Nisa menjawab pertanyaan, mamahnya sambil tersenyum. "Kita sebenarnya tadi sudah pulang, cuma enggak langsung ke rumah. Kita dudukan di depan masjid, sambil menunggu waktu maghrib, mah."
"Oh gitu, mamah kira tersesat, sudah sore banget kok enggak pulang-pulang. Ya sudah enggak apa-apa kalau sudah pulang, terus dudukan di depan masjid. Pulang yuk sudah malam! Mainnya besok lagi!" Kata, bu Adam.
Nisa pun mengangguk mengiyakan, lalu berpisah dengan sahabatnya.
"Aku pulang dulu, ya! Kita besok berjumpa lagi, kalau kangen telpon, ya!" Ucap, Nisa.
"Ok siap, jangan lupa mengerjakan PR, ya!" Jawab, Lisa.
Setelah itu, Lisa pun pulang dengan, ibunya untuk makan malam dan belajar.
"Mendungnya tebal banget, ya, bu? Kaya mau hujan, tetapi enggak tahu juga si, hujan beneran apa enggak." Ujar, Lisa.
"Ya semoga hujan beneran, biar hawanya sejuk, enggak panas." Sahut, bu Agus.
Sementara itu, Nisa berjalan ke rumah sambil mengobrol dengan, mamahnya tentang kejadian tadi sore.
"Mamah, aku tadi sore ketemu cowok ganteng banget, loh." Kata, Nisa.
"Kamuu emang kenalan sama orangnya?" Tanya, bu Adam.
"Ya belum si, mah, tetapi entah kenapa, dia bisa membuatku terpesona. Dia tadi cuma kasih senyum, senyumnya manis banget, loh, mah." Kata, Nisa lagi.
"Halah baru dikasih senyum doang, kok sudah terpesona. Bisa terpesona itu, minimal sudah kenal siapa namanya, sudah tahu asalnya dari mana. Ini belum kenal, sudah merasa terpesona, yang benar aja si." Sambung, bu Adam.
Nisa hanya tersenyum menanggapi ocehan, mamahnya enggak berkata apa-apa lagi.
"Apa yang, mamah bilang memang benar si." Batin, Nisa.
Sementara di tempat lain, Toni terbayang-bayang gadis yang tadi sore. Yang enggak sengaja ketemu di taman, lalu iseng-iseng diberi senyuman.
"Aku nyesal banget, cewek itu tadi cuma tak kasih senyuman, enggak tak ajak kenalan. Aku ini gimana si? Kalau besok enggak ketemu lagi gimana coba?" Batin, Toni sambil siap-siap mengerjakan PR matematika.
Sementara itu, Nisa baru melepas sandal, tiba-tiba langit menangis tanpa permisi.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai rumah jadi, enggak kehujanan, ya, mah." Ujar, Nisa.
"Iya, nak alhamdulillah ada hujan, biar enggak ada yang kekeringan. Kamu habis ini bantu, mamah masak, ya!" Balas, bu Adam.
"Iya, mah jangan khawatir, aku pasti bantu. Emangnya malam ini mau masak apa?" Imbuh, Nisa.
"Kita malam ini masak telur dadar, sup ayam dan sambal bawang. Pasti cocok banget dimakan pas masih hangat, apalagi suasananya lagi hujan kaya gini." Ujar, bu Adam.
"Aku yang bikin telur dadar dan sambalnya, mamah yang bikin sup ayamnya, ya?" Ujar, Nisa.
Bu Adam mengangguk mengiyakan sambil melangkah ke kamar menaruh mukena, lalu ke dapur untuk memasak. Nisa sudah menunggu, mamahnya sambil mengocok telur dan bumbu di mangkuk, ketika semuanya sudah tercampur, lalu digoreng di wajan. Bu Adam menyiapkan bumbu untuk sayur sup, menyuwir daging ayam dan memotong sayuran, seperti wortel dan jamur. Ketika bahan sup sudah siap semua, bu Adam memasaknya dengan teliti, agar enggak gosong atau terlalu matang. Pak Adam sedang membaca koran di ruang keluarga, sambil menunggu, anak dan istrinya menyiapkan makan malam.
"Awas hati-hati! Garamnya jangan sampai kebanyakan!" Kata, bu Adam.
Saat, Nisa menyiapkan bahan-bahan, untuk membuat sambal.
"Mamah tenang aja, ini garamnya sudah pas kok. Pokoknya ini sambal rasanya enak, enggak terlalu asin kaya kemarin." Balas, Nisa sambil mengulek sambal.
"Mamah enggak mau tahu, kalau sambalnya keasinan kaya kemarin. Mamah dan ayah enggak mau makan sambalnya, kamu habiskan sendiri sambalnya." Kata, bu Adam.
"Aku enggak bohong kok, mah ini sambal garamnya sudah pas. Enggak terlalu asin kaya kemarin, pokoknya dijamin enaknya kaya makanan dari restorant." Jawab, Nisa sambil tersenyum.
Tanpa terasa, 20 menit kemudian, masakan sudah matang, aromanya seolah memanggil, minta untuk disantap.
Bu Adam menghampiri suaminya, lalu berkata dengan manis. "Ayah hidangan untuk makan sudah siap."
"Oh, pantasan aja, ada aroma masakan yang enak." Balas, pak Adam.
"Iya, ayah, tetapi suara adzan isya sudah memanggil, kita sebaiknya shalat isya dulu saja. Selesai shalat, baru, kita makan bareng, dengan nasi dan lauk yang masih hangat." Kata, bu Adam.
"Kita shalat di rumah, ya, bu." Ujar, pak Adam.
Bu Adam mengangguk mengiyakan, lalu mengambil air wudhu. Nisa yang mendengar percakapann orang tuanya mau melaksanakan shalat isya berjamaah, ia langsung menyiapkan mukena kesayanganya, terus mengambil air wudhu. Ia di dapur berpapasan dengan, mamahnya yang baru selesai wudhu.
"Aku jangan ditinggal, ya, mah!" Pinta, Nisa.
"Iya, sayang,kamu enggak bakal ditinggal." Jawab, bu Adam.
Setelah semuanya berkumpul shalat dimulai, pak Adam sebagai imam, Nisa dan istrinya sebagai makmum. Shalat berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir, tanpa kendala apapun.
Sementara di Desa sebelah, Toni membuka foto-foto teman sekolahnya, Nisa siapa tahu ada diantara teman-temannya.
"Ya, dia enggak ada di foto-foto ini, dia berarti bukan salah satu temanku." Batin, Toni.
Toni hanya bisa berdoa dalam hati, semoga bisa bertemu dengan, Nisa lagi.
"Asli, dia cantik banget, bener-bener kaya bidadari. Kira-kira hatinya bisa ditaklukkan apa enggak, ya? Biasanya si cewek-cewek itu mudah, aku taklukkan hatinya. Meskipun kalau, aku sudah bosan, aku tinggalkan gitu aja." Batin, Toni sambil main game di hp.
Sementara itu, Lisa dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah. Saat hujan menyapa bumi agar enggak terjadi kekeringan.
Lisa tiba-tiba perutnya berbunyi, kaya sedang konser.
"Kruyuk-kruyuk!!!! Kruyuk-kruyuk!!!!"
"Dasar perut enggak bisa diajak kompromi! Belum ada masakan, malah sudah bunyi duluan!" Gerutu, Lisa sambil duduk di kamar.
Bu Agus tiba-tiba memanggil, suaranya nyaring, biar enggak kalah sama suara hujan. "Lisa!!!! Lisa!!!!"
"Iya, bu ada apa?" Jawab, Lisa sambil menghampiri, ibunya.
"Kamu itu enggak keluar-keluar, ibu tungguin mau tak suruh bantu masak." Omel, bu Agus.
"Ibu siv enggak bilang kalau butuh bantuan, aku ya enggak tahulah. Kita emangnya mau bikin makanan apa?" Balas, Lisa.
"Oh iya, ibu lupa belum bilang kalau butuh bantuan, kita malam ini bikin sayur sup jamur sama bakwan." Kata, bu Agus.
"Aku yang bikin bakwannya, ya, bu?" Ujar, Lisa.
Bu Agus mengangguk mengiyakan, sambil menyiapkan bahan, untuk membuat sup jamur.
Komentar
Posting Komentar