya berjamaah di rumah.


Sedangkan Andre dan ayahnya shalat di masjid, ibunya shalat di rumah.


"Andre menoleh ke kanan ke kiri mencari, sandi barangkali salat di masjid.


"Sandi mana, ya? Dia kok tidak kelihatan, ya?" Tanya, Andre.

"Dia sepertinya tidak ke masjid, makanya tidak kelihatan." Sambung, pak Agung.


Sementara di desa lain, Yusuf dan keluarganya berjamaah isa di masjid. Yusuf sehabis salat isya membuka laptop, untuk menulis novel.


"Aku sudah lama tidak menulis, mau menulis dululah, walau hanya dapat satu bab." Batin, Yusuf.


Kalimat demi kalimat terus mengalir dengan lancar, Yusuf dapat menulis sampai lima bab. Yusuf matanya sudah mulai mengantuk, ia menutup laptop lalu melirik jam di tangannyan.


"Wah, ternyata sudah jam 24.00, aku tidak sadar sudah menulis sebanyak itu. Aku semoga saja tidak kesiangan bangunnya, semoga aja ada ayam yang tidur di belakang kamarku sehingga, kalau berkokok diriku bisa mendengarnya. Aku agar bisa bangun pagi, bisa menunaikan kewajibanku pada Yang Maha Kuasa." Batin, Yusuf.


Sementara, Lina di kamarnya membaca novel, tiba-tiba di pikirannya pingin makan donat.


"Donat aneka rasa kayanya enak banget, tetapi ini sudah malam. Pasti penjualnya sudah tutup, donatnya juga sudah habis." Batinnya.


Lina berusaha memejamkan mata sambil membayangkan donat, sampai ke alam mimpi.


"Cantik makan donat dulu yuk! Mumpung masih hangat donatnya!" Seru, Yusuf.


Lina mengiyakan sambil mengambil donat dari kardus.


Sementara itu, Andre menyapa, Ana melalui chat.


"Ana apa kabar? Kalau sudah tidur, selamat istirahat." Kata, Andre.


Pesannya belum ada jawaban, Ana sudah berpetualang di alam mimpi.


Sedangkan di tempat lain, Lina pada pagi harinya terbangun, ia terkejut, ternyata makan donat dalam mimpi. 

Komentar