Nisa dan Lisa di dalam angkutan itu, mendapat kursi di bagian tengah, mereka duduk sambil mengobrol.
"Yang menggunakan pakaian biru putih, cantik-cantik dan ganteng-ganteng, ya? Mereka walaupun masih pada SMP, masih kecil-kecil usianya." Kata, Lisa.
"Ya enggak kecil-kecil banget juga, paling selisihnya sedikit sama, kita kan sudah SMP. Kecuali masih SD, baru itu usianya masih kecil-kecil." Jawab, Nisa.
"Yang menggunakan pakaian putih abu-abu, atau anak SMA seperti, kita juga banyak, loh. Kamu enggak ingin kenalan sama salah satunya?" Kata, Lisa lagi.
"Enggak maulah, aku maunya kenalan sama cowok yang kemarin, kalau ada." Jawab, Nisa lagi.
"Dia kayaknya bukan anak sekolahhan, nyatanya enggak ada sih, di antara penumpang. Dia kayaknya kalau bukan anak kuliahan, yasudah bekerja gitu." Crocos, Lisa.
"Ya siapa tahu nanti bisa ketemu, kalau memang rezekiku." Sahut, Nisa agak cemberut.
Lisa yang memahami sahabatnya, enggak terima dengan ucapannya pun mengalihkan pembicaraan agar enggak terjadi salah paham.
"Nis semoga perjalanannya enggak macet, ya? Kita biar enggak terlambat ikut upacara, kita kan nanti menjadi petugas." Ujar, Lisa.
"Iya benar Lis, kita kalau terlambat ikut upacara, apalagi gagal menjadi petugas. Kita bisa-bisa nanti dihukum, suruh berdiri di tiang bendera." Sambung, Nisa.
Lisa mengangguk mengiyakan, setuju dengan ucapan, sahabatnya.
Sementara di dalam angkutan yang sama, Toni duduk di kursi bagian pojok, sambil berpikir dalam hati.
"Coba aja, aku sudah bisa kenalan dengan cewek yang kemarin, apalagi cewek itu masih sekolah. Terus bersekolah di tempat yang sama, aku pasti bisa berangkat dan pulang bareng setiap hari." Batin, Toni.
Angkutan yang ditumpangi oleh anak sekolahan, melaju tanpa kendala, 20 menit kemudian sampai di SMA dan SNp biru putih. Sekolahan SMA Negeri 1 biru putih dan SMA Negeri 2 biru putih jaraknya hanya 15 langkah. Sehingga, penumpangnya turun di tempat yang sama, untuk smp-nya jadi satu dengan SMA, baik SMP Negeri 1 biru putih ataupun SMP Negeri 2 biru putih.
Lisa dan Nisa merasa bersyukur mereka berangkat tepat waktu, belum terlambat.
"Alhamdulillah, kita enggak terlambat jadi, enggak dihukum." Gumam, Nisa.
Lisa mengangguk mengiyakan, sambil berjalan beriringan dengan sahabatnya.
Sementara itu, Toni yang berjalan menuju SMA Negeri 2 biru putih, enggak sengaja melihat, Nisa dari kejauhan. Toni melihat wajah, Nisa walau hanya sekilas, ia bertanya-tanya dalam hati.
"Itu kok kaya cewek yang kemarin, ya? Masa si, iya, dia masih anak sekolahan? Apa, aku yang salah lihat, ya?"
Toni berusaha fokus untuk berjalan menuju kelasnya, supaya enggak tabrakan. Ia berusaha menyampingkan pikirannya terhadap cewek cantik, yang ditemuinya di taman, pada hari Minggu sore.
" dia kalau memang anak sekolahan, aku semoga aja nanti bisa ketemu. Apalagi kalau sekolah di tempat ini, pasti nanti bisa naik angkutan yang sama." Batin, Toni sambil menaruh tas di meja.
Sementara itu, Lisa dan Nisa masuk kelas, menaruh tas dan duduk, untuk menunggu waktu upacara. Di kelas 1 SMA Negeri biru putih, juga sudah ramai para siswanya, ada yang sedang asyik mengobrol, ada juga yang sedang membuka buku untuk memastikan. Buku PR-nya sudah terbawa atau belum, Nisa yang enggak sengaja melihat salah satu siswa, sedang membuka buku pun berucap. "Itu kan buku yang biasanya digunakan untuk mengumpulkan pr? PR yang mau dikumpulkan kok dibuka? Kamu habis nyontek, ya?"
"Enggak kok, Nis, aku cuma memastikan, bukunya sudah terbawa atau belum. Kalau belum ke bawa kan gawat, aku bisa dihukum. Kamu kan tahu, kalau ada yang terlambat atau enggak mengumpulkan pr, disuruh berjemur di tiang bendera." Balas, Fitri.
Nisa pun mengangguk mengiyakan, sambil meminta maaf karena sudah salah paham.
Waktunya upacara telah tiba, pengumuman dari speaker sudah terdengar. "Saatnya upacara!!!! Seluruh siswa diharap segera ke lapangan!!!! It's time for the ceremony!!!! All students are expected to go to the field immediately!!!!"
Para siswa-siswi dari berbagai arah, baik yang di dalam kelas atau di luar kelas, berhamburan menuju lapangan. Lisa sudah siap untuk menjadi pengibar bendera dengan, Lina salah satu teman sekelasnya. Nisa pun sudah siap, ia bertugas membacakan teks Undang-Undang Dasar.
"Jadi, pembaca teks UUD rasanya gimana, Nis?" Tanya, Lisa.
"Sebenarnya agak grogi si, aku soalnya enggak biasa membaca teks UUD, Lis. Akan tetapi enggak apa-apa si, aku hitung-hitung belajar membaca di depan umum." Jawab, Nisa.
"PD aja, Nis lagi pula yang mendengarkan teman-teman, kita, kakak kelas dan bapak ibu guru, kita aja kok." Sambung, Lina sambil tersenyum.
Nisa mengiyakan ucapan, Lina yang berusaha memberi semangat, lalu membalas senyumnya dengan tulus.
Upacara dimulai, angin berhembus dengan lembut, langit terlihat cerah. Seluruh siswa-siswi sudah berkumpul di lapangan, mereka sudah berbaris dengan rapi. Lisa dan Lisa beserta, Rani sudah siap mengibarkan bendera sedangkan, Nisa memegang naskah teks UUD dengan agak gemetar. Sinta yang bertugas sebagai protokol, membacakan dengan lantang. "Pengibaran bendera merah putih!! Dengan diiringi lagu, Kebangsaan Indonesia raya!!"
Lisa dan kedua kawannya tanpa ragu, berjalan menuju tiang bendera. Setelah bendera siap, salah satu dari, mereka berseru. "Bendera siap!!!!"
Pemimpin upacara berucap dengan lantang. "Hormat grak!!!..."
Lagu Indonesia raya dinyanyikan, diiringi suara piano. Selesai menyanyikan lagu Kebangsaan, pemimpin upacara berucap. "Tegak grak!!!..."
Nisa membacakan teks UUD dengan lancar, walaupun lumayan deg-degan.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
Pembukaan
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan, oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Pembina upacara membahas pentingnya kesehatan, saat amanat upacara berlangsung. Upacara pun selesai, para siswa bubar, ke kelas masingmasing.
Sementara di SMA sebelah, Toni bertugas sebagai pemimpin upacara, Iya berdiri tegak di tengah lapangan dengan semangat. Memimpin upacara dari awal sampai akhir, suaranya lantang tanpa dibuat-buat. Walaupun gadis yang tadi dilihat, saat turun dari angkutan, masih menari-nari di benaknya. Usai upacara, Toni berucap dalam hati sambil menendang kerikil, saat melangkah ke dalam kelas. "Aku pokoknya nanti harus ketemu lagi, saat naik angkutan, pulang sekolah. Aku biar yakin, itu gadis yang kemarin kutemui atau bukan."
Toni sampai di kelas ternyata gurunya belum datang, Ia pun mengambil uang di tas, untuk membeli minuman, menghilangkan rasa dahaga dalam tubuhnya.
Komentar
Posting Komentar