Andre tatapannya serius, ia semakin merasa penasaran.
"Asli itu cewek mirip banget sama, Ana cuma bedanya kalau ini lebih cantik. Masa si, iya, Ana tahu tempat ini? Ah tidak mungkin, paling itu teman, Lina yang kebetulan mirip, Ana." Batin, Andre.
Sandi yang duduk di sebelahnya pun berbisik pada, Andre sambil tersenyum. "Tadi nolak, pas tak bilang ada bidadari. Sekarang ditatap terus, sudah gitu serius banget."
"Bukannya apa-apa, bro entah mengapa, dia mirip banget. Sama gadis yang sedang kudekati, tetapi masa si, iya, dia bisa ada di sini. Rasanya tidak mungkin banget, ini kayanya cuma perasaanku aja." Kata, Andre.
"Kita lihat aja nanti, Lina pasti mengenalkan gadis itu, tidak mungkin tidak." Ucap, Sandi.
"Kok gitu si ngomongmu?" Protes, Andre.
"Kamu sabar aja dulu, rasa penasaranmu sebentar lagi terobati kok." Ucap, Sandi lagi.
"Kamu nyebelin banget si, pakai sok misterius segala." Protes, Andre sambil mencubit, Sandi dengan pelan.
"Aduh!!!! Sakit tahu!!!!" Pekik, Sandi.
"Salahnya siapa bikin, aku tambah penasaran. Ya itulah akibatnya, biar tahu rasa. Atau mau lagi?" Kata, Andre.
"Tidak, terima kasih." Jawab, Sandi sambil pindah tempat.
Yusuf yang menyaksikan ekspresi, Andre hanya berucap dalam hati. "Tadi seolah tidak mau, sekarang semangat banget, kaya dapat harta karun."
Sementara itu, Ana menatap, Andre bagaikan menatap emas batangan.
"Cowok itu kok mirip kak Andre, ya? Kenapa kok lebih cakep, dari pada yang di foto, ya?" Batin, Ana.
Lina yang merasa gemas melihat, mereka hanya saling bertatapan, pun angkat bicara.
"Kalian dari pada tatap-tatapan yang tidak jelas. Kalian mendingan ngobrol! Jangan asyik kalau di dunia maya doang, di dunia nyata juga harus terasa seru!" Crocos, Lina.
"Kalau belum kenal, masa si mau ngobrol? Kamu itu yang benar aja, dik?" Sela, Santi.
"Mereka itu sudah saling kenal sejak lama, kak. Mereka itu sepasang ttm, kak." Balas, Lina.
"Apa itu ttm, dik?" Tanya, Santi.
"Teman tapi mesra, kak." Jawab, Lina.
Mendengar ucapan, Lina, Andre langsung membuka foto di hp. Lalu mendekati, Ana untuk bertanya sambil bertanya. "Apakah benar, kamu, Ana yang dari Pinggiran Kota?
"Iya benar, aku, Ana, kamu tidak salah lagi. Apakah, kamu, kak Andre yang sering ngobrol denganku di sosial media?" Tanya, Ana sambil memperlihatkan foto di hp-nya.
"Iya, aku Andre pangeran penjaga hatimu." Jawab, Andre sambil tersenyum.
"Cie-cie rayuan mautnya keluar." Ledek, Sandi.
"San tidak usah iseng si! Kalau iseng tak kasih hadiah, loh." Ancam, Andre sambil tangannya mengisaratkan cubitan.
Sandi hanya tertawa melihat ancaman sahabatnya.
Lina kembali mencairkan suasana.
"Lanjut lagi dong ngobrolnya! Aku ingin dengar obrolan, kalian siapa tahu terasa romantis." Kata, Lina.
Andre kembali berucap pada, Ana dengan lembut. "Aku baru kemarin merencanakan mau main ke rumahmu, kita malah bertemu di rumahku. Gimana rasanya? Senang atau tidak, kita bisa bertemu di sini?"
"Aku senang banget, kita sudah bisa ketemu. Lebih senang lagi kalau, kamu jadi, main ke rumahku." Jawab, Ana.
"Doakan, ya! Aku bisa main ke rumahmu atau bisa mengajakmu jalan-jalan." Sambung, Andre.
Ana mengangguk mengiyakan sambil tersenyum manis.
Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 08.30, Yusuf pun bertanya. "Andre, bang Sandi ini yang mau pesan taksi siapa?"
"Aku aja yang pesan untuk berangkatnya, kalian nanti pesan pas pulangnya aja." Balas, Sandi.
"Alamatnya jangan sampai salah, ya, bang!" Imbuh, Yusuf.
"Iya tenang aja, aku tidak lupa alamatnya kok." Balas, Sandi lagi.
Sandi pun pesan taksi, yang muat untuk 7 orang, melalui aplikasi di hp. 15 menit kemudian, taksinya datang.
"Ini formasinya kaya gimana? Pas di dalam taksi?" Tanya, Andre.
"Formasinya, Lina di depan, kita yang cowok di belakang. Santi, Sarah dan Ana yang di tengah." Jawab, Sandi.
"Aku yang di depan, terus nanti bayarnya gimana, bang?" Tanya, Lina sambil menatap, Sandi.
"Kamu tenang aja, tadi sudah tak bayar. Ayuk berangkat! Itu taksinya sudah menunggu!" Kata, Sandi sambil berjalan ke taksi, lalu diikuti yang lainnya.
Supir taksinya terheran melihat pakaian, mereka warnanya sama semua.
"Kalian mau mengunjungi pengajian, ya? Kok warna pakaiannya warnanya sama, kaya seragam?" Tanya, tukang taksi.
"Kita ini mau nonton karnafal, bukan ke pengajian, pak." Jawab, Lina.
Tukang taksinya mengangguk, paham dengan ucapan penumpangnya.
"Alamatnya sesuai dengan yang di aplikasi, ya, pak!" Kata, Sandi.
"Iya, mas Desa Pinggir Gunung kan?" Balas supir taksi.
"Iya, pak tadi bayarnya sudah lewat aplikasi, ya!" Kata, Sandi lagi.
Sopir taksi itu menjawab perkataan, Sandi dengan anggukan. Taksi pun melaju membawa penumpangnya ke desa pinggir gunung. Mereka perjalanannya lancar, tidak ada macet sama sekali.
Sementara di tempat lain, Ayub sudah menggelar karpet untuk menyambut, Yusuf dan kawan-kawannya.
"Kamu kok sampai gelar karpet segala, yang? Yusuf emangnya bawa kawan berapa si?" Tanya istri, Ayub.
"Aku tidak tahu si, Yusuf soalnya cuma bilang mau bawa pasukan. Dia tidak bilang mau bawa kawan berapa, ya semoga aja pelataran, kita cukup untuk tempat, Yusugf dan kawan-kawannya." Balas, Ayub.
"Yusuf emangnya mau berangkat jam berapa? Sampai sekarang kok belum sampai?" Tanya istrinya lagi.
" aku tidak tahu, dia berangkat jam berapa. Aku soalnya tidak bertanya si, kemarin pas telpon." Balas, Ayub lagi.
" ditelepon dong yang!" Perintah istrinya.
Ayub membuka hp mencari nomor ponakannya, ia pun menelepon dengan semangat, agar rasa penasarannya terobati.
Sementara itu, Yusuf yang masih di perjalanan, hp-nya berbunyi dengan nyaring.
"Siapa si yang telpon?" Gumam, Yusuf sambil ambil hp dari tas.
"Angkat aja, Suf! Barangkali penting, loh, Suf!" Cletuk, Sandi.
Yusuf mengiyakan, lalu mengecek nama penelponnya. Di layar terpampang nama om Ayub, Yusuf langsung menerimanya.
"Halo, om." Sapa, Yusup di ujung telpon.
"Kamu mau ke sini jam berapa? Kamu di rumah sudah siap-siap atau belum? Kamu sudah ngumpul sama teman-temanmu yang mau ikut ke sini atau belum?" Tanya Ayub di sebrang telpon, seperti wartawan.
Komentar
Posting Komentar