Andre menjawab pertanyaan, Yusuf dengan hati berdebar.
"Aku waktu itu kenal sama, Ana lewat facebook, aku sampai sekarang masih komonikasi dengannya lewat facebook, belum bertemu secara langsung. Kalian berdua nanti tak kenalin sama orangnya kalau, aku sudah bertemu secara langsung. Kalau, Lina sudah kenal jadi, tidak, aku kenalkan." Jelasnya.
"Masa si tidak ketemu langsung, ya kurang asyik dong. Buruan orangnya ditemui! Terus ungkapkan perasaanmu dengan romantis, seperti di Negeri dongeng." Ucap, Yusuf.
"Nah, benar itu, lagi pula kalau kelamaan menyatakan cinta nanti bisa keduluan orang lain, loh, kak Andre. Kenapa kok tidak bertemu secara langsung, kak?" Sambung, Lina.
"Aku belum tanya alamat lengkapnya jadi, aku masih belum bisa ketemu." Jawab Andre.
"Kak Andre si tidak pernah cerita, tadi aja kalau, aku sama bang Sandi tidak penasaran, ya paling tidak bakal cerita. Coba cerita dari awal pasti tak kasih alamatnya." Crocos, Lina.
"Kamu emang tahu alamatnya?" Tanya, Yusuf.
"Ya tahu bangetlah, masa si rumah teman sendiri tidak tahu, kak Yusuf itu gimana si. Orang, kak Yusuf aja sebenarnya pernah ketemu sama, dia, kak Yusuf aja yang lupa." Gerutu, Lina.
"Aku pernah ketemu? Kapan? Di mana?"
Tanya, Yusuf dengan rasa bingung tingkat dewa.
"Dulu ketemu di toko buku pas, kita kenalan gara-gara tabrakan." Kata, Lina.
"Oh yang itu orangnya, aku ingat sekarang. Dia memang cantik si, ya wajar si kalau, Andre sampai bisa kepincut. Itu, Ndre alamat sudah ada, sekarang tinggal, kamunya aja. Mau ketemu kapan? Kalau memang masih ragu, ya setidaknya ketemu biar bisa kenal lebih dekat lagi." Gumam, Yusuf.
"Insya-Allah minggu depan, aku biar ngumpulin sangunya dulu. Nanti, kita sekalian jalan-jalan, siapa tahu, Ana juga mau ikut." Kata, Andre.
"Dia itu tidak bakal nolak, kalau diajak ke pantai." Cletuk, Lina.
Sandi senyum-senyum menyaksikan, mereka membahas gadis incaran, Andre.
Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 11.00, mereka berniat shalat dhuhur berjamaah di masjid. Donat yang dinikmati sudah habis tak tersisa, yang ada tinggal bungkusnya.
Sementara itu, pak Ahmad dan bu Ahmad pulang dari acara sunatan, berkatnya makanan mentah. Ada gula, beras, teh, tempe dan telur sehingga, langsung dibawa masuk. Tidak ditawarkan pada empat sekawan, yang masih asyik ngobrol di halaman rumah, Andre.
Sedangkan, Yusuf bertanya tentang orang tua, Andre yang tidak terdengar suaranya.
"Ayah dan ibumu ke mana? Kok tidak kelihatan?"
"Orang tuaku ke tempat, simbah dari tadi habis subuh, Suf." Kata, Andre.
Yusuf mengangguk mendengar penjelasan sahabatnya.
Suara beduk terdengar nyaring, disusul suara azan, mereka langsung bergegas ke masjid. Lina berada di barisan para perempuan, Andre, Sandi dan Yusuf di barisan para lelaki. Shalat berjamaah berjalan dengan lancar, sayangnya pas habis salam, terdengar suara kentut.
"Prepet!!!! Prepet!!!"
Sandi, Andre, Yusuf dan para jamaah yang lain pada senyum. Mendengar suara kentut yang sangat nyaring, suaranya terdengar dari barisan lelaki yang paling belakang.
Mereka usai shalat tidak langsung pulang, mampir ke warung bakso.
"Makan bareng dulu yuk! Nyoba bakso yang di perbatasan Desa! Baksonya di sana enak, loh, tidak bakal mengecewakan." Ujar, Sandi.
Mendengar kata bakso, mereka perutnya bernyanyi, seolah-olah mengsetujui.
"Kruyuk-kruyuk!!!! Kruyuk-kruyuk!!!!"
"Kalau, bang Sandi yang bayarin si, aku mau banget." Kata, Lina.
"Masalah bayar, kalian jangan khawatir, aku yang bayar semuanya." Kata, Sandi.
Mereka ke warung bakso menggunakan sepeda, mereka di sana mendengar info, akan ada karnafal.
"Besok nonton karnafal yuk! Terus pakai baju yang warnanya kembaran yuk!" Ajak, Yusuf.
Komentar
Posting Komentar