Seminggu kemudian, Andre baru selesai nyapu, ia tak sengaja menemukan burung. Burung itu ada di bawah pohon depan rumahnya, burung itu ada lima ekor, ia masih kecil-kecil.
"Kalian tidak bisa terbang, ya, burung? Makanya ada di sini, kalian tinggal sama, aku aja, ya?" Kata, Andre sambil membawa, burung-burung ke dalam kandang yang ada di rumahnya. Andre pun memberi makan burung-burung yang ditemukannya, dengan buah pisang susu yang enak.
"Kalian pasti lapar kan? Aku punya pisang, kalian makan dulu, ya!" Gumam, Andre.
Burung-burung itu seolah mengerti ucapan, Andre, mereka makan dengan lahap. Andre pun membuka hp sambil duduk di teras. Ia mengirim chat pada, Ana sambil tersenyum.
"Hai, Ana selamat pagi." Sapanya.
Tak berselang lama, pesannya mendapat jawaban.
"Hai, kak Andre pagi kembali." Balas, Ana.
"Kamu sudah sarapan atau belum? Kalau belum, jangan lupa sarapan, ya! Kamu lagi apa sekarang?" Crocos, Andre kaya petasan.
"Aku baru selesai masak, aku belum sarapan, soalnya makanannya masih panas, baru aja matang soalnya. Aku kalau makan yang masih panas, takutnya nanti lidahku meleleh, aku tidak mau kalau lidahku meleleh. Kamu sendiri lagi apa? Kamu sudah sarapan? Kalau belum, jangan lupa sarapan, ya?" Balas, Ana lagi.
"Aku belum sarapan, ibuku tadi bikin nasi goreng, tetapi belum tak makan. Aku tadi habis nyapu, nemu burung ada lima ekor." Cerita, Andre.
"Dimakan dong nasi gorengnya! Ibunya kasihan, sudah capek-capek bikin, masa si tidak dimakan. Burung apa emangnya? Terus nemu di mana?" Crocos, Ana.
"Iya bentar lagi, aku mau sarapan, kamu jangan khawatir. Aku nemu di bawah pohon, itu burung perkutut, niatnya mau tak rawat. Tadi sudah tak taruh di kandang, terus tak kasih makan." Jelas, Andre.
"Wah, ramai dong kalau ada burung, tidak sepo rumahnya. Ya sudah kalau gitu, selamat makan!" Sambung, Ana.
"Lebih ramai lagi kalau, kamu selalu menemaniku, iya, kamu juga selamat menikmati sarapan." Ucap, Andre.
Ana hanya membalas dengan emoji wajah tersenyum, lalu pamit untuk melanjutkan aktifitas. Andre pun pergi ke dapur menikmati nasi goreng buatan, ibu tercinta yang rasanya sangat memanjakan lidah.
Sementara itu, Lina berucap pada, abangnya sambil tersenyum manis, bagaikan es tebu. "Bang kayanya pagi-pagi gini makan bubur ayam, kayanya enak banget, ya?"
"Bilang aja terus terang, kalau ingin makan bubur ayam, dik. Tidak usah pakai kode segala, emang apa susahnya terus terang si?" Sahut, Sandi.
"Iya si, bang, aku memang sedang pingin bubur ayam. Apalagi kalau ada satenya, terus makannya pas masih hangat, pasti lezat banget." Kata, Lina.
"Kamu itu bikin, aku ikut-ikutan kepingin aja si. Kamu emangnya mau pakai sate apa, kalau beli bubur ayam?" Ucap, Sandi.
"Pakai sate hati dan usus, terus sambalnya yang pedas." Ujar, Lina.
"Kamu tunggu aja, siapa tahu ada yang mengantar bubur ayam." Ucap, Sandi sambil berlalu.
Sandi keluar dengan motor kesayangannya, ia membeli bubur ayam di ujung Desa.
"Pak bubur ayam dua, sate hati empat, sate usus empat." Kata, Sandi.
"Pedas atau tidak, bang?" Tanya penjualnya.
"Sambalnya yang pedas, pak." Kata, Sandi lagi.
"Ok siap, dibungkus, ya, bang?" Tanya penjualnya lagi.
Sandi mengangguk mengiyakan, sambil duduk, menanti pesanannya dibuatkan.
Sementara di tempat lain, Yusuf hatinya gembira, ia sedang membungkus kado, untuk gadis kesayangannya. Isinya kartu dengan kalimat romantis, dan buku cerita tentang rindu yang ditulis, Yusuf sendiri.
"Suf kalau mau main ke tempat, Andre atau Lina sarapan dulu!" Ujar, pak Parno.
"Iya, aku pasti sarapan kok, ayah jangan khawatir." Sahut, Yusuf.
Selesai membungkus kado, Yusuf ke belakang untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Sarapannya pagi ini, rasanya lezat banget." Gumam, Yusuf.
"Ya jelas enaklah, ibu itu masakannya tak perlu diragukan lagi." Sambung, pak Parno.
Yusuf manggut-manggut sambil menikmati nasi, pecel, mendoan dan sambal goreng kentang.
"Oh iya, ayah, aku ke tokonya nanti siang, ya." Kata, Yusuf.
"Iya tidak apa-apa, siapa tahu nanti siang ramai, banyak pembeli. Kamu nanti siapa tahu dibutuhkan, untuk bantu-bantu mengantar barang pesanan kalau nanti siang memang kamu, sedang tidak ada kerjaan, ya datang aja." Respons, pak Parno.
"Iya, ayah, aku pasti datang kok." Kata, Yusuf dengan sungguh-sungguh.
Selesai sarapan, pak Parno dan istrinya berangkat ke toko naik motor, Yusuf menulis novelnya bagian terakhir di kamar.
"Alhamdulillah, ini tulisan akhirnya selesai juga, aku tinggal mengirimkannya ke penerbit. Semoga laris di pasaran seperti cerita tentang rindu, yang baru terbit kemarin sore dan cerita-ceritaku yang sebelumnya." Batin, Yusuf.
Yusuf setelah menutup laptop, iya ke garasi mengambil sepeda kesayangan. Ia meluncur ke Desa sebelah dengan hati riang, ia ingin ke tempat sahabatnya dan ke tempat, Lina untuk memberikan hadiah istimewa.
Sementara itu, Sandi sudah kembali ke rumah, iya membawa bubur ayam dan sate, yang terasa sangat lezat. Ia mengajak, Lina untuk sarapan bersamanya. "Dik sarapan yuk!"
"Kalau, aku tidak mau gimana?" Tanya, Lina.
"Kamu kalau tidak mau, dijamin bakal nyesal, loh." Jawab, Sandi.
Lina pun bergegas menghampiri, abangnya dengan rasa penuh penasaran.
"Emangnya sarapan sama apa si, bang? Abang kok sampai bilang, aku bakal menyesal segala sih, kayak makan sama makanan paling enak sedunia aja?" Crocos, Lina.
"Coba lihat dong! Ini makanan apa?" Imbuh, Sandi.
"Wah, asyik! Ada bubur ayam beneran!" Pekik, Lina insya allah bergegas mengambil piring.
Lina dan Sandi makan bubur ayam dengan lahap, seperti sudah tidak makan seminggu. Usai makan, Lina mencuci piring, Sandi berangkat kerja.
Sementara, Yusuf sudah sampai di rumah, Andre, ia langsung mengucap salam, sambil meletakkan sepedanya di tempat yang teduh. "Assalamualaikum!""
"Waalaikumsalam! Wah, aku kedatangan tamu agung ni!" Kata, Andre dengan gembira.
"Kamu itu ada-ada aja, yang datang sahabatnya sendiri, ya Dibilang tamu Agung." Gerutu, Yusuf.
Andre hanya tertawa, mendengar ocehan sahabatnya.
"Kok ada suara burung si? Kamu apa jangan-jangan sudah beralih profesi? Seorang penyanyi Cafe sekarang berganti jadi peternak burung?" Oceh, Yusuf.
"Aku itu bukan beralih profesi, tetapi tadi menemukan burung di bawah pohon. Aku kasihan jadi, tak ambil, terus tak taruh dalam kandang." Jelas, Andre.
Yusuf pun mengiyakan ucapan sahabatnya, yang sedang bahagia karena burung temuannya itu. Yusuf setelah berbincang-bincang lumayan lama dengan, Andre tidak sengaja melihat, Lina yang sedang duduk di teras.
"Aku mau ketemu, Lina dulu, ya, bro!" Pamit, Yusuf.
"Iya, bro kalau di rumah tidak ada kesibukan, main ke sini lagi, ya!" Jawab, Andre.
"Kamu jangan khawatir, aku kalau ada waktu luang, pasti main ke tempatmu kok." Kata, Yusuf.
Setelah itu, Yusuf menyapa, Lina sambil duduk di sebelahnya. "Hai, cantik."
"Kak Yusuf itu ngaget-ngatin aja sih! Datang secara tiba-tiba, tanpa salam!" Gerutu, Lina.
"Ya maaf, aku kan niatnya Ingin bikin kejutan untukmu. Aku punya kado istimewa untukmu, kamu semoga senang menerimanya." Ungkap, Yusuf.
"Kado dalam rangka apa ini, kak?" Tanya Lina.
'" Kado dalam rangka ucapan cinta untukmu. Aku hanya ingin, kau tahu bahwa, aku semakin lama semakin mencintaimu. Cintaku tanpa syarat, tanpa paksaan walaupun, aku tak tahu. Apa yang ada dalam hatimu? Kau juga mencintaiku atau tidak?" Ungkap, Yusuf lagi.
"Aku juga mencintaimu, sekian lama menjalani waktu bersamamu, aku merasa nyaman." Kata, Lina sambil tersenyum manis.
Yusuf hatinya merasa bahagia bisa menaklukkan hatinya Lina yang sangat keras dan dingin bagaikan salju. Yusuf setelah ngobrol lumayan lama dengan, Lina pun pamit pulang. Yusuf pun mengambil sepedanya di rumah, Andre lalu mengayuh sepedanya menuju Desa sebelah.
Sementara itu, Lina ke kamar, membuka kado, karena sudah penasaran dengan isinya. Lina senang banget, saat mengetahui isi kadonya buku terbaru karya, Yusuf yang sudah ditunggu-tunggu.
Tamat
Terima kasih buat semuanya, yang sudah membaca cerita ini dari awal sampai akhir.
Komentar
Posting Komentar