Waktu asyar telah tiba, suara azan terdengar dari masjid desa, suaranya sangat nyaring. Sandi dan Andre langsung siap-siap shalat jamaah di masjid, mengambil air wudhu dan menggunakan sarung. Mereka di masjid mengambil barisan di bagian tengah, satu barisan dengan, pak Ahmad.
"Kita kayanya jarang banget shalat asyar bareng, ya, San? Shalat jamaah bareng itu seringnya kalau maghrib, isya dan subuh doang, ya?" Kata, Andre.
"Iya emang benar, Ndre, aku kalau dhuhur dan asyar shalat di tempat kerja si. Aku kalau siang, pas istirahat tidak pulang si." Balas, Sandi.
"Kalau tidak sempat pulang, ya tidak apa-apa. Yang penting, kamu tidak meninggalkan shalat, di tempat kerja tetap mengerjakan shalat, aku sudah merasa senang." Kata, Andre lagi.
Sandi manggut-manggut mengiyakan ucapan sahabatnya sambil tersenyum. Suara iqomah dikumandangkan, shalat pun berjalan dengan lancar tanpa kendala.
Sementara itu, Lina di kamar meletakkan HP di meja, Ia lalu bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.
" biasanya Shalat Berjamaah bareng-bareng dengan, ayah, ibu dan Bang sandi sayangnya, mereka semua shalat di masjid, aku shalat di rumah sendirian. Akan tetapi tidak apa-apa, aku shalat sendiri, aku soalnya sedang males banget untuk pergi ke masjid." Batinnya.
Lina shalat ashar dengan khusyuk setelah itu berdoa, Ia juga tidak lupa mendoakan kedua orang tuanya dan orang-orang yang disayanginya. Lina selesai shalat kembali membuka HP, Iya berharap, Ana sudah membalas pesannya.
" ana kok belum balas pesanku, ya dia apa jangan-jangan sedang sibuk, ya?" Ucap, Lina seolah bertanya pada diri sendiri.
Pertanyaan itu tanpa jawaban, menghilang terbawa angin. Lina duduk di meja sambil makan coklat dan baca novel, hp-nya tergeletak di meja. Ia masih menanti balasan chat dari sahabatnya, yang berada di pinggiran Kota.
Sandi dan kedua orang tuanya pulang, mereka langsung membuka pintu, karena tidak dikunci. Bu Ahmad menghampiri anak gadisnya, lalu menegur dengan lembut.
"Kamu kok asyik makan di sini itu? Kamu sudah shalat atau belum?"
Aku sudah shalat dari tadi kok, bu."
Jawab, Lina dengan pelan, setelah menelan coklat yang dinikmatinya.
" Oh, ya Syukurlah kalau sudah shalat." Kata, Bu Ahmad sambil berjalan ke musola yang ada di rumahnya, untuk menyimpan mukena. Sandi ke kamar berganti celana, Ia lalu duduk di teras sambil menikmati kopi. Ia menyapa kekasihnya lewat pesan chat.
"Halo, sayang."
Namun belum ada jawaban, Santi masih mengecas hp. Ia tidak tahu kalau ada chat, ia soalnya sedang asyik menyiram bunga, di taman samping rumah.
Sementara itu, di desa sebelah, Yusuf habis pulang dari masjid bersama kedua orang tuanya, ia mengobrol dengan ayahnya di teras, ibunya bergegas ke belakang untuk membuat minuman." Ayah, aku besok ingin nonton karnaval, bareng teman-teman! Boleh, ya, Ayah!" Ucap, Yusuf dengan penuh harap.
"Emangnya mau nonton karnafal di mana sih? Temannya siapa aja?" Tanya, pak Parno.
"Nonton karnafal di tempat, om Ayub, Aku ingin ke sana, soalnya sudah lama banget tidak nonton karnaval. Temannya ada bang Sandi, Andre dan lina si kalau, Ayah mengizinkan, Kita niatnya mau berangkat jam 09.00 dari rumahnya, Andre." Jawab, Yusuf.
"Jadi, perempuannya cuma, Lina aja? Yang lain, yang ikut laki-laki semua?" Tanya, pak Parno.
" ya tidak sih, Lina juga mau mengajak teman perempuannya, dia supaya ada teman dan biar tidak perempuan sendiri." Jawab, Yusuf lagi.
Pak parno pun mengangguk-angguk mengiyakan, Iya mengizinkan anak lelakinya nonton karnaval. Bu Parno datang membawa 3 gelas teh hangat dan singkong rebus satu piring, untuk dinikmati dengan, anak dan suaminya. Yusuf kembali lagi meyakinkan, ayahnya Apakah benar mengizinkannya.
" Ayah, aku besok Beneran boleh nonton ini?"
"Ya boleh beneranlah, masa sih bohongan. Apa wajahku tidak terlihat sungguh-sungguh?" Gumam, pak Parno.
"Ya sudah meyakinkan sih, aku cuma kembali memastikan aja si." Kata, Yusuf sambil tersenyum malu.
Ia pun mengambil sepotong singkong rebus diikuti, Pak parno dan istrinya.
"Singkong rebus bikinan, Ibu Tercinta memang sangat enak. Apalagi makan bersama teh hangat, semakin terasa nikmat." Kata, Yusuf sambil mengsruput teh hangat dihadapannya.
Waktu menunjukkan pukul 17.00, hujan turun dengan sangat deras, mengguyur seluruh kabupaten Batang, dari plosok desa sampai kota.
Sementara di tempat lain, Lina masih membaca novel, hp-nya masih sepi, Ana belum merespons pesannya.
"Ana kok tumben si, dichat,tidak langsung balas? dia lagi kenapa si? Biasanya kalau, aku yang chat, dialangsung balas." Gumam, Lina dalam hati.
Lina membuka hp, niatnya mau chat, Ana sekali lagi, hp-nya berbunyi duluan. Anna membalas chatnya panjang kali lebar, bagaikan hitung-hitungan matematika.
" maaf banget, aku tadi lagi masak di dapur. Makanya, kamu chat belum sempat respon, aku tadi sibuk sama sambal terong. Aku mau banget sih kalau nonton karnafal, hitung-hitung cari hiburan, kebetulan juga udah lama tidak pernah nonton. Pasti seru banget rasanya, ya nonton karnafal bareng-bareng, besok pagi-pagi sekali, aku akan berangkat dari sini, semoga jam setengah sembilan sudah sampai di rumahmu."
Lina perasaannya luar biasa, Ana sudah membalas pesannya.
Ok, aku tunggu kedatanganmu, aku maklumi kalau dirimu sedang sibuk." Tulis, Lina.
Suara bedug terdengar nyaring dari masjid desa, disusul suara azan yang merdu. Lina dan keluarganya melaksanakan salat jamaah di rumah, karena hujan semakin deras, takutnya kehujanan, payungnya hanya satu biji. Lina berniat untuk minta izin pada orang tuanya saat makan malam bersama, iya hatinya berdebar-debar, ia membayangkan kira-kira diizinkan atau tidak.
Sementara di rumah, Andre orang tuanya baru pulang, tubuhnya basah kuyup.
"Ayah dan ibu apa tidak bawa mantel? Kok hujan-hujanan kaya gitu?" Tanya, Andre.
" kita tadi lupa bawa mantel sih koma kita jadi, hujan-hujanan romantis kayak gini." Kata, pak Agung.
" ayah dan ibu itu ada-ada saja sih." Imbuh, Andre.
Andre bergegas mengambilkan handuk untuk kedua orang tuanya, iya tak ingin orang tuanya kedinginan..
"Terima kasih, ya, nak, ayah dan ibu sudah diambilkan handuk. Kalau gitu, ayah dan ibu mau mandi dulu habis itu, kita shalat magrib bersama di rumah." Kata, pak Agung.
Andre hanya mengiyakan ucapan orang tuanya sambil tersenyum.
Sementara di tempat lain, Yusuf shalat jamaah bersama kedua orang tuanya, pak Parno yang menjadi imamnya. Yusuf sehabis itu makan malam bersama koma ia makan dengan sayur genjer dan tempe tepung yang masih hangat.
" ibu itu masakannya bener enak sekali, aku rasa-rasanya jadi ingin nambah." Kata, Yusuf.
Bu Parno hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya, tadi, yusuf juga ikut membantu masak sayur genjer itu. Namun, ia tidak protes apapun, ia menerima pujian anak tercintanya. Yusuf setelah makan malam duduk sebentar, untuk menanti waktu isya. Iya kembali shalat berjamaah di rumah bersama kedua orang tuanya, ayahnya kembali menjadi imam shalat. Yusuf dari pukul 20.00 menulis novel, ia mendapat sekitar 5 bab, lalu tidur dan berharap bangunnya tidak kesiangan.
Sementara di tempat lain, lina sedang makan malam bersama, sandi dan kedua orang tuanya, ia mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.
"Ibu, aku besok pingin nonton karenafal bersama, bang sandi dan kawan-kawan yang lain! Boleh atau tidak, ibu?"
Bu Ahmadmenatap suaminya untuk minta pendapat atau persetujuan,pak Ahmad pun mengangguk mengiyakan.
" kalian boleh-boleh saja nonton, tetapi kalau sudah memasuki waktu zuhur, kalian jangan lupa melaksanakan shalat." Pesan, bu Ahmad.
Lina dan Sandi pun mengiyakan pesan dari ibu tercinta.
Usai shalat isya, sandi hpnya berdering, santi baru membalas pesannya.
"Iya, sayang, aku baru balas tadi hpnya tak charge."
" oh, ya sudah tidak apa-apa, aku sekarang ngantuk banget. Aku hanya ingin pesan tolong besok pagi datang ke rumahku!" Ujar, Sandi.
" ada apa sih? Disuruh ke rumahmu?" Tanya, Santi.
Sandi sudah berangkat ke alam mimpi sehingga, pesannya tidak ada jawaban lagi.
Komentar
Posting Komentar