Pagi pun datang dengan udara yang terasa sejuk, bekas hujan semalam masih terasa. Nisa terjaga dari alam mimpi, ia mengumpulkan nyawa, lalu mengecek jam di hp.
"Wah, ternyata masih pukul 04.00, Aku kira sudah siang, syukurlah enggak kesiangan." Gumam, Nisa sambil beranjak dari kasur.
Nisa pun mengambil handuk, berniat untuk mandi, biar enggak ngantuk dan tidur lagi. Nisa saat melewati ruang keluarga, akan menuju ke kamar mandi, melihat kedua orang tuanya tertidur di sana. Nisa pun membangunkan kedua orang tuanya, agar enggak terlambat atau kesiangan melaksanakan shalat subuh.
"Mamah, ayah bangun sudah pagi!" Ucap, Nisa sambil menyenggol kaki kedua orang tuanya.
Namun, usahanya belum berhasil, kedua orang tuanya masih tidur nyenyak. Nisa kembali memanggil-manggil kedua orang tuanya, sambil menggoyang-goyangkan badannya. "Mamah, ayah bangung sudah pagi!"
Pak Adam dan bu Adam pun terjaga dari alam mimpi, bu Adam bertanya pada anaknya dengan suara pelan. "Ini jam berapa, nak?"
"Jam 04.00, sebentar lagi subuh, mah. Mamah dan ayah kenapa tidur di sini?" Balas, Nisa.
" mamah dan ayah tadi malam nonton TV di sini, terus tiba-tiba pas tengah malam ada suara petir. Kamu untungnya sudah tidur jadi, enggak ketakutan dengar suaranya. Terus akhirnya TV dimatikan, mamah dan ayah ngobrol di sini sampai ketiduran." Jelas, bu Adam.
Nisa mengngangguk-ngangguk mendengar penjelasan, mamahnya lalu melanjutkan niatnya untuk mandi dengan air dingin yang segar.
Sementara itu, Lisa terjaga dari alam mimpi, saat mendengar alarmnya berbunyi.
"Kayanya tadi malam baru tidur, tiba-tiba sudah pagi, kayaknya cepet banget deh, enggak terasa sudah waktunya kembali beraktifitas." Gumam, Lisa sambil melipat selimut kesayangannya.
Setelah itu, Lisa ke dapur untuk mengambil segelas air putih, ia masih lemas, efek baru bangun tidur. Bu Agus yang melihat anaknya sudah bangun, menyapa dengan lembut. "Pagi, nak."
"Pagi juga, bu." Jawab, Lisa dengan pelan.
"Mandi sana biar segar!" Perintah, bu Agus.
"Mandinya nanti aja, bu sekarang masih dingin." Jawab, Lisa.
"Kamu jangan salah, mandi pagi itu sehat, loh. Kamu kalau enggak percaya sama, ibu coba rasakan sendiri. Pasti kalau sudah merasakan, kamu pasti enggak mau mandi siang lagi, pasti bakal beralih mandi paling pagi." Oceh, bu Agus.
Lisa setelah minum mengambil handuk, lalu berjalan ke kamar mandi dengan malas-malasan. Lisa awalnya di kamar mandi sempat berpikir, gara-gara masih ragu, takut kedinginan. Ia bergumam seperti wiridan sampai beberapa kali, dengan berbisik, ibunya yang ada di dapur enggak dengar.
"Mandi, enggak. Mandi, enggak." Lisa kumat-kamit sampai sepuluh kali, hasilnya mandi.
Lisa melepas pakaiannya dan menyentuh air, ia sudah siap, kalau airnya sangat dingin. Pada guyuran pertama, ia nyatanya merasa segar, bukan merasa kedinginan, seperti yang ada dalam pikirannya.
"Ternyata yang, Nisa bilang itu benar, kalau mandi pagi itu rasanya segar." Batin, Lisa.
Sementara itu, Nisa yang baru selesai mandi, mengeringkan rambutnya. Lalu bersiap-siap untuk ke masjid bersama kedua orang tuanya, karena suara adzan sudah berkumandang dari masjid Desa.
"Aku ikut ke masjid, ya, mah!" Seru, Nisa.
"Iya, nak kalau mau berangkat bareng, siap-siapnya cepetan! Jangan lama-lama kayak bekicot!" Balas, bu Adam.
" aku sudah selesai kok, mah ini tinggal ambil mukena." Jawab Nisa.
Setelah itu, Nisa keluar sambil menenteng mukena di tangannya, rasa gembira terpampang jelas di wajahnya. Nisa dan kedua orang tuanya berangkat ke masjid bersama, sambil menikmati udara pagi yang terasa sejuk dan alami.
Sementara itu lisa dan kedua orang tuanya juga ke masjid, untuk melaksanakan jamaah shalat subuh bersama para warga yang lainnya. Di masjid, Nisa dan Lisa bertemu, keduanya saling melempar senyum, karena suara iqomah sudah terdengar dan shalat dimulai. Shalat berjalan dengan lancar tanpa mengalami kendala, imamnya pun merdu saat memimpin shalat. Nisa dan Lisa pulang bersama, mereka berjalan sambil mengobrol.
"Kita nanti berangkat sekolah jam berapa?" Tanya, Lisa.
" kita nanti berangkat jam seperti biasa, jam 06.00 lebih 15 menit, biar enggak terlambat. Siapa tahu nanti bisa ketemu cowok, yang kemarin pas, kita naik angkut." Jawab, Nisa.
"Kamu pagi-pagi sudah mikir tentang cowok, harusnya berpikir tentang cowok itu nanti siang aja. Kalau sudah pulang sekolah, pagi-pagi harusnya memikirkan pelajaran." Oceh, Lisa.
Nisa hanya tertawa, mendengar ocehan sahabatnya itu. Mereka pun berpisah, untuk sarapan, sebelum pergi ke sekolah.
Sementara di tempat lain, Toni mandi sambil bersenandung iya, sangat semangat pada pagi yang cerah.
"Aku pagi ini pokoknya harus tampil cakep, aku siapa tahu bertemu dengan gadis itu, di angkutan pas berangkat sekolah. Masa si, iya ketemu gadis cantik penampilannya pas-pasan, kan bisa gawat, kalau enggak tertarik gara-gara penampilan, gimana coba." Gumam, Toni sambil bersiap-siap.
Bu Tono yang sudah menyiapkan sarapan, memanggil anaknya untuk sarapan bersama, dengan dirinya dan sang suami.
"Le siap-siapnya jangan lama-lama! Kamu nanti terlambat, loh! Ayo sarapan dulu sama, bapak juga nih!" Seru, bu Tono.
Toni yang sudah siap untuk pergi ke sekolah, langsung bergegas kemeja makan, untuk sarapan. Pak Tono yang akan pergi ke sawah pun sudah siap, ia setelah sarapan langsung berangkat. Toni usai sarapan bersama kedua orang tuanya pun berpamitan, iya menyalami kedua orang tuanya dan berlalu menuju angkutan.
Sedangkan di tempat lain, Nisa sarapan pagi dengan nasi goreng. Ia senang banget saat, mamahnya membuatkan nasi goreng spesial untuknya.
" nasi goreng bikinan, mamah itu memang paling enak sedunia." Puji, Nisa sambil menyendok makanannya.
" kamu kalau puji-puji, mamah kayak gitu, pasti ada maunya." Balas, bu Adam.
"Enggak kok, mah, aku cuma ingin bawa nasi gorengnya ke sekolah, sama ingin minta uang saku." Sambung, Nisa.
"Nah, benarkan dugaan, mamah, kamu kalau sok memuji, pasti ada maunya." Oceh, bu Adam sambil membungkus nasi goreng ke dalam kotak makan.
Sementara itu, Lisa sarapan pagi dengan nasi uduk, yang rasanya sangat lezat dengan berbagai topping di atasnya. Ada telur dadar, tempe kering, mie goreng, dan sambal kentang.
"Ibu ini beli nasi di mana? Kok rasanya enak banget, ya?" Tanya, Lisa.
"Ya, ibu bikin sendirilah, mana ada makanan beli, dapat sebanyak itu. Kamu kemarin bilang, katanya pengen nasi uduk, ya, ibu bikinkanlah." Jawab, bu Agus.
Lisa mengangguk mendengar jawaban, ibu tercinta lalu melanjutkan makan dengan nikmat.
Sementara, Nisa selesai sarapan mengambil tas, lalu memasukkan makanannya. Ia pamit pada orang tuanya, lalu menyalami sambil tersenyum. "Mah, aku berangkat, ya!"
" iya, nak berangkatnya hati-hati! Awas jangan sampai membolos!" Pesan, bu Adam sambil menyerahkan uang saku.
" mamah tenang aja, aku bukan tukang bolos kok." Jawab, Nisa sambil keluar dari rumah.
Nisa enggak langsung berangkat, iya menunggu sahabatnya di bangku bawah pohon depan rumahnya.
Sedangkan, Lisa yang baru selesai sarapan, langsung pamitan pada, ibunya sambil tersenyum. "Ibu, aku berangkat, ya!"
"Iya, nak berangkatnya hati-hati! Bekalnya jangan lupa dibawa! Ibu sudah siapkan dalam kotak makan, lauknya tak taruh terpisah." Kata, ibu.
Lisa mengangguk mengiyakan habis itu, ia langsung meluncur ke tempat sahabatnya, yang sedang menunggunya.
"Nis maaf, ya kalau sudah terlalu lama menunggu."
"Enggak kok, Lis, aku juga keluar belum lama kok."
"Berangkat sekarang yuk, Nis!"
Nisa manggut-manggut lalu mengikuti langkah sahabatnya, menuju ke pemberhentian angkutan umum.
Nisa dan Lisa sebenarnya naik angkutan yang sama, dengan angkutan yang dinaiki, tony tanpa disadari. Karena SMA Negeri 1 biru putih dan SMA 2 Negeri biru putih, lokasinya memang lumayan dekat.
Komentar
Posting Komentar