KISAH CINTA, ANISA 03

Tanpa terasa, 20 menit kemudian masakan, bu Agus dan Lisa sudah siap. Pak Agus mengajak anak dan istrinya shalat berjamaah di rumah, hujan masih deras, belum berhenti. "Kita shalat jamaah dulu yuk! Sembari menanti makanannya enggak terlalu panas, biar rasanya hangat dan lidahnya enggak meleleh."


Bu Agus dan Lisa mengangguk mengiyakan dengan serempak, mereka lalu bergantian mengambil air wudhu. Shalat berjalan dengan lancar tanpa kendala, dari awal sampai akhir.


Sementara itu, Nisa dan kedua orang tuanya makan bersama, di temani suara hujan yang sahdu.


"Nisa tolong piring dan nasinya, dibawa ke meja makan, ya!" Titah, bu Adam sambil membuat wedang jahe.


Nisa langsung melaksanakan perintah tersebut, lalu memotong telur menjadi beberapa bagian. Semuanya sudah tersedia di meja, lauk dan sayur serta nasi. Bu Adam ke meja makan sambil membawa wedang jahe, Nisa dan suaminya sudah duduk manis. Mereka sudah enggak sabar, untuk menikmati makanan yang menggugah selera. Makan malam dimulai, bu Adam mencicipi sambal, sebelum menaruh di piringnya. "Nah, kalau ini baru sambalnya enak. Enggak keasinan, enggak kurang pedas, rasanya beneran pas di lidah."

"Yang masak aja orang cantik, ya wajarlah kalau enak." Jawab, Nisa.

"Kamu itu pd banget si, padahal pas kebetulan aja bumbunya enggak kurang atau kelebihan." Sambung, bu Adam.

"Sudah-sudah, kita seharusnya bersyukur, bisa makan dengan nikmat. Kita juga Harusnya bersyukur, masih bisa berkumpul bersama, menikmati kehangatan di rumah ini." Kata, pak Adam sambil menyendok makanan.

"Iya Apa yang, ayah katakan memang benar banget. Apalagi kalau, abang ada di rumah, pasti tambah seru." Cletuk, Nisa.

"Kamu rindu dengan, abangmu, ya, nak?" Ucap, bu Adam.

"Iya, mah Soalnya, Abang udah lama enggak pulang, cuma seringnya ngobrol lewat telepon aja." Jawab, Nisa.

"Abangmu kan memang sedang belajar, mungkin sedang banyak tugas, makanya belum sempat pulang. Orang kuliah itu kan, tugas-tugasnya lebih berat, daripada orang yang sekolah." Sambung, pak Adam.


Nisa mengangguk mengiyakan, ia mengerti dengan penjelasan orang tuanya. Ananda Nur Pratama yang biasa disapa, Nanda anak sulung, pak Adam dan bu Adam sedang kuliah di Solo. Ia mengambil jurusan pendidikan sastra Indonesia, ia biasanya pulang sebulan sekali. Namun, ia bulan ini belum pulang, hanya memberi kabar lewat telpon. Tanpa terasa, mereka sudah selesai makan malam, Nisa pamit ke kamar untuk mengerjakan PR.


"Mah, aku ke kamar dulu! Nyuci piringnya besok, ya, mah!" Kata, Nisa.

"Masalah nyuci piring itu gampang, kamu yang penting belajar aja dulu. Biar besok enggak dapat hukuman, gara-gara nggak mengerjakan pr, terus biar dapat nilai bagus juga." Sahut, bu Adam.


Pak Adam dan istrinya menonton tv sambil ngobrol, Nisa sudah mulai membuka buku untuk mengerjakan pr-nya.


Sementara itu, Lisa dan kedua orang tuanya selesai shalat isya, melaksanakan makan malam bersama.


"Bakwannya enak banget, apalagi sayur sopnya, seperti ada rasa cinta di dalamnya. Ini siapa si yang masak? Atau jangan-jangan masakan beli?" Komen, pak Agus.

"Lisa sama ibu yang bikin, bukan masakan beli. Hujan-hujan gini, masa sih mau keluar cari penjual masakan, lebih baik bikin sendiri, enggak kehujanan dan enggak kedinginan." Ujar, bu Agus.

"Oh, kalian yang bikin makanannya, pantasan enak banget rasanya." Balas, pak Agus.


Bu Agus hatinya berbunga-bunga mendapat pujian, dari suami tercinta. Selesai makan malam, Lisa pamit ke kamar untuk belajar. "Ibu, aku mau belajar dulu, ya!"

"Iya, nak belajar yang benar! Jangan sampai jawabannya nyontek di google!" Pesan, bu Agus.

" ibu tenang aja, aku itu belajar sungguh-sungguh dari hati. Jadi, ya enggak mungkin nyontek, sama temen aja enggak pernah nyontek, apalagi di google." Jawab, Lisa sambil berjalan ke kamar.


Sementara itu, Nisa yang sedang menulis jawaban PR di bukunya, senyuman cowok ganteng kembali mampir di pikirannya.


"Kamu kalau hadir di pikiranku, itu nanti si! Aku masih ngerjain pr, kamu apa enggak kasihan kalau nilaiku jelek! Gara-gara senyumanmu yang membuatku penasaran itu!" Batin, Nisa.


Setelah itu, Nisa kembali mengerjakan pr, ia berusaha fokus agar hasilnya memuaskan.


Sementara di tempat lain, Toni mendapat chat dari teman sekelasnya, yang menawarkan cewek cantik.


"Bro ada yang lagi jomlo, loh, dia anak kelas 12. Kamu kan biasanya ahli, menaklukkan hati cewek, walaupun entah mencintai dengan tulus, atau mencintai enggak dengan tulus." Kata temannya.

"Itu cewek sana buat, kamu aja kalau mau. Aku soalnya sedang ada yang tak taksir, aku lagian sudah tobat. Enggak mau ganggu cewek-cewek, untuk tak permainkan hatinya lagi." Jawab, Toni.

"Halah mentang-mentang lagi ada yang di dekati, ya kaya gitu. Coba aja enggak ada yang di dekati, kamu pasti godain cewek-cewek, tanpa memikirkan dampaknya." Crocos temannya.


Toni hanya memberi balasan emoji wajah tanpa ekspresi, habis itu menutup hp dan pergi ke alam mimpi.


Sementara itu, Nisa selesai belajar, iya ngobrol dengan sahabatnya, melalui pesan chat.


"Hai, Lis." Sapa, Nisa.

"Iya ada apa, Nis?" Jawab, Lisa.

"Kamu sudah selesai mengerjakan pr-nya? Gimana tadi lancar enggak,pas mengerjakan?" Tanya, Nisa.

"Aku sudah selesai si, tadi lancar lancar aja si, pas mengerjakan. Kamu sendiri gimana? Sudah mengerjakan PR juga kan?" Balas, Lisa.

" aku sih tadi mengerjakan dengan lancar, cuma di tengah-tengah sempat goyah,, gara-gara terbayang senyiman cowok misterius yang tadi sore. Masa si, padahal kenalan aja belum, aku kok masih aja terbayang sama senyumnya." Cerita, Nisa.

"Itu tandanya mulai ada rasa cinta di hatimu. Awas hati-hati nanti ke bawa ke alam mimpi, loh!" Goda, Lisa 

"Ih, kamu itu gimana si! Aku lagi serius, malah jawabnya bercanda!" Omel, Nisa.


Lisa hanya menjawab dengan emoji tertawa terbahak-bahak, iya merasa puas bisa menggoda sahabatnya. Nisa pun mengalihkan pembicaraan, ia sedang enggak ingin menjadi bahan ledekan sahabatnya.


"Lis besok berangkat ke sekolah bareng, ya?" Tanya, Nisa.

"Iya beres, aku atau kamu yang nyamperin?" Ujar, Lisa.

" kamu aja yang jemput, aku tunggu dibangku bawah pohon seperti biasa." Sambung, Nisa.


Lisa mengiyakan lalu mematikan hp, ia pun pergi ke alam mimpi agar bangunnya enggak kesiangan.


Sementara itu, Nisa yang belum bisa tidur juga mematikan hp, ia membaca buku novel kesayangannya. Namun, Nisa baru membaca dua halaman matanya sudah enggak kuat, iya tiba-tiba mengantuk berat dan tertidur. 

Komentar