Anisa Nur Safitri, seorang siswa kelas 1 sma. Ia seorang gadis cantik dari desa kayu cendana, iya pada suatu sore bermain dengan temannya yang bernama, Lisa Nur Amalia ke desa sebelah.
"Nis kenapa si kok bengong? Kamu lagi nikirin cowok, ya?" Ucap, Lisa.
"Enggak mikirin siapa-siapa, aku lagi bosan aja, ingin cari hiburan. Lis jalan-jalan yuk! Siapa tahu di jalan, kita bertemu penjual makanan enak!" Kata, Nisa.
"Kamu itu yang dipikirkan makanan terus, emangnya enggak ada yang lain apa si?" Balas, Lisa.
"Ya biarin aja mikirin makanan, dari pada mikirin narkoba kan bisa bahaya." Kata, Nisa lagi.
"Ya benar juga si apa katamu, mending mikirin makanan dari pada hal yang enggak benar. Aku tak pamit sama orang tuaku, mereka biar enggak bingung nyariin. Habis itu, kita jalan keliling Desa, menikmati suasana sore yang sejuk." Ujar, Lisa.
Nisa pun mengangguk mengiyakan, ia pun siap-siap, lalu pamitan pada orang tuanya.
"Mamah, aku mau jalan-jalan, ya!" Pamit, Nisa.
"Jalan-jalan ke mana? Sama siapa perginya?" Tanya, bu Adam.
"Aku pergi sama, Lisa buat keliling kampung." Jelas, Nisa.
Bu Adam mengizinkan anaknya jalan-jalan, dan berpesan agar pulangnya tidak terlalu sore.
" kalau jalan-jalan perginya hati-hati! Terus sebelum maghrib harus sudah sampai rumah!" Pesan, bu Adam.
Nisa pun mengangguk mengiyakan, ia menyalami orang tuanya, lalu keluar. Ia menunggu sahabatnya di bangku bawah pohon, yang ada di halaman rumahnya.
Sementara itu, Lisa yang rumahnya enggak jauh dari kediaman, Nisa pun pamitan dengan orang tuanya.
"Ibu, aku mau keluar, ya!" Kata, Lisa.
"Jalan-jalan ke mana, nak?" Tanya, bu Agus.
"Mau cari angin segar, sekalian keliling Desa." Jawab, Lisa.
Bu Agus pun mengiyakan, ia pun berpesan kalau waktunya beribadah harus ingat, walaupun sedang jalan-jalan. Lisa mengiyakan pesan orang tuanya, ia pun menyalami orang tuanya. Lalu keluar, menghampiri, Nisa yang sudah menunggu dirinya.
"Maaf, ya kalau terlalu lama menunggu." Kata, Lisa.
"Enggak kok tenang aja, aku juga baru keluar." Jawab Nisa.
"Mari berangkat!" Kata, Lisa lagi.
Mereka pun pergi mengelilingi desa hingga, tanpa terasa sampai di desa jagung manis. Langit berwarna jingga, tertanda matahari akan kembali ke peraduan. Mereka enggak sengaja singgah di warung penjual gorengan.
"Kamu mau beli apa?" Tanya, Nisa.
"Aku tahu bakso dua, tempe dua dan bakwan dua." Jawab, Lisa.
Nisa pun mengerti pesanan sahabatnya, lalu memesankannya, ia sendiri beli tahu bakso lima dan bakwan lima biji. Tanpa terasa, 15 menit kemudian pesanan, mereka sudah siap. Nisa menerima makanan tersebut, dan menyerahkan uang pembayaran.
"Kita makan di mana gorengannya?" Tanya, Nisa.
"Kita makan di taman, sambil menikmati tanaman bunga yang cantik-cantik." Jawab, Lisa.
Mereka pun berjalan menuju taman, sambil menenteng plastik isi gorengan yang terasa sedap.
Sementara itu, Toni yang baru keluar dari taman, enggak sengaja melihat, mereka yang sedang duduk sambil makan.
"Itu cewek cantik-cantik banget, aku kayanya cocok. Kalau bisa mengenal salah satunya, aku beri senyum dululah. Kalau rezekiku, besok bakal ketemu lagi, buat kenalan." Batin, Toni.
Toni pun tersenyum sambil menatap, Nisa lalu menghilang.
"Cie-cie dapat senyuman dari cowok." Ledek, Lisa.
Nisa pun hanya tersenyum, menanggapi ocehan sahabatnya.
"Kamu emangnya enggak terpesona sama cowok tadi?" Tanya, Lisa.
"Ya enggaklah, aku kenal aja enggak." Jawab, Nisa.
"Kamu tahu enggak si? Dia senyumnya manis banget, kayanya senyuman khusus untukmu." Kata, Lisa.
"Kamu itu sukanya ngacau, perasaan itu senyuman biasa aja, loh." Respons, Nisa.
"Hati-hati, loh, besok siapa tahu ketemu lagi." Goda, Lisa.
"Ah enggak mungkin." Respons, Nisa lagi.
"Kita lihat aja besok." Gumam, Lisa.
Nisa enggak menanggapi, ia pura-pura asyik dengan gorengannya. Padahal dalam hatinya berdebar-debar, Nisa penasaran dengan cowok tersebut. Ia sebenarnya mengaminkan ucapan sahabatnya, berharap hari esok kembali bertemu dengan cowok yang memberinya senyuman. Namun, rasa penasarannya hanya disimpan dalam hati, Nisa karena belum kenal dengan cowok yang memberinya senyuman.
"Gorengannya enak, ya, Lis?" Ujar, Nisa.
"Iya enak banget, apalagi kalau gorengannya geratis. Karena dirimu bisa kenal sama cowok yang tadi, aku bisa makan-makan dengan puas." Crocos, Lisa.
"Iya kalau, aku punya banyak rezeki, kamu tak tlaktir, untuk makan sepuasnya." Jawab, Nisa dengan asal.
Waktu semakin sore, gorengan yang, mereka nikmati sudah habis.
"Nis pulang yuk!" Ajak, Lisa.
"Ayuk, biar sampai rumahnya enggak kesorean." Jawab, Nisa.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan, untuk kembali ke desa kayu cendana.
Sementara di tempat lain, pak Adam bertanya kepada istrinya.
"Nisa ke mana si, bu? Kok sampai sekarang belum pulang?" Tanya, pak Adam.
"Tadi sih pamitnya mau jalan-jalan sama, Lisa keliling keliling desa. Aku sih sudah mengingatkan, kalau pulang jangan terlalu sore, tetapi kok sampai sekarang belum pulang, ya?" Jawab, bu Adam.
"Ya sudah, kita tunggu saja, dia pasti pulang. Enggak mungkin kalau tersesat, terus enggak bisa pulang. Lagi pula ini masih di Desa sendiri sudah hafal semua jalannya." Sambung, pak Adam.
Bu Adam pun mengangguk mengiyakan, walaupun sebenarnya masih kepikiran anak perempuannya yang belum pulang.
Di rumah pak Agus juga terjadi hal yang sama, pak Agus bertanya kepada istrinya. "Lisa ke mana si? Sudah sore kayak gini kok belum pulang?"
" tadi, dia jalan-jalan sama, Nisa paling sebentar lagi pulang." Jawab, bu Agus.
Sementara itu, Lisa dan Nisa yang sudah sampai di desa, mereka duduk di depan masjid. Karena suara murotal sudah terdengar, sebentar lagi maghrib. Mereka tidak pulang ke rumah, langsung mampir ke masjid,, daripada bolak-balik mending sekalian habis shalat, langsung pulang ke rumah masing-masing.
"Lis, kamu mau pakai mukena warna apa?" Tanya, Nisa.
"Aku si mau pakai mukena warna coklat, kayanya si di lemari ada, baru datang kemarin. Kalau, kamu mau pakai mukena warna apa?" Sambung, Lisa.
"Aku si biasa mau pakai mukena warna biru." Jawab, Nisa.
Lisa manggut-manggut mendengar jawaban sahabatnya.
Suara azan berkumandang, para warga sudah pada datang, untuk shalat berjamaah. Nisa dan Lisa pun bergegas ke tempat wudhu, mengambil air wudhu dengan khusuk.
"Airnya dingin, ya, Lis?" Cletuk Nisa.
"Ya dinginlah, orang enggak direbus." Sahut, Lisa dengan asal.
Lisa dan Nisa sudah menggunakan mukena, mereka mengambil barisan di bagian tengah. Shalat berjalan dengan lancar tanpa kendala, imamnya suaranya merdu saat memimpin shalat.
Bu Agus dan bu Adam jalan bareng saat dari masjid, mereka melihat, Nisa dan Lisa sedang jalan bareng.
"Kalian tadi tersesat atau gimana? Kok jam segini baru pulang?" Tanya, bu Adam.
Komentar
Posting Komentar