Yusuf pagi itu keluar dari rumah dengan wajah ceria, ia naik sepeda kesayangannya sambil bersiul-siul. Ia di jalan teringat dengan pujaan hatinya, yang suka makan, Yusuf mampir ke penjual jajan yang buka di pinggir jalan.
"Beli, pak! kata, Yusu.
"Beli berapa, dik?"
Tanya sang penjual coklat, yang sedang menata dagangannya.
Yusuf menjawab sambil tersenyum, tangannya menunjuk empat coklat ukuran besar.
"Yang ini, tolong di bungkus, ya, pak!"
"Baik, dik."
Sementara itu, Di Desa sebelah, Lina ditanya, Sandi karena tidak membawa hp.
"Kok hp-nya tidak dibawa si, dik? Kalau, Yusuf kirim chat atau telpon gimana dong?"
"Ya sudah biarin aja, paling ujung-ujungnya ngambek kaya cewek gitu. Tidak bakal nggigit atau mukul kok, dia kalau ngambek paling cuma ngomel-ngomel kalau tidak, ya diam aja tidak main kekerasan."
Jawab, Lina dengan asal, benar-benar tidak merasa bersalah.
Andre hanya tersenyum, membayangkan sahabatnya yang gampang ngambekan.
"Aku tidak ikut-ikut, loh, kamu yang tanggung sendiri, loh! Kalau, Yusuf tidak mau ngomong atau datang, terus pulang lagi."
Lina hanya mengangguk mendengar ucapan, Sandi sambil bersandar di tembok.
Sementara itu, Yusuf setelah menerima kembalian, ia membuka hp mengirim pesan pada, Lina walau hanya satu kalimat.
Hai, cantik apa kabar?" ′tanya, Yusuf.
Pesan itu hanya tersampaikan, Yusuf pun mengayuh sepeda untuk melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu, bu Ahmad dan pak Ahmad pamit pada kedua anaknya untuk bepergian, lebih tepatnya menghadiri acara sunatan di Desa sebelah.
Andre yang mendengarnya pun meledek, Lina seperti tanpa dosa.
"Kok tidak ikut si, Lin?" ′tanya, Andre.
"Ya ttidaklah, emangnya kenapa si?" jawab, Lina.
"Kamu nanti nangis gara-gara tidak diajak jalan-jalan sama orang tuamu. Terus ngguling-ngguling di halaman rumah atau di pinggir jalan, terus nangisnya keras banget, kaya suara tronton."
kata Andre.
"Ya tidaklah, pakai nangis segala, kaya anak kecil aja. Aku kan sudah besar, ya tidak nangisan lagi." jawab, Lina lagi.
Sementara itu, Yusuf !di perbatasan Desa melihat penjual donat, ia pun mampir.
"Permisi, bu kira-kira donatnya berapa harganya?" tanya, Yusuf.
"Satunya dua ribu, mas ini masih hangat, mas. Sampeyan mau beli berapa?" kata penjualnya.
"Aku beli sepuluh kalau gitu, bu."
"Mau yang rasa apa, mas?"
"Aku mau rasa coklat, keju dan kacang." jawab, Yusuf.
Ibu penjual ∀donatnya langsung membungkus, pesanan, Yusuf dengan cekatan.
Yusuf perasaannya gembira, ia akan bertemu dengan orang-orang yang disayangi. Ia sesudah menerima donat, mengayuh sepedanya dengan kencang. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya, ia berpikir dalam hati.
"Gimana, ya reaksinya, Lina pas lihat, aku nongol dengan tiba-tiba."
Yusuf tidak tahu kalau, Lina dan Sandi mendengar percakapannya dengan, Andre, di telpon.
Yusuf akhirnya sampai di kediaman sahabatnya, ia terkejut, Lina dan Sandi sedang ngobrol bareng, Andre dengan asyik. Yusuf prote₣s pada, Andre dengan wajah cemberut, ngomongnya juga ketus.
"Akukan tadi sudah bilang! Lina jangan dikasih tahu dulu, biar menjadi kejutan! Ini malah sudah manggil, Lina jangan-jangan, kamu sudah bilang ! Kalau, aku mau datang! Andre itu gimana si?!"
"Kamu kan bilangnya jangan ngasih tahu doang, tidak bilang jangan manggil, Lina berarti tidak salah. Kamu yang pesannya kurang lengkap kayanya, tadi kan jangan bilang sama, Lina doang tidak ada kata jangan manggil, Lina kok. Lagi pula, Lina sudah di sini, dari sebelum dirimu menelponku." Protes, Andre.
Yusuf mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya, rasa malu terlihat jelas di wajahnya.
"Aku yang salah, ya berarti? Emang iya si, aku tadi hanya pesan jangan bilang doang. Tidak bilang jangan manggil, Lina dulu, aku baru ingat. Maaf, ya, aku sudah marah yang tidak jelas."
"Iya tidak apa-apa, aku sudah paham dengan sikapmu yang gampang marah, bagaikan anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan." Jawab Andre.
Yusuf pun duduk di sebelah kiri, Andre lalu membuka tas. Mengeluarkan donat seplastik sambil tersenyum, lalu membaginya pada, Lina, Andre dan Sandi.
Sandi dengan sepontan berucap pada, Lina yang ada di sebelah kanannya.
"Wah, beli donat romantisnya batal dong, kan donatnya sudah ada. Kamu sedih dong, kamu jangan nangis, ya, dik!"
"Ya alhamdulillah kalau sudah ada, malah senang tinggal menikmati jadi, tidak bingung mau beli di mana." Kata, Lina.
Yusuf yang merasa penasaran pun bertanya, tentang ucapan, Sandi pada pujaan hatinya.
"Siapa yang ingin beli donat sambil romantisan? Aku kok baru dengar si? Aku apa sudah ketinggalan info?"
Yusuf bertanya benar-benar kaya orang bingung.
Andre yang melihat ekspresi, Yusuf hanya tersenyum.
"Ya, Lina yang dari kemarin ingin beli donat, tadi mau beli malah sudah keduluan sama anak kecil. Aku sarankan beli sama, Yusuf sambil naik sepeda, kan rasanya romantis. Lina tadi itu langsung setuju, Yusuf malah sudah bawa donat duluan." Jelas, Sandi.
"Kok tidak bilang si, kalau ingin jalan-jalan sama beli donat. Kalau bilang, aku kan kesininya nanti sore tidak sekarang." kata, Yusuf.
"Aku belum sempat buka hp, tadi tak tinggal di kamar. Aku tadi baca buku di teras, terus dengar penjual donat, ingin beli malah tidak kebagian. Lihat, kak Andre lagi senyum-senyum sendiri, aku penasaran, terus langsung ke sini. Jadi ya belum bilang apa-apa, aku tadi niatnya mau bilang pas, habis shalat dhuhur." Jelas, Lina.
"Oh, pantasan aja tak chat belum ada respons, ternyata tidak bawa hp. Andre kenapa kok sampai senyum-senyum sendiri? Apa setres mendadak gara-gara mikir hutang?" Kata, Yusuf.
"Kak Andre itu bukan mikirin hutang ternyata, tetapi senyum-senyum itu lagi chat-an sama calon ceweknya." Jelas, Lina.
"Siapa si ceweknya? Orang mana ceweknya? Andre kok jahat banget, punya cewek tidak pernah cerita." Protes, Yusuf.
"Dia orang pinggiran Kota, Ana namanya, aku belum pacaran, masih proses pendekatan. Jadi, ya wajar kalau belum cerita sama sekali." Balas, Andre.
"Ya tetap jahat, sama sahabatnya sendiri, yang selalu menemani dalam suka dan duka, masa tidak cerita si. Kamu sudah pernah ketemu sama orangnya atau belum? Kalau belum pernah ketemu, kamu kapan akan ketemu dengan gadis itu?" Cecar, Yusuf.
Komentar
Posting Komentar