Pada jumat pagi yang cerah, matahari datang menyapa bumi dengan tersenyum. Pak udin sedang makan petai sambil melamun, di teras rumah seorang diri. Istrinya sedang memasak nasi di dapur, sambil memasak air, karena persediaan air minum sudah habis.
Lina yang sedang berjalan melihat, pak udin sedang melamun pun menghampiri dan bertanya.
" rasanya tidak enak, ya, pak? Kok makannya sambil merenung kayak gitu?"
Pak udin pun menjawab setelah menelan petai yang dikunyahnya.
" ini bukan petai yang rasanya tidak enak, tetapi kalau makan petai seperti ini, aku jadi teringat dengan pohon petai yang ku tanam. Aku sudah menanamnya selama bertahun-tahun, tetapi belum juga menyenangkan hatiku."
Jawab, pak udin dengan ekspresi datar.
Lina kembali bertanya dengan tersenyum manis.
" memangnya ada apa dengan tanaman petaimu, pak?"
" aku bertahun-tahun menanam pohon petai, ia nyatanya tidak berbuah-berbuah. Aku merasa bersedih, setiap lihat tanaman petai milik orang lain berbuah. Aku terkadang sampai berpikir, kapan ya tanaman petaiku berbuah seperti itu? Walaupun pertanyaan itu tanpa jawaban, pertanyaanku hanya terbang dan hilang terbawa angin."
Tutur, pak Udin di pagi itu, rasa sedih tergambar di wajahnya dengan jelas.
Lina pun penasaran dengan lanjutan ceritanya.
" lalu apa yang, sampean lakukan, pak? Agar petainya bisa berbuah dengan lebat?"
" aku awalnya hanya membiarkan pohon itu rindang begitu saja, tiba-tiba entah tahun yang keberapa pohon itu berbunga dengan sangat lebat. Aku perasaannya sangat gembira dengan begitu luar biasa, walaupun pohon itu belum berbuah."
" apakah pohon petai itu akhirnya berbuah juga, pak?" Tanya, Lina.
Pak Udin pun menjawab pertanyaan itu masih dengan ekspresi datar.
" bunganya tidak menjadi buah petai, tetapi rogol atau runtuh satu persatu pada keesokan harinya. Aku perasaannya sedih yang begitu mendalam, pohon petaiku tidak jadi berbuah. Aku padahal sudah berjanji dalam hati, kalau petainya berbuah banyak, aku ingin membagikannya kepada para warga, saat panen petai yang pertama."
Lina masih saja penasaran dengan kelanjutan tentang pohon petai tersebut.
"Terus sekarang pohonnya sudah ditebang atau bagaimana, pak?"
Pak Udin kembali menceritakan tentang pohon tersebut agar, Lina tidak merasa penasaran.
" aku sempat dikasih saran oleh seseorang untuk membeli obat semprot, aku pun membelinya. Aku berharap dengan adanya obat semprot, buah petaiku akan berbuah, tetapi hasilnya nihill, tidak berbuah juga."
" terus mengapa tidak ditebang? Kalau sampai sekarang tidak berbuah juga?" Tanya, Lina.
" sengaja tidak ku tebang, biarkan saja pohonnya rindang. Biar bisa untuk berteduh di sawah, karena pohon itu kutanam di pinggir sawah." Jawab, pak Udin.
Lina pun mengangguk memahami penjelasan, pak udin di pagi itu.
Lina pun memberi pantun pada, pak Udin sambil tersenyum.
Pagi-pagi makan tahu
Dilengkapi dengan nasi uduk dan susu
Kalau tanaman petai itu bukan rezekimu
Pasti tanaman yang lainnya akan berbuah dan menjadi rezekimu
Lina pun berlalu untuk melanjutkan perjalanan, pak Udin melanjutkan makan petai. Pak Udin juga terhibur dengan pantun dari, Lina.
Selesai
mantap mantap
BalasHapus