MENAKLUKKAN HATI WANITA 45

Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Sandi terbangun lalu ke kamar mandi, Iya mandi dan mengambil air wudhu, untuk siap-siap sholat subuh. Selesai mandi dan mengambil air wudhu, ia mengaji sebentar sambil menunggu waktu azan subuh.


Sementara itu, Lina terjaga dari alam mimpi, ia mengecek jam di HP.


"Wah,  ternyata sudah hampir subuh, aku sebaiknya mandi saja, biar tidak ngantuk lagi." Kata, Lina dalam hati.


Lina pun langsung bergegas mengambil handuk, ia langsung ke kamar mandi. Lina mandi bagaikan kesetanan, benar-benar  sangat cepat sekali, ia pun mandi keramas agar terasa segar. Suara bedug Terdengar sangat nyaring dari masjid desa, disusul suara adzan yang sangat merdu. Lina pun menuju ke musala kecil yang ada di rumahnya, untuk salat jamaah dengan keluarga tercinta. Namun, Lina sampai di musola, Sandi dan kedua orang tuanya sudah ada di sana terlebih dahulu.


"Ya, aku pikir, aku yang datang paling awal sendiri. Ternyata, aku datang paling terakhir sendiri, Kalian sudah pada di sini semua." Kata Lina dengan pelan.

"Ya tidak apa-apa, yang penting tidak ketinggalan waktu sholatnya, dik." Balas, Sandi.


Lina pun mengangguk mengiyakan, karena yang dibilang, Abangnya itu memang benar adanya. Shalat pun dimulai, pak Ahmad yang menjadi imamnya, bu Ahmad dan kedua anaknya menjadi makmum.


Sementara di Desa sebelah, Yusuf dan kedua orang tuanya shalat berjamaah di masjid. Mereka sampai di masjid suasananya sudah ramai, Yusuf dan pak Parno mendapat tempat, di saf paling belakang. Begitu pula dengan bu Parno mendapat tempat di saf belakang bagian perempuan. Shalat pun dimulai, imam memimpin salat dengan faseh, suaranya pun terasa sangat merdu, benar-benar terasa menenangkan hati. Yusuf sepulang dari masjid ditanya, ibunya kapan berangkat ke desa pinggir gunung.


"Kamu kapan berangkat nonton karnafalnya? Terus kira-kira ke sana naik apa?"

"Aku berangkat nanti jam 09.00-an, bu soalnya mulai karnafalnya jam 10.00 si, bu. Akan tetapi nanti, aku ke rumah, Andre dulu ngumpul sama yang lain, kalau berangkatnya naik taksi, bareng sama teman-teman." Jawab, Yusuf.

"Wah, kalau gitu masih bisa bantu, ibu masak dong." Kata, bu Parno.

"Ibu jangan khawatir, aku pasti bantu kok. Kita memangnya pagi ini masak apa?" Ucap, Yusuf.

"Kita masak tahu tempe campur pare dan genjer, terus lauk tambahannya ayam goreng." Jelas bu Parno.


Yusuf pun mengangguk mengiyakan dengan ekspresi semangat, bagaikan mendapat emas segunung.


Sementara itu di tempat lain, Lina bersih-bersih rumah seperti biasanya, iya menyapu, mengepel dan mencuci serta menjemur pakaian. Lina selesai aktivitas di rumah, ia membuka hp sambil menunggu sarapan bersama. Tanpa disangka-sangka, chat dari, Ana sudah terpampang di layar hp-nya.


"Lin, aku jam 07.00 berangkat ke rumahmu, semoga angkutannya tidak penuh, aku jadi, datangnya tidak terlambat." Jelas, Ana.

"Kalau jam 07.00 angkutnya penuh, kamu berangkat jam 07.30 juga tidak apa-apa. Lagi pula, kita berangkat dari sini jam 09.00, terus karnafalnya mulai jam 10.00 kok. Kamu kira-kira pakai baju warna apa ni?" Balas, Lina.

"Ini baru jam 06.30, jam 07.00 aja belum, kok sudah ngomongi jam 07.30 segala. Aku pakai setelan kaos warna biru, kamu sendiri mau pakai warna apa bajunya?" Balas, Ana.

"Aku mau pakai baju warna biru jugalah, biar bisa kembaran denganmu. Kak Yusuf sebenarnya ngajak pakai kaos warna kembaran, tetapi belum bilang sih orangnya, kalau mau pakai kaos warna apa." Imbuh, Lina.

"Kak Yusuf nanti sedih, loh kalau dirimu pakai kaos kembaran warnanya denganku." Ledek, Ana.

" ya tidak mungkinlah, masa gara-gara warna pakaian aja bisa sampai sedih. Kalau pakaianku dengan, kak Yusuf tidak sama nanti, aku yang jelasin deh. Aku pengen kembaran denganmu, supaya dirimu ada temannya yang pakai warna biru." Crocos, Lina.

"Ya sudah kalau gitu, aku mau sarapan terus ke tempatmu. Tunggu aja kedatanganku, rasa kangennya ditahan dulu." Kata Ana.

"Ih pd amat, yang kangen juga siapa, aku tidak kangen kok." Balas, Lina.


Padahal, Lina senang banget dalam hatinya, sahabatnya mau datang. Ana hanya mengirim emoji tertawa lalu ofline.


Sementara itu, Sandi di teras rumah sedang asyik ngopi sambil membuka hp, ia membalas pesan kekasihnya yang dikirim semalam.


" kita nanti mau nonton karnafal bareng-bareng, kamu ikut, ya!" Kata, Sandi.


Santi pun mengiyakan ajakan sang pujaan hati.


Sedangkan, bu Ahmad di dapur sudah menyiapkan sarapan, ia memanggil kedua anaknya dan suaminya. Lina, Sandi dan pak Ahmad langsung brrgegas ke dapur sambil membayangkan akan menikmati makanan yang lezat.


Sementara di rumahnya, Andre sedang memilih-milih pakaian, ayah dan ibunya sudah berangkat ke pabrik sehabis sarapan bersama.


" aku kira kira mau pakai baju warna apa, ya? Atau tanya sama, Yusuf aja, ya? Siapa tahu, dia jadi, ngajak kaos yang warnanya kembar." Batinnya.


Andre pun mengambil hp, lalu mengirim pesan pada sahabatnya, yang berada di desa sebelah.


"Suf, kita pakai baju warna apa?" Aku soalnya bingung ni, atau pakai kaos merah putih, yang dapat kemarin?" Tanya, Andre.


Namun, pesannya tidak langsung dibaca, Andre membatin.


"Kok tumben si pesanku tidak langsung di respons? Ini orang lagi ke mana si? Biasanya kalau, aku kirim SMS, dia langsung balas."


Andre pada akhirnya membuka facebook, sembari menanti balasan SMS dari sahabatnya. Ia menjelajah isi facebook berharap, Ana kirim pesan.


"Ana hari ini tidak kirim pesan di facebook? Dia lagi kenapa si? Dichat di whatsapp juga tidak ada respon? Dia apa jangan-jangan lagi sibuk, ya?" Pikir, Andre.


Dia tidak tahu kalau, Ana bakal ikut nonton karnafal bareng.


Sementara itu, yusuf masih asik membantu orang tuanya memasak, ia belum sempat membuka hp. Ia tidak tahu kalau, Andre menghubunginya untuk meminta pendapat soal pakaian. Yusuf perutnya langsung keroncongan, saat masakan sudah matang.


"Ibu ini makanan sudah memanggilku, dia katanya sudah ingin dinikmati." Ujar, Yusuf.

" ya sabar tunggu, ayahmu dulu habis itu, kita sarapan bareng." Kata, bu Parno.


Yusuf hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan, ibunya padahal perutnya semakin bernyanyi, iya mencium aroma masakan yang sangat sedap dan nasi hangat yang sudah disiapkan dalam piring. 5 menit kemudian, pak Parno datang, mereka pun sarapan bersama dengan hikmat.


"Ini yang masak, ibu atau Yusuf? Kok aromanya harum banget kaya gini?" Tanya, pak Parno.

"Yusuf dan ibu tadi masak bareng, Yusuf yang bikin bumbu, ibu yang menumis di wajan." Jawab, bu Parno.


Pak Parno manggut-manggut, mengerti dengan penjelasan istrinya. 

Komentar