NASI JAGUNG

Pada hari Jumat pagi yang cerah, Lina membayangkan nasi jagung yang masih hangat, dengan ikan asin dan urap atau gudangan.


"Pagi-pagi makan nasi jagung, kayanya enak banget, ya? Apalagi ada urap dan ikan asin, pasti lezat banget." Gumam, Lina.

"Sukanya menghayal ini anak, adanya singkong rebus bukan nasi jagung." Sambung, bu Udin sambil menyajikan sepiring singkong rebus dan buah pisang.

"Mak ini gimana si, nanti kan ada penjual nasi jagung yang lewat." Sambung, Lina.

"Oh iya, aku lupa kalau ada penjual nasi jagung keliling. Biasanya si lewatnya sekitar pukul 08.00, tetapi biasanya enggak ada ikan asinnya." Kata, bu Udin.

"Enggak apa-apa kalau enggak ada ikan asinnya, yang penting makan nasi jagung. Nanti ikan asinnya bisa diganti sama mendoan atau bakwan, yang masih hangat juga." Ucap, Lina sambil mengunyah singkong rebus.

" kalau ngomong jangan sambil makan, kamu nanti bisa tersedak, loh!" Omel, bu Udin.


Lina mengangguk mengiyakan, lalu menikmati singkong dan buah pisang, sampai enggak tersisa. Hanya tinggal piring dan kulit pisangnya saja.


Lina jam 07.30 keluar dari rumah, ia duduk di teras sendirian demi menanti penjual nasi jagung. Namun, Lina sudah berjam-jam menanti, bahkan sampai suara murotal dari masjid terdengar. Pertanda shalat jumat akan segera dimulai, penjual nasi jagung belum terlihat batang hidungnya.


"Ini si kayanya enggak lewat, nyatanya sudah siang kayak gini, belum terdengar suaranya." Batin, Lina sambil berjalan ke dalam rumah.


Pak Udin yang mendengar, Lina ingin beli nasi jagung pun bertanya. "Wah senangnya yang tadi beli nasi jagung! Tadi beli berapa bungkus?"

" orang penjualnya hari ini enggak lewat, aku, ya belum jadi, belilah." Sahut, Lina.

"Ya berarti sudah habis nasi jagungnya, kalau enggak lewat penjualnya. Biasanya pasti lewat depan rumah kok, setiap hari jamnya pun sama kok, enggak berubah-ubah." Sambung, bu Udin sambil mengambilkan pakaian suaminya dalam lemari.

"Hore!! Aku berarti besok masih bisa menunggu penjual nasi jagung dong. Semoga aja besok penjualnya lewat sehingga, aku bisa beli dengan puas." Ucap, Lina.

" iya besok lewat, tetapi nasi jagungnya sudah habis." Sambung, pak Udin sambil bersiap untuk shalat jumat.

"Itu si enggak mungkin, pasti masih banyaklah, pak." Balas, Lina tanpa ekspresi.


Lina enggak sabar menunggu hari esok, nasi jagung masih terbayang di benaknya.


Hari sabtu yang di tunggu telah tiba, Lina beraktifitas dengan semangat. Ia selesai bersih-bersih rumah, langsung duduk di teras, menunggu penjual nasi jagung. Pada akhirnya, penjualnya lewat sambil berseru. "Nasi jagung!!!! Nasi jagung!!!!"


Lina pun memanggil penjualnya dengan keras, takut suaranya enggak kedengaran.


"Bu beli!!!! Bu beli!!!!" Teriaknya.

"Mau beli berapa, dik?" Tanya penjualnya.

"Beli dua bungkus sama bakwan dua, terus mendoannya dua." Kata, Lina.


Penjualnya pun menyiapkan pesanan, Lina lalu menyerahkannya.


Lina pun menerima nasi jagungdan menyerahkan uamg pembayaran, ia hatinya bahagia. Bisa menikmati nasi jagung, yang sangat diinginkannya.


Selesai 

Komentar