MENAKLUKKAN HATI WANITA 49

 Yusuf menjawab pertanyaan, Ayub di ujung telpon. "Aku ini sudah ada di perjalanan, paling sebentar lagi sampai. Om jangan khawatir. Om sudah kangen denganku, ya? Kok sampai di telpon segala si, om?"

"Kamu kok pd amat si, aku itu telpon cuma memastikan. Kamu jadi, ke sini atau tidak, soalnya sudah siang kok belum sampai. Terus sudah gitu, kamu tidak kasih kabar sama sekali. Ya sudah kalau sedang di perjalanan, semoga tidak macet." Kata, Ayub.

"Alhamdulillah perjalanannya lancar, tidak macet sama sekali, om." Balas, Yusuf.

"Kalian ke sini naik apa?" Tanya, Ayub.

"Kita naik taksi, om pokoknya tunggu aja, terus kalau kangen, ya ditahan dulu." Balas, Yusuf lalu mematikan telpon.


Sementara di tempat lain, Ayub cemberut sambil menggerutu. "Dasar kurang ajar! Orang diajak mongong serius, malah bercanda!"

"Kamu dan Yusuf itu sebenarnya sama aja, kalau sudah ketemu, jarang ngobrol serius." Sambung istrinya.


Ayub pun terdiam, tidak berkata apa-apa lagi. Yang istrinya bilang itu benar adanya, ia kalau ketemu sama keponakannya lebih banyak bercanda dari pada seriusnya.


Sementara itu, taksi yang ditumpangi, Yusuf dan kawan-kawan telah sampai di Desa Pinggir Gunung. Mereka turun dari taksi, pas di Depan rumahnya, paman Ayub di sebelah pohon mangga. Mereka berjalan ke terasnya, lalu mengucap salam secara bersamaan. "Assalamualaikum!!!!"

"Waalaikumsalam!!" Jawab, Ayub dan istrinya.


Mereka pun dipersilakan duduk, lalu disuguhi minum.

"Silakan diminum dulu! Kalian pasti haus, habis perjalanan jauh. Maaf, ya, bulek cuma punyanya es kelapa, tidak punya minuman yang enak-enak. Kata, bulek Sari.

"Kata siapa tidak enak? Ini minuman enak banget, loh, bulek! Es kelapa muda dicampur mangga, melon, pepaya, semangka dan nanas. Asli rasanya segar banget!" Crocos, Yusuf mewakili yang lain.

"Ya syukurlah kalau enak, bulek berarti bikinnya tidak sia-sia. Oh iya, Suf kenalin sama teman-temanmu dong! Kata, bulek, Sari sambil menatap, mereka satu per satu.


Yusuf pun memperkenalkan kawan-kawannya, ia menyebutkan nama-namanya.


"Ini yang paling ujung barat, Andre sahabatku sejak zaman sekolah." Jelas, Yusuf.

"Andre yang dikerjain sama, ommu yang bilangnya ke Singapura?" Sela, bulek Sari.

"Iya, bulek benar banget itu, terus di sebelahnya ada, Yusuf yang paling ganteng. Di sebelah timurku ada, bang Sandi, terus yang cewek itu, yang pertama ada, Lina terus di sebelah kirinya, Ana namanya, terus sebelahnya ada, mbak Santi dan Sarah yang di ujung timur." Jelas, Yusuf lagi.

"Salam kenal dari, bulek Sari dan om Ayub, ya, anak-anak." Ujar, bulek Sari.


Mereka mengangguk mengiyakan, Yusuf saja yang tidak bereaksi.


"Aku si sudah kenal jadi, tidak perlu kenalan. Ya, bulek?" Kata, Yusuf.


Bulek Sari hanya mengangguk, lalu duduk di dekatnya, Lina.


Mereka ngobrol banyak hal, hingga tanpa terasa waktu menunjukan pukul 10.00, karnafal pun dimulai.


Yang pertama lewat, ibu-ibu sambil membawa tanaman hijau.


"Itu mau jualan atau karnafalan si? Kok ada yang bawa bayam, bawa brokoli, bawa sawi hijau segala?" Cletuk, Sandi.

"Kayanya si sayuran hijaunya takut hilang, makanya dibawa." Sahut, Yusuf dengan asal.

"Itu-itu, mereka ikut merayakan karnafal dengan tema tanaman, bukan takut hilang atau diambil binatang ternaknya untuk dimakan." Sambung, Ayub.


Sandi pun mengerti penjelasan, paman Ayub sedangkan, Yusuf hanya diam, tidak bereaksi apa-apa, mendengar ucapan pamannya.


"Itu sayuran masih segar banget, aku kalau dikasih mau banget itu. Nanti di rumah tak gunakan untuk bikin pecel,yang rasanya enak banget." Gumam, Lina.

"Kamu tidak usah menghayal pecal! Aku di dapur sudah bikin pecal, mendoan, ayam goreng dan telur rebus. Nanti siang, kita makan bareng sambil nonton." Kata, bulek Sari.


Lina mengangguk mengiyakan, rasa malu terlihat jelas di wajahnya. Lina wajahnya sudah terlihat merah, bagaikan kepiting rebus.


" sudah tidak usah malu, orang memikirkan makanan itu wajar kok." Imbuh, bulek Sari.


Lina yang merasa tidak enak, hanya mengangguk mengiyakan.


Yang berikutnya lewat adalah drumband, mereka pun membuat tebak-tebakan, siapa yang memainkannya.


"Kira-kira itu drumband yang memainkannya, para pemuda atau orang tua?" Tanya, Yusuf.


Lina dan Yusuf menuju ke penjual cilok sambil bergandengan tangan, mereka sampai di sana lamgsung dilayani.


"Mau beli berapa, mas, mbak?" Tanya penjualnya.

"Beli 10 ribuan, 10 bungkus, bumbunya sambal kacang aja." Kata, Yusuf.

"Ok siap, tunggu dulu, ya, mas! Aku bikinkan dulu pesanannya." Kata penjualnya.


Yusuf pun mengiyakan lalu mengajak, Lina duduk di bangku yang tersedia. 15 menit kemudian cilok pesanan, mereka sudah siap, Yusuf menerima cilok dan menyerahkan uang pembayaran. Yusuf dan Lina kembali bergandengan tangan, menuju kediaman, om Ayub.


"Teman-teman ini ciloknya, tetapi masih panas." Kata, Yusuf sambil membagikannya.


Mereka nmengiyakan ucapan, Yusuf lalu berterima kasih karena bersedia dititipi. Yusuf pun hanya manggut-manggut menjawab perkataan kawan-kawannya.


Mereka pun menyaksikan berbagai pertunjukan, sambil menikmati cilok yang rasanya sangat nikmat. Tanpa terasa suara azan berkumandang, dari masjid desa, yang lokasinya tidak jauh dari rumah paman Ayub.


"Kita shalat dhuhur dulu yuk! Nanti habis shalat, kita lanjut nonton lagi!" Kata, Sandi.


Mereka mengiyakan ajakan, Sandi bahwa bersama-sama pergi ke masjid. Mereka wudhu bergantian, lalu berjamaah dengan para warga yang shalat dhuhur di masjid tersebut. Mereka pulang dari masjid, bulek Sari sudah menyiapkan makan siang dan duduk di karpet yang ada di teras.


"Mari, kita makan! Biar tidak lapar dan tidak masuk angin!" Ujar, bulek Sari sambil membagikan makanan dalam piring.


Mereka pun menerima makanan tersebut, lalu menikmatinya dengan sungguh-sungguh.


" makanannya enak sekali, seperti rasa masakan, ibu di rumah." Gumam, Yusuf.

"Wajarlah kalau rasa makanannya seperti masakan, ibumu di rumah. Ini memang dari, ibumu pas, bulek main ke rumahmu tahun lalu." Jawab, bulek Sari.


Mereka usai makan, masih menyaksikan acara karnaval detik-detik terakhir. Waktu menunjukan pukul 14.00, acara karnaval pun berakhir, mereka pamit untuk pulang ke kampung masing-masing.


"Bulek, om kita pulang dulu, ya!" Pamit, Yusuf mewakili yang lain.

"Iya, kalian pulangnya hati-hati! Jangan lupa berdoa biar selamat di jalan!" Tutur, bulek Sari.


Mereka pun mengangguk mengiyakan dengan serempak, lalu menyalami, bulek Sari dan om Ayub.


Yusuf memesan taksi malalui aplikasi di hp, 15 menit kemudian taksinya pun datang.


"Alamatnya sesuai dengan yang di aplikasi, ya, pak! Untuk pembayaran, sudah tak bayar lewat aplikasi, ya, pak!" Ujar, Yusuf.


Untuk formasi duduknya sama seperti saat berangkat, Lina di depan. Ana, Santi dan Sarah di tengah, Yusuf, Sandi dan Andre di belakang. Taksi pun melaju ke desa pinggir sawah dalam keadaan lancar, tanpa macet sedikitpun. Mereka turun dari taksi langsung berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Yusuf pulang ke desa pinggir kali menggunakan sepeda kesayangan. Ana, Santi dan Sarah pulang ke pinggiran kota melanjutkan perjalanan naik angkutan umum.

Komentar