Aminah adalah seorang gadis cantik, dari Desa Pinggir Sungai. Ia jatuh cinta dengan pemuda, yang merantau di Provinsi Kalimantan Barat, Anuar namanya. Pada suatu hari, Anuar bertanya pada, Aminah dengan lembut.
"Aminah dirimu lebih suka sama laki-laki perokok? Atau laki-laki yang enggak merokok?"
"Kalau boleh jujur, aku lebih suka sama laki-laki yang enggak merokok. Kamu emangnya suka merokok, ya?" Balas, Aminah.
"Wah, kebetulan sekali, aku bukan laki-laki perokok. Aku berarti bisa dong menjadi teman hidupmu, menjadi lebih spesial dalam hatimu." Ujar, Anuar.
"Wah, kamu ini bisa aja si, kamu kan emang sudah menjadi yang spesial di hatiku sejak lama. Walaupun, aku enggak suka sama laki-laki perokok, tetapi kalau dirimu seorang perokok juga enggak apa-apa. Aku akan berusaha mengerti, aku enggak melarang kok kalau, kamu enggak bisa lepas dari rokok juga." Jawab, Aminah lewat telpon.
Karena, Anuar belum punya rezeki untuk mengunjungi Aminah di kabupaten batang jawa tengah. Aminah si percaya percaya saja, dengan ucapan kekasih hatinya itu.
Sebulan kemudian, pada siang hari, Aminah berkomunikasi dengan kekasihnya seperti biasa, melalui telepon. Namun, Aminah merasa kecewa, gara-gara enggak sengaja mendengar, kekasihnya sedang merokok. Anuar enggak sengaja keceplosan, saat ditanya korek api, oleh saudaranya.
"Anuar, aku pinjam koreknya dong!" Kata saudaranya
" aku koreknya sudah habis, belum beli lagi si. Aku aja tadi nyalakan rokok pakai kompor gas, aku belum sempat keluar buat beli korek." Jawab, Anuar.
Mendengar hal itu, Aminah langsung meradang.
"Kamu itu dasar tukang bohong!!!! Katanya enggak suka merokok, tetapi nyatanya sedang merokok!!!! Kamu jahat banget sih ternyata, aku selama ini dibohongi!!!!"
"Aku itu enggak merokok, itu saudaraku yang pinjam korek, buat menyalakan rokok. Kamu kayaknya yang salah dengar, aku enggak bilang sedang merokok, cuma bilang enggak punya korek." Sangkal, Anuar.
Aminah pun berusaha untuk percaya, ia berpikir mungkin dirinya yang salah sangka. Seminggu kemudian, Anwar pergi ke warung, untuk membeli rokok.
"Sayang tunggu sebentar, ya! Aku tak ke warung dulu!" Pamit, Anuar di telpon.
"Kamu ke warung mau ngapain?" Tanya, Aminah.
"Aku mau beli rokok buat, pakdeku." Jawab, Anuar.
"Aku kira itu rokok untukmu." Kata, Aminah sambil bercanda.
"Kamu itu kalau ngomong yang bener aja! Aku sudah bilang kalau, aku enggak pernah merokok!" Sahut, Anuar di ujung telpon dengan nada sewot.
"Ya maaf, aku bercanda kok, enggak ngomong serius." Balas, Aminah.
"Kamu awas aja kalau sampai ngomong kayak gitu lagi! Aku enggak bakalan mau teleponan lagi! Kamu ingat baik-baik!" Respons, Anuar.
"Iya-iya, Aku enggak ngomong lagi kok." Kata, Aminah di seberang telepon.
Anuar habis membeli rokok bukannya menyerahkan pada, pakdenya malah lanjut ngobrol dengan, Aminah di telepon. Aminah yang merasa penasaran pun, bertanya dengan hati-hati.
"Kamu itu gimana si? Kok rokoknya nggak dikasihkan dulu?"
"Rokoknya sudah tak kasihkan, aku taruh di meja. Di sebelah kopi milik pakdeku, iya sedang bersih-bersih di rumahku jadi, disiapkan rokok sama kopi." Jawab, Anuar.
Aminah lagi-lagi Percaya saja dengan ucapan, Anwar yang berusaha berbohong dengan rapi. Dua minggu kemudian, kembali ada kejadian kembali tentang rokok saat, Aminah sedang telepon malam-malam dengan, Anwar di ruang keluarga rumahnya.
Aminah awalnya ngobrol dengan asyik tentang berbagai hal dengan, Anwar sekaligus melepas Rindu. Tiba-tiba Ada saudaranya, Anwar yang akan pergi ke warung, Andi namanya.
"Andi kalau mau ke warung, Aku titip dong!"
"Anuar mau titip apa emangnya?"
"Andi, Aku titip rokok satu bungkus, ya!"
Andi pun mengiyakan titipan saudaranya itu, lalu berangkat ke warung.
Aminah yang mendengar percakapan itu, langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Kamu beli rokok, ?"
"Enggak kok, itu saudaraku yang beli." Jawab, Anuar.
"Kamu kalau enggak beli? Terus kenapa bilang mau titip?" Tanya, Aminah.
"Aku cuma iseng-iseng aja si, bilang mau titip, tetapi enggak kasih uang." Alasan, Anuar.
Aminah yang curiganya semakin dalam pun, bertanya pada sahabat, Anwar yang dikenalnya melalui pesan Whatsapp.
"Mbak Dewi, Anuar suka merokkok?" Tulis, Aminah.
"Dia merokok si, kalau pas lagi pingin aja. Kenapa emangnya, kak?" Balas, Dewi.
"Enggak si, mbak cuma ingin bertanya aja. Terima kasih banget, ya, Mbak atas Jawabannya." Tulis, Aminah lagi.
Aminah dengan mantap minta putus dari, Anwar agar perasaannya enggak semakin terluka. Dengan kebohongan yang selama ini, Anwar ciptakan untuk dirinya. Anwar pun mengabulkan keinginan, Aminah untuk mengakhiri kisah cintanya.
Selesai
Komentar
Posting Komentar