Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Lina terdiam di tepi ranjang. Iya perasaannya sangat kecewa, donat yang diinginkan hanya hadir dalam mimpi, belum ada nyatanya.
"Ya tidak apa-apa kalau masih dalam mimpi donatnya, aku akan beli nanti siang, biar rasa pinginku terobati. Bentar lagi subuh, aku sebaiknya mandi saja, biar rasa ngantuknya hilang dan tidak tidur lagi." Batin, Lina.
Sandi di kamar sebelah juga sudah terjaga, ia masih malas-malasan belum beranjak dari kasur.
"Sebentar lagilah, lagi pula subuhnya masih setengah jam lagi." Batinnya.
Sandi kembali ke alam mimpi, iaterkejut saat mendengar adzan subuh.
"Astaghfirullahaladzim sudah Subuh sekarang, aku untungnya tidak kebebablasan sampai siang. Walaupun hari ini libur kerja alias tamggal merah, tetapi kan bisa berbahaya Kalau diriku sampai tertinggal salat subuh." Gumamnya.
Sandi ke kamar mandi dengan berlari, Iya tidak ingin lama-lama di atas kasur dan tidur lagi. Pak Ahmad yang baru saja mengambil air wudhu ditabrak oleh, sandi dengan keras.
"Bruk!!!!"
Pak Ahmad sampai tersungkur di lantai, untungnya tidak kenapa-napa.
"Kamu itu gimana si, San! Jalan kok tidak hati-hati!" Protes, pak Ahmad.
Sandi rasa ngantuknya langsung hilang seketika, ia kaget menabrak, ayahnya sendiri.
"Maaf, ayah, aku tidak sengaja, soalnya masih ngantuk." Ucap, Sandi.
"Kamu semalam pasti begadang, ya? Makanya sudah subuh aja masih ngantuk?" Tanya, pak Ahmad.
"Aku tidak begadang kok, ini kayanya efek kecapekan makanya masih ngantuk." Jawab, Sandi.
Pak Ahmad manggut-manggut mendengar penjelasan anak lelakinya sambil tersenyum. Pak Ahmad pun memaafkan kesalahan, Sandi lalu bangkit dan berangkat ke masjid.
Sandi meneruskan langkahnya ke belakang untuk berwudhu, ia usai berwudhu pergi ke masjid. Lina dan bu Ahmad shalat di rumah, mereka tidak ikut ke masjid.
Sementara itu, Andre terbangun langsung berwudhu dan pergi ke masjid, ia tidak mengalami tragedi apa-apa. Andre setelah shalat subuh bertemu, Sandi di serambi masjid.
"San!" Sapanya."Eh, Andre! Kamu ternyata ke masjid juga, aku kira dirimu shalat di rumah." Balas, Sandi.
"Aku kan cowok, ya shalat di masjidlah. Kalau shalat di rumah, ya berarti, aku cewek dong." Jawab, Andre dengan asal.
"Ke rumahku yuk, Ndre!" Ajaknya.
"Emangnya mau ngapain? Pagi-pagi ke rumahmu?" Tanya, Andre.
"Ya buka hadiah yang kemarin, kamu itu gimana si. Masa mau nyari cewek, ya tidak mungkin." Kata, Sandi.
"Ayuk! Siapa tahu dapat harta karun atau dapat emas." Imbuh, Andre.
Mereka pun berjalan bersama, bagaikan sepasang kekasih.
Sementara itu, di tempat lain, Yusuf bangun pagi sekitar pukul 04.00, Iya langsung mandi dan berwudu. Setelah itu, ia mengaji sambil menunggu waktu subuh, suara bedug terdengar nyaring disusul suara adzan, Yusuf dan kedua orang tuanya pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Yusuf sehabis dari masjid membuka hadiah dari lomba 17-an atau hari kemerdekaan yang ke-80 di kamarnya.
"Kira-kira hadiahnya apa, ya?"
Batin, Yusuf sambil membuka bungkusan dengan perlahan.
Bu Parno melangkah ke dapur, bersiap memasak nasi untuk keluarga tercintanya. Ia pun tidak lupa berucap pada anak semata wayangnya dengan lembut.
, kalau sudah tidak sibuk tolong bantu di dapur, ya, suf!"
"Iya, Bu pasti tak bantu apa sih yang tidak untuk, ibuku tersayang." Jawab, Yusuf.
Pak Parno pagi itu di teras menikmati kopi dan membaca koran. Pak Parno membaca berita tentang harga cabe dan bawang yang sedang naik lumayan tinggi, sambil membayangkan keuntungannya jualan bumbu..
"Coba saja, ya, juminten tidak jualan bumbu dapur, aku pasti akan belanja bawang dan cabai. Sebagai penghasilan tambahan, sayangnya di tokoku belum tentu laris seperti di warung, Juminten." Gumamnya dengan pelan.
Bu Parno yang melewati teras, mau beli cabai, tidak sengaja mendengarnya. Bu Parno pun menasehati suaminya, agar tidak menghayal saja.
"Rezeki itu sudah yang mengatur, ayah, kita mengelola toko juga sudah dapat rezeki banyak. Jadi, tidak usah iri, kalau bumbu dapur harganya naik. Biarlah menjadi rezekinya, Juminten, kita tidak usah iri." Omel, bu Parno.
Pak parno yang terkejut dengan kehadiran istrinya, hanya mengangguk-angguk mengiyakan perkataan sang istri.
Sementara, Yusuf di kamar sudah berhasil membuka hadiahnya. Isinya kaos berwarna merah putih dan celana berwarna merah putih pula, ia merasa sangat ganteng menggunakan pakaian tersebut.
"Wah, luar biasa pakaian ini cukup di tubuhku, aku bener-bener jadi, paling ganteng kalau menggunakan pakaian ini. Aku sekarang akan membuka hadiah yang satu lagi, kira-kira isinya apa, ya?" Pikir, yusuf.
Ia terkejut saat membuka hadiah keduanya, isinya ternyatasama setelan celana dan kaos berwarna merah putih.
"Wah, aku beneran dapat rezeki nomplok, punya setelan kaos dua, aku dapatkan dengan cuma-cuma. Ya beginilah kalau orang ganteng, bisa dapat rezeki yang tak disangka-sangka."
Pikir, Yusuf lagi melangkah ke dapur untuk bersih-bersih.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Sandi dan Andre di bangku bawah pohon sedang duduk. Mereka membuka hadiah, dengan rasa penuh penasaran.
"Wah,, ternyata isinya dua setel kaos dan celana, San. Bukan harta karun seperti yangku bayangkan, San." Kata, Andre.
"Ya sudah kalau kaosnya dua, satu untukmu dan satu untukku." Balas, Sandi.
Sementara itu, Lina bersih-bersih kamar sekalian menyapu seluruh rumah, Iya tidak sengaja menyenggol tasnya.
"Ini isinya apa Kok berat banget tasnya?" Batin, Lina.
Lina pun membuka dengan perlahan, Ternyata isinya hadiah dari lomba hari kemerdekaan yang belum dibuka.
"Aku buka dulu lah Soalnya penasaran nih, kira-kira Apa isinya, ya?" Batin, Lina lagi.
Setelah itu, Lina dengan hati-hati membuka hadiahnya satu persatu, isinya ternyata isinya kaos dan celana berwarna merah putih.
"Wah, lumayan ini bisa digunakan kalau jalan-jalan atau naik sepeda." Pikirnya.
Setelah itu, Lina lanjut menyapu seluruh rumah, dilanjut mengepel dan cuci piring. Lina sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah kecuali memasak nasi, sayur dan lauk. Untuk urusan masak-memasak, Bu Ahmad yang melaksanakannya, agar cepat terselesaikan. Karena kalau, Lina semua yang mengerjakan, pasti selesainya akan lama. Lina duduk di teras sambil membaca buku, tiba-tiba ada penjual donat lewat. Lina hatinya senang bukan kepalang, ia langsung memanggil penjualnya.
" Pak beli!!!! Pak beli!!!!" Serunya.
"Mau beli rasa apa, di?" Tanya, penjualnuya."
"Beli rasa coklat dan keju, pak." Ucap, Lina.
"Rasa coklat dan keju sudah habis ini tinggal rasa durian dan rasa kelapa. Jadinya, gimana mau dibeli atau tidak?" Jawab penjualnya.
Lina.belum menjawab, sudah keduluan sama anak kecil yang ingin beli juga.
Komentar
Posting Komentar