MENAKLUKKAN HATI WANITA 46

Yusuf habis sarapan, langsung ke garasi, mengeluarkan sepeda kesayangan, untuk ke Desa sebelah. Pak Parno dan istrinya pergi ke toko, tidak lupa berpesan pada, Yusuf.


" ayah dan ibu berangkat dulu, ya! Kamu nanti kalau pergi, jangan lupa kunci pintunya! Terus kuncinya jangan lupa dibawa!"

"Kalau kuncinya tak bawa, ayah dan ibu nanti kalau pulang gimana?" Tanya, Yusuf.

"Kamu jangan khawatir, ayah dan ibu bawa kunci yang satunya." Jawab, bu Parno.


Yusuf mengangguk mengiyakan, lalu menyalami kedua orang tuanya. Setelah itu, Yusuf masuk kamar, ia membuka hp. Ternyata, Andre mengirimi pesan saat, ia sedang sarapan dengan orang tuanya. Yusuf pun langsung membalas pesan sahabatnya, dengan panjang lebar.


" kalau ada kaos dan celana warna biru, pakai setelan itu aja! Jangan pakai setelan merah putih yang dapat kemarin, soalnya kan belum dicuci! Aku juga pakai setelan kaos warna biru kok, aku sebentar lagi datang ke tempatmu. Nanti pesan taksinya sekitar jam 08.30, biar tidak terlalu lama menunggunya dan tidak terlambat juga."

"Ok siap, aku tunggu kedatanganmu." Kata, Andre.


Sementara di tempat lain, Lina dan keluarga sedang sarapan, dengan menu bakwan dan pecel. Sandi tangannya iseng, ingin mengambil bakwan, yang ada di piring, lina.


" mau ngapain, bang? Kok tangannya mau hijrah ke piringku?" Tanya, Lina.

"Aku tidak ngapa-ngapain si, cuma ingin nambah bakwan aja." Jawab, Sandi.

"Kalau ingin tambah bakwan, ya di piring sebelah, bukan di piringku jugalah." Gerutu, Lina.


Sandi pun akhirnya tidak mengambil lauknya, Lina, ia beneran mengambil lauk di piring sebelah. Sarapan bareng pun terasa sangat nikmat, seperti sarapan di hotel bintang 5.


"Ibu itu kalau masak rasanya enak banget, seperti di restorant gitu." Puji, Sandi.

" ibu tadi cuma bikin bakwannya aja, lina yang bikin pecelnya." Jelas, bu Ahmad.


Sandi pun mengangguk memahami perkataan, ibu tercinta. Lina hanya diam, ia  mendengarkan saja, tidak berkomentar apapun.


Waktu menunjukan pukul 07.00, sang mentari menyapa bumi dengan tersenyum. Sedangkan di Pinggiran Kota, Ana keluar dari rumah, ia langsung bertemu angkutan yang sedang menunggu penumpang. Ana naik, ia berkata pada kondekturnya.


"Desa Pinggir Sawah, ya tujuanku, pak."

"Siap, neng kebetulan, kita lewat Desa tersebut." Jawab kondekturnya.


5 menit kemudian, ada dua gadis yang naik. Mereka tempat duduknya tidak dekat dengan, Ana selisihnya ada sekitar 5 orang. Mereka ditanya tujuannya oleh kondektur, agar tidak salah alamat.


"Ini tujuannya ke mana, neng?"

"Kita tujuannya Desa Pinggir Sawah, pak." Jawab, Santi.


Kondektur pun mengiyakan dan memberi karcis pembayaran, angkutan pun jalan mengantarkan penumpang ke berbagai tujuan.


Ana dibuat penasaran dengan kedua gadis yang tidak asing di benaknya.


"Itu kok kaya, mbak Santi dan Sarah, ya? Akan tetapi, aku mau menyapa, takut kalau salah orang. Kalau pas, aku menyapa ternyata bukan, mereka kan diriku yang malu sendiri. Kalau memang benar itu, mbak Santi dan Sarah terus tujuannya sama denganku, pas turun bakal ketemu. Aku mendingan chat, Lina kasih kabar kalau, aku sudah di perjalanan." Batin, Ana.


Ana pun membuka hp, ia menulis sebuah pesan.


"Lin, aku sudah naik angkutan, paling sekitar setengah jam, sampai di tempatmu."


Sedangkan di desa, lina beserta keluarga baru selesai sarapan. Lina dibantu, sandi mengunggulkan piring dan gelas kotor, lalu dicuci.


"Aku yang kasih sabun, kamu yang bilas, ya, dik?" Tanya, Sandi.

"Yang kasih sabun dan bilas, aku semua, abang taruh di rak piring." Jawab, Lina.


Santi pun mengangguk mengiyakan, mengikuti keinginan adiknya dengan pasrah. Walaupun dalam hatinya menggumam, merasa kesal.


"Di mana-mana orang dibantu itu senang, Lina kok malah tidak mau si. Akan tetapi biarin ajalah, nanti diprotes malah ngambek."


Lina menyerahkan piring bersih pada, Sandi sambil menggoda.


"Bang ini piringnya! Awas jangan sambil melamun! Nanti bisa-bisa piringnya pecah!"

"Kamu kalau ngomong jangan sembarangan si! Aku lagi pula melamun mikirin siapa, loh?" Ucap, Sandi sambil menerima piring.

"Ya memikirkan, kak Santilah, tidak mungkin memikirkan sapinya tetangga." Balas, Lina.

"Santi sebentar lagi paling nyampai di sini, aku tidak perlu berpikir macam-macam. Oh iya, dik, dia ke sini kayanya tidak sendiri, loh." Ucap, Sandi lagi.

"Kak Santi emangnya datang sama siapa, bang? Dia terus berangkat dari rumah jam berapa, bang? Dia kira-kira naik apa, bang?" Tanya, Lina.

"Tanya kok banyak banget mbok satu-satu, loh, dik."


Protes, Sandi sambil menerima gelas. Lina hanya tertawa dan berkata.


" tinggal jawab, apa susahnya si, bang?"

" santi ke sini bareng sama adiknya, ia berangkat dari rumah jam 07.00, naik angkutan umum." Jawab, Sandi.

" wah, berarti kalau gitu jangan-jangan satu angkutan sama, ana ni. Aku nanti kenalin sama adiknya, kak Santi dong!" Pinta, Lina.

"Wah, Andre pasti senang banget ni, bisa ketemu gadis incarannya. Sudah gitu, dia ketemu, malah di sini tidak main ke rumahnya. Kamu tenang aja, aku bakal ngenalin dirimu ke saudaranya, Santi." Crocos, Sandi.

"Ya tidak apa-apa kasih kejutan pada, kak Andre pastinya suatu saat bakal main ke rumahnyalah. Untuk silaturahmi terus izin untuk mendapatkan hatinya Ana terus selain itu kalau lamaran atau menikah juga pasti kesana."


Sambung, Lina Sambil berlalu ke kamar, karena mencuci piring telah usai.


Pak Ahmad dan bu Ahmad berangkat ke pabrik, mereka tidak lupa pesan pada kedua anaknya.


"Kalian kalau mau berangkat jangan lupa kunci pintu! Terus kuncinya dibawa, jangan ditinggal! Ini tak kasih saku, kalau di sana ingin jajan. Ibu dan ayah pergi dulu!"

"Iya, bu, kita tidak lupa mengunci pintu kok."


Jawab, mereka berdua sambil menyalami kedua orang tuanya.


Sementara itu, Yusuf menuju ke rumah sahabatnya menggunakan sepeda, tersenyumia -senyum membayangkan rasa bahagianya hari ini.


"Assalamualaikum! Aku sudah sampai ini, bro! Buruan keluar, bro!" Kata, Yusuf sambil mengetuk pintu.


Andre pun langsung membuka pintu, menyambut sahabatnya dengan ceria.


"Waalaikumsalam! Wah, kita kaya kembar ketemu, pas sudah besar ni. Kamu datang mengetuk pintu dengan keras, tidak sabaran banget si." Ungkap, Andre.


Yusuf hanya manggut-manggut sambil duduk di bangku, yang ada di teras.


"Kan siapa tahu, kamu lagi di belakang, terus tidak dengar." Imbuh, Yusuf.


Sementara itu, Lina membuka hp membaca pesan dari sahabatnya, lalu berucap.


"Kalau sudah sampai di Desaku, kamu bingung! Kamu telpon aja pasti, aku jemput!" Tulis, Lina. 

Komentar