MENAKLUKKAN HATI WANITA 47

Yusuf dan Andre duduk di bangku, sambil menunggu yang lain.


"Lina sama Sandi kok belum keluar si? Mereka apa belum siap-siap, ya?" Ucap, Andre.

"Ya tidak tahu juga si, mereka kalau sudah siap, pastinya datang ke sini. Sabar dulu si, lagian belum ada jam 08.30, bro." Sahut, Yusuf.


Andre mengangguk memahami ucapan sahabatnya, lalu mengecek hp. Yusuf yang mengerti jalan pikiran, Andre pun meledek.


"Sudahlah, bro mungkin sedang sibuk, terus belum sempat buka hp. Ana makanya belum balas chat, dia tidak bakalan hilang, dia tidak digondol orang."


Andre pun salah tingkah sambil garuk-garuk kepala.


"Kamu tahu aja si dengan isi pikiranku." Kata, Andre.


Yusuf hanya tertawa, mendengar ucapan sahabatnya itu.


Sementara itu, angkutan yang dari pinggiran kota, sudah sampai di Desa Pinggir Sawah. Ana pun turun dari angkutan, ia bertemu dengan dua gadis yang membuatnya penasaran. Salah satunya menyapa, Ana sambil mendekat.


"Ana! Kamu berkunjung ke Desa ini juga?" Ucap, Santi sambil menatap wajahnya.

"Eh mbak Santi sama Sarah, aku pikir siapa, loh. Iya, mbak, aku mau ke tempat teman, dia kebetulan tinggal di Desa ini. Mbak Santi sama Sarah lagi jalan-jalan? Atau mau ke mana?" Crocos, Ana.

"Aku mau ke rumah seseorang, lebih tepatnya cowokku. Kamu telpon aja temannya, biar dijemput. Kalau jalan sendiri, takutnya malah tersesat, loh." Kata, Santi.


Ana mengangguk, lalu membuka hp. Ia menelpon sahabatnya, untungnya langsung diangkat.


"Halo, gimana, kamu sudah sampai?" Kata, Lina di ujung telpon.

"Aku sudah sampai, aku sudah turun dari angkutan, tetapi bingung jalannya, soalnya sudah lama tidak ke tempatmu. Aku tolong dijemput dong!" Imbuh, Ana.

"Aku jemput, kamu tenang saja. Tunggu, ya! Kamu jangan ke mana-mana!" Kata, Lina lagi.


Ana pun mengiyakan, lalu menutup telpon, terus mencari tempat untuk berteduh. Ia menemukan pohon rindang yang ada bangkunya, Ana pun duduk di sana.


Sementara itu, Sandi dan Lina sudah keluar dari rumah, mereka menggunakan setelan warna biru.


"Bang, aku mau ke halte dulu!" Pamit, Lina.

" ngapain ke halte? Kita kan perginya naik taksi nanti." Balas, Sandi.

"Aku mau jemput teman, dia sudah sampai. Dia bilang bingung jalannya ke sini, soalnya sudah lama tidak main ke rumah." Jelas, Lina.

"Oh, ya sudah kalau gitu, barangkali temanmu sudah lama menunggu. Aku sekalian minta tolong! Boleh kan?" Sambung, Sandi.

"Ya bolehlah, emangnya mau minta tolong apa?" Tanya, Lina.

"Santi kayanya juga sudah sampai di halte, tetapi sampai sekarang belum kasih kabar. Kamu kalau ketemu di jalan! Tolong diajak sekalian!" Kata, Sandi.


Lina pun mengangguk mengiyakan, lalu keluar dengan sandal kesayangan.


Sedangkan, Yusuf yang melihat, Lina sudah keluar, berucap dari kejauhan.


"Cantik mau ke mana?! Aku ikut dong!"

"Aku mau jemput teman, yang cantiknya kaya bidadari. Kakak jangan ikut! Kak Andrenya dijaga, biar tidak hilang!" Ucap, Lina sambil berlalu.


Andre yang mendengar ucapan, Lina pun cemberut, wajahnya ditekuk kaya kain lap.


Yusuf hanya senyum-senyum menyaksikan tingkah sahabatnya.


Sedangkan, Sandi mengunci pintu, lalu menghampiri kedua sahabatnya. Ia melihat ekspresi, andre yang sedang cemberut pun berucap sambil tersenyum. "Orang mau ketemu sama bidadari, kok cemberut gitu si. Nanti kalau bidadarinya tidak suka dengan orang cemberut, dia terus pulang lagi. Gimana coba?"

"Bidadari dalam hayalan si, iya kayanya." Sambung, Andre dengan acuh, tanpa semangat.


"Ya sudah kalau tidak mau, bidadarinya buat, Yusuf aja." Gumam, Sandi.

"Buat, bang Sandi ajalah bidadarinya, aku sudah punya kok." Balas, Yusuf.

"Ya sudah kalau gitu, bidadarinya tak suruh pulang lagi aja. Aku soalnya juga sudah punya cewek si." Gumam, Sandi lagi.


Andre hanya diam saja, tidak merespons sama sekali. Ia dalam hatinya sewot setengah mati, gadis incarannya belum membalas pesannya, kedua sahabatnya malah membahas wanita.


Sementara itu, Lina sudah sampai di halte, ia langsung menghampiri, Ana yang berteduh di bawah pohon. Namun, Lina tidak menemukan, Santi di tempat tersebut. Lina menepuk pundak sahabatnya dari belakang, karena isengnya sedang kambuh.


"Dor!!!!"


Ana sangat terkejut bahkan hampir terjatuh,  ia langsung berbalik arah, ia hatinya gembira, Lina sudah datang.


"Senang banget si, ngagetin orang! Aku untungnya tidak punya sakit jantung!" Gerutu, Ana.


Lina hanya tertawa tidak jelas, serasa tanpa dosa.


"Ana, aku mau tanya dong." Kata, Lina.

"Kamu emangnya mau tanya apa si?" Respons, Ana.

"Kamu pas turun dari angkutan, ada orang yang ikut turun apa tidak?" Tanya, Lina.

"Tadi si banyak yang ikut turun denganku." Jawab, Ana.

"Terus kalau yang perempuan ada atau tidak?" Tanya, Lina lagi.

"Tadi ada perempuan tua, ibu hamil teus, mbak Santi dan adiknya." Jawab, Ana lagi.

"Kamu tahu atau tidak? Mereka sekarang ada di mana?" Tanya, Lina sambil tolah-toleh.

"Mereka tadi pergi ke arah kiri, siapa tahu mampir untuk beli minuman. Kita cari saja dulu! Mereka barangkali belum jauh, masih ada di sekitar sini. Kamu emang kenal sama, mbak Santi." Balas, Ana.

"Aku kenal bangetlah, kak Santi itu ceweknya, abangku." Kata, Lina.

"Kalau gitu, kita cari sekarang juga! Kita semoga masih menemukan jejaknya!" Kata, Ana rasa sesal terlihat jelas di wajahnya, ia benar-benar tidak mengajak, Santi dan adiknya menanti dijemput.


Sementara, Yusuf menggerutu karena, Lina tak kunjung datang.


"Jemput teman aja lama banget si? Padahal haltenya dekat, tidak jauh."

"Tunggu aja dulu, mereka siapa tahu mampir ke warung, beli jajan." Sambung, Sandi.


Sementara itu, Ana dan Lina berjalan menelusuri tenda-tenda pedagang kaki lima, mereka akhirnya menemukan yang dicari.


"Eh itu, mereka ada di sana!" Pekik, Lina.

"Di mana si, Lin?" Tanya, Ana.

"Itu, loh di tenda penjual kelapa muda." Kata, Lina sambil menunjuk tempat tersebut.

"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga! Ayuk ke sana sekarang juga! Sebelum, kita kehilangan jejaknya lagi!" Cerocos, Ana kaya petasan.


Lina pun mengiyakan, mereka pun melangkah mendekat. Lina pun menepuk pundak, Santi sambil mengomel.


"Kakak ini gimana si! Aku cari ke mana-mana dari tadi! Malah asyik menikmati kelapa muda!" Omel, Lina.


Santi langsung menoleh,lalu berucap dengan pd. "Kamu kangen denganku, ya? Makanya sampai mencariku?"

"Aku disuruh, abang menjemputmu." Kata, Lina dengan jutek.


Santi terkejut setengah mati, ia baru menyadari kalau, Ana ada di tempat itu juga.


"Jadi, teman yang dimaksud itu, Lina, ya tahu gitu tak ajak bareng. Ana tidak bilang si, aku kira temanmu entah siapa, aku tidak bilang. Kalau, Lina si, aku sudah kenal sejak lama." Ujar, Santi.


Ana hanya terdiam, ia mengakui kesalahannya, tidak menjelaskan teman yang dimaksud.


"Minum kelapa muda dulu yuk! Setelah minum, kita berkumpul dengan yang lain!" Ajak, Santi.

"Ayuk dari pada pusing, soalnya hawanya panas banget. Cocok banget ini, minum kelapa muda biar segar." Sahut, Lina.

"Kalau minum kelapa muda dulu apa tidak kelamaan? Takutnya yang di sana pada menunggu, loh?" Imbuh, Ana.

"Ya tidaklah, kita minum tidak sampai sejam, lagian ini belum ada pukul 08.30, loh." Sambung, Santi.


Lina dan Ana pun mengangguk mengiyakan, mereka menikmati kelapa muda bersama. Santi pun memperkenalkan, Lina pada adiknya.


"Kenalin ini, Sarah adikku."

"Salam kenal, ya, Sarah." Kata, Lina.


Sarah pun mengiyakan dengan sikap sok akrap, lalu menyalami, Lina dengan hangat.


"Iya salam kenal juga, Sarah namaku. Siapa namamu? Kata, Sarah.

"Lina namaku." Jawab, Lina.


Setelah acara perkenalan, kelapa muda pun habis tak tersisa. Mereka selesai menikmati kelapa muda, langsung menuju ke rumah, Andre untuk berkumpul dengan yang lain.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai. Mereka , mengucap salam dengan kompak, bagaikan paduan suara.


"Assalamualaikum!!!!"

"Walaikumsalam!!!!" Jawab, mereka bertiga.


Andre menatap, Ana dengan rasa penasaran.


"Siapa gadis itu? Kenapa wajahnya tidak asing di pikiranku? Kenapa mirip, Ana banget wajahnya?" 

Komentar