MENAKLUKKAN HATI WANITA 40

Anak kecil yang membeli donat sangat banyak, ada sekitar 20 anak, mereka sedamg jalan-jalan dan tidak sengaja melihat penjual donat. Lina berusaha menunggu dengan sabar, penjualnya melayani anak-anak terlebih dahulu. Namun, Lina kecewa saat melihat donatnya ternyata sudah habis tidak tersisa.


"Maaf, ya, dik sudah habis dibeli semua, mereka tak layani  duluan takutnya nangis tadi." Kata penjualnya.


Lina hanya bisa mengangguk mengikhlaskan, walaupun dalam hatinya merasa kecewa. Penjual donatnya pun berlalu dari depan rumah, Lina dengan sepeda motor.


Sandi melihat, Lina sedang duduk di teras wajahnya terlihat muram. Sandi pun mendekati, Lina, ia duduk di sampingnya. Sandi iseng-iseng bertanya pada, adiknya tentang penjual donat yang baru saja lewat.


"Kamu kenapa bersedih? Kamu pasti bersedih karena tidak bisa PDKT sama penjual donat, ya?"

"Abang itu kebiasaan banget sih isengnya sedang kambuh. Aku itu sedih bukan karena tidak bisa PDKT sama penjualnya, tetapi tidak bisa beli donat. Aku sudah capek-capek memanggil malah keduluan sama anak-anak kecil yang sedang jalan-jalan."


Respon Lina dengan acuh agar sandi tidak menggodanya lagi.


"kalau tidak kebagian donat, Ya jangan nangis. Nanti sore kan bisa, beli di pinggir Desa sekalian jalan-jalan sore sama, Yusuf kan romantis rasanya. Apalagi ke sananya naik sepeda, betapabahagia rasanya."


Crocos, Sandi sambil tersenyum-senyum membayangkan romantisan membeli donat dan naik sepeda. Lina hanya terdiam, dalam hatinya mengiyakan usulan, sandi yang menyenangkan.


Sementara itu, Andre di depan rumahnya sedang memegang HP, wajahnya terlihat berseri. Ia membuka pesan dari, Anna yang baru saja diterima.


"Maaf, ya, kak, aku tadi malam sudah tidur jadi, baru balas. Aku Alhamdulillah kabarnya baik, Kakak sendiri gimana kabarnya?"


Andre langsung mengetik balasan dengan cepat, Iya benar-benar merasa bahagia bisa berbincang dengan, ana di pagi itu walau lewat dunia maya.


"Ya syukurlah kalau kabarmu baik, aku senang mendengarnya. Ya wajarlah kalau sudah tidur, lahgi pula sudah malam pas, aku kirim chat. Aku juga Alhamdulillah kabarnya baik, dan pastinya sehat walafiat tanpa kurang suatu apapun. Kamu lagi apa di pagi ini?"


Nan jauh di pinggiran Kota, Ana hatinya gembira membaca chat dari, Andre pagi itu. Ana langsung membalasnya, ia mengetik dengan kilat.


"Aku senang mendengarnya, kalau kabarmu baik. Aku baru selesai masak, hari ini, aku lagi banyak pesanan makanan."


Andre pun memberi semangat pada, Ana gadis yang membuat hatinya berbunga-bunga akhir-akhir ini.


"Wah, pasti masakanmu enak, makanya banyak yang pesan. Jangan lupa makan, ya! Kamu biar tidak gampang sakit!"


Ana pun mengiyakan ucapan, Andre dan memberi emoji senyuman.


Sementara itu, Yusuf membantu ibunya memotong bbumbu masakan, tangannya benar-benar lincah seolah-olah sudah terbiasa memasak. Yusuf sambil berbincang dengan ibunya tentang berbagai hal. Salah satunya, Yusuf ditanya soal kedekatannya dengan, Lina akhir-akhir ini.


"Kamu katanya sudah punya cewek? Yang, kamu bilang mau dikenalkan ke, ibu secepatnya? Terus kok dekat sama, Lina itu gimana? Nanti kalau cewekmu yang didekati cemburu gimana?" Tanya, bu Parno.

"Cewek yang mau tak kenalkan ke, ibu, ya, Lina bukan wanita lain. Masa si, iya, Lina mau cemburu sama dirinya sendiri, ya tidak mungkinlah." Jawab, Yusuf.

"Wah, kalau gitu sih, kamu gampang mendekatinya, ayahmu dan ayahnya Lina kan bersahabat. Mereka pasti sudah tahu keluarga, kita seperti apa. Kalau, kamu melamar, Lina bisa-bisa langsung dapat doa restu."


Ungkap, bung Parno dengan semangat, bagaikan mendapat emas batangan.


"Ibu itu bisa aja, kalau orang tuanya sudah merestui, Lina hatinya belum sepenuhnya milikku kan repot. Oh iya, Bu nanti habis selesai bantu di dapur, aku mau ke tempat, Lina kayanya sampai siang."


Pamit, Yusuf dengan wajah yang ceria dan penuh harap.


"Boleh saja ke sana, yang penting sebelum berangkat, sarapan dulu! Nanti, kita sarapan bersama seperti biasa, kalau main sudah sarapan kan enak tidak takut kelaparan." Sambung, bu Parno.


Yusuf senang banget mendengar jawaban, bu Parno yang tidak melarangnya. Tanpa terasa masakannya sudah matang, menu pagi itu sayur genjer ditumis dan tempe tepung.


Sementara itu, Lina menangkap, Andre sedang senyum-senyum sambil memegang hp. Lina memberi tahu, abangnya dengan berbisik.


"Bang lihat itu! Kak Andre sedang senyum-senyum sendiri di teras rumahnya! Kita Lihat yuk! Barangkali, dia sedang kerasukan, kalau sedang telponan tidak mungkin, soalnya hp-nya dipegang doang."


Crocos, Lina dengan berapi-api.


"Ya sudah kalau gitu, ayuk, kita lihat!" Balas, Sandi.


Sandi dan Lina menghampiri, Andre lalu bertanya.


"Ndre, kamu lagi kenapa? Kok senyum sendirian?" Tanya, Sandi.

"Aku lagi chat-an sama kenalanku di whatsapp, dia orang pinggiran Kota, Ana namanya. Doakan, ya, San siapa tahu mau denganku dan mau menemani sampai akhir hayatku." Jelas, Andre.


Sandi mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya samvil menepuk-nepuk pundaknya, tanda memberi semangat. Lina yang penasaran pun izin pada, Andre untuk melihat photonya.


"Kak Coba dong lihat fotonya! Dia soalnya namanya mirip sama temanku! Siapa tahu, aku kenal beneran!"


Andre pun menyerahkan hp-nya pada, Lina dan membuka nomor whatsApp-nya.


"Wah, ini kan sahabatku! Pantesan aja namanya tidak asing di telingaku!" Seru, Lina.

"Dunia itu memang sempit, ya! Kamu bisa dekat sama, Yusuf yang sahabatnya, Andre sejak SMP. Andre bisa kenal sama, Anna sahabat dekatmu." Imbuh, Sandi.


Lina hanya mengangguk mengiyakan, yang dikatakan, abangnya dengan tersenyum.


Sementara itu, Yusuf selesai sarapan langsung bersiap-siap, untuk menuju desa sebelah. Ia tidak lupa menelpon Andre untuk memberitahu kedatangannya.


Di teras rumahnya, Andre mengangkat telpon dengan gembira.


"Halo, Suf tumben pagi-pagi telpon- ada angin apa ni?" Tanya, Andre.

"Ndre, Kamu jangan pergi kemana-mana dulu! Aku pagi ini mau ke tempat, Lina sekalian mampir ke tempatmu. Lina jangan dikasih tahu dulu, ya! Ini biar jadi kejutan untuknya, aku soalnya belum bilang kalau mau datang." Jelas, Yusuf.


Andre hanya mengiyakan saja, padahal teleponnya dikeraskan. Lina dan Sandidiam saja, pura-pura tidak tahu percakapan itu. 

Komentar