Mereka sampai di warung bakso, langsung mendengar besok akan ada karnafal. Yusuf dengan semangat mengajak, Sandi, Lina dan Andre nonton.
"Kita besok ikut nonton karnafal yuk! Terus pakai baju yang warnanya kembaran yuk!" Ajaknya.
"Sebelum membahas tentang karnafal terlalu jauh, kita pesan baksonya dulu! Biar perutnya tidak kelaparan pas menbahas karnafal."
Kata, Andre sambil membawa buku menu yang tersedia.
"Kalian pada mau pesan apa?" Tanya, Andre.
"Aku pesan bakso urat, sate usus, kerupuk kulit dan es campur." Kata, Sandi.
"Aku pesan bakso mercon, sate hati, kerupuk pedas dan es kelapa." Kata, Lina.
"Aku pesannya sama kaya, Lina, tetapi ditambah sate usus." Kata, Yusuf.
Andre mencatat semua pesanan kawannya, ia sendiri pesan bakso jumbo, sate usus dan es kelapa. Andre menyerahkan catatan pada pelayan, sedangkan yang lain menunggu di meja, letaknya di bawah jendela.
"Makan di sini atau dibungkus, mas?" Tanya pelayan.
"Makan di sini, pak." Jawab, Andre.
"Di meja sebelah mana, mas?" Tanya pelayan lagi.
"Meja di dekat jendela, menghadap ke arah utara." Jelas, Andre.
Pelayan itu langsung paham, ia mengangguk mengiyakan.
"Ok, mas kalau gitu tak bikinkan dulu. Ditunggu dulu, ya, mas!"
Andre mengangguk mengiyakan, ia pun mendekat pada kawan-kawannya, yang sudah pada duduk. Ia duduk di sebelah kanan, Yusuf berhadapan dengan, Sandi. Lina ada di sebelah kiri, Sandi berhadapan dengan, Yusuf meja sebagai pembatasnya.
Tidak jauh dari meja, mereka sekelompok remaja masih membahas karnafal.
"Besok karnafal mulai jam 10.00, ya?" Kata, Intan.
Temannya yang bernama, Dina mengangguk mengiyakan, lalu berucap.
"Ngomong-ngomong besok tempatnya di mana si? Aku soalnya lupa lokasinya, aku takutnya tersesat kalau, kita kebetulan tidak berangkat bareng."
"Lokasinya di Desa Pinggir Gunung, kamu jangan khawatir. Kita besok berangkat bareng-bareng, menggunakan sepeda motor, biar tidak ada yang tersesat." Jelas, Intan.
Dina mengangguk mengiyakan, tanda sudah memahami ucapan, kawannya lalu lanjut makan.
Yusuf yang mendengar percakapan itu hatinya berbinar, ia paham Desa yang dimaksud kediaman, paman Ayub yang ngomongnya ceplas-ceplos. Yusuf kembali berucap dengan serius, ia berharap bisa nonton dengan pujaan hati dan kedua sahabatnya.
"Besok nonton bareng yuk!"
"Aku kebetulan besok tidak ada kesibukan, aku bisa ikut nonton, kamu tenang aja." Kata, Andre.
Sementara itu, pelayan menghampiri, membawa makanan dan minuman yang, mereka pesan.
"Ini, mas-mas, mbak silakan! Sudah sesuai dengan yang dipesan, ya?" Kata pelayan.
Sandi manggut-manggut mengiyakan, mewakili yang lain.
Pelayan itu berlalu dari meja empat sekawan, untuk melayani pelanggan yang lainnya.
Yusuf sambil mengaduk bakso agar sambalnya trrcampur dengan sempurna, kembali bertanya karena baru, Andre yang memberi kepastian.
"Cantik ikut, ya? Mau, ya, cantik?"
Lina pun menjawab sambil tersenyum, tangannya fokus mengaduk sambal agar menyatu dengan baksonya.
"Aku mau ikut, tetapi mau mengajak teman."
"Hore! Aku senang dengarnya, kamu bersedia ikut nonton. Boleh kok kalau mau bawa teman, cowok atau cewek temannya?" Ujar, Yusuf.
"Temannya cewek, cantiknya kaya bidadari. Kalian pasti bakal terpesona, kalau sudah menyaksikan kecantikannya." Kata, Lina.
"Aku si tidak akan terpesona, karena hati ini sudah kupersembahkan untukmu, cantik." Ujar, Yusuf lagi.
Lina tidak menanggapi lagi, ia asyik menikmati bakso.
"Aku besok ikut nonton, tetapi mau mengajak, Santi biar bisa nonton dengan romantis." Kata, Sandi.
"Sandi mau ngajak ceweknya, Lina mau ngajak kawannya. Aku terus besok ngajak siapa dong?"
Tanya, Andre sambil cemberut, seolah sedang ngambek.
"Kamu ngajak gitar aja sana! Barangkali nanti di sana ingin nyumbang lagumu yang terbaik, loh." Usul, Yusuf.
"Kamu itu yang benar aja kalau kasih saran, yang ada si, aku jadi, pengisi acara, bukan nonton lagi. Kalau diriku disuruh bawa gitar, kamu tak suruh bawa laptop, biar nonton sambil nulis." Gerutu, Andre.
"Ya tidak bisalah, aku tidak fokus, kalau nonton sambil nulis." Jawab, Yusuf.
"Kamu aja tidak mau bawa laptop, ya jangan suruh, aku bawa gitar." Gerutu, Andre lagi.
Sandi yang menyaksikan perdebatan, mereka yang belum selesai pun menengahi.
"Sudah makan dulu! Ngobrolnya nanti lagi!"
Setelah itu, mereka menyantap bakso dan es dengan nikmat, serasa di syurga.
Selesai makan, Sandi membayar semuanya, ia menepati janjinya untuk mentlaktir, mereka bertiga.
"Kak Yusuf mau langsung pulang?" Tanya, Lina.
"Aku mau ke tempat, Andre dulu sebelum pulang, kalian biar tidak ada yang jalan kaki. Tadi kan cuma bawa sepeda dua, untuk dipakai empat orang." Sambung, Yusuf.
"Kita jalan kaki juga tidak apa-apa kalau, kak Yusuf sudah ingin pulang." Imbuh, Lina.
"Kalian jangan jalan kaki! Aku pokoknya mau ikut ke tempat, kalian dulu!"
Kata, Yusuf dengan tandas, ucapannya tidak mau dibantah.
Sesampainya di depan rumah, Andre, Yusuf membuka tas. Ia memberi bingkisan pada, Lina setelah itu pamit pulang, karena sudah main seharian.
Lina pun penasaran dengan isi bingkisan, yang diberikan padanya.
Sementara itu, Yusuf sudah sampai di rumah, ia menaruh sepeda, lalu masuk. Di rumah suasananya sepi, orang tuanya sedang istirahat, karena hari ini orang tuanya tidak ke toko. Yusuf duduk di sofa ruang tamu, tiba-tiba hp-nya berbunyi dengan nyaring. Yusuf segera mengambil hp dari tas, ia melihat layar, karenak penasaran. Ternyata, om Ayub yang telpon, Yusuf bertanya-tanya dalam hati.
"Om Ayub tumben banget telpon? Ada angin apa ini?"
Yusuf langsung mengangkat telpon, ia menyapa sekenanya.
"Halo, om ada apa, ya?"
"Suf besok di Desaku mau ada karnafal, acaranya ramai. Kamu besok nonton, ya!" Kata, Ayub.
"Tenang aja, aku besok nonton bawa pasukan, om." Jawab, Yusuf.
"Pasukannya, ya paling, Lina dan Andre." Imbuh, Ayub.
"Bukan hanya itu si, ada yang lain lagi, om." Jawab, Yusuf lagi.
Ayub pun mengiyakan ucapan ponakannya, lalu mengakhiri telpon.
Sementara di desa sebelah, Sandi dan Andre masih ngobrol di bangku bawah pohon sambil menunggu waktu asyar. Lina masuk dalam kamar, ia membuka bingkisan, Yusuf ternyata isinya coklat.
"Hore, aku punya coklat besar, ada empat biji."
Lina menyimpan coklatnya di tempat yang aman hanya, Lina yang tahu. Setelah itu, Lina membuka hp, mengirim pesan pada sahabatnya.
'"Ana besok pagi datang ke rumahku! Kita besok nonton karnafal bareng!" Ujar, Lina.
Komentar
Posting Komentar