GELAS

Gelas, aku tak melihatmu ada di jalan, aku tak sengaja menabrakmu.

Kau jatuh tergelincir, lalu berguling-guling bagaikan gasing.

Kau menangis tersedu-sedu, tubuhmu terluka sangat panjang seperti penggaris.

Aku bingung harus berbuat apa, aku tak tahu harus menolongmu dengan cara apa, aku hanya bisa terdiam sambil menatapmu.


Gelas maafkan, aku yang telah menabrakmu dengan keras sehingga, kau tak dapat tersenyum lagi.

Gelas, aku tak bermaksud membuatmu menangis karena, kau tak utuh lagi.

Saat itu, aku tak tahu kalau, kau sedang berada di jalanan.

Sedang duduk berdiam diri, seolah sedang merenungi hidup yang terus berjalan.


Gelas, aku tak bermaksud membuat tubuhmu hancur berkeping-keping, bagaikan debu.

Aku tak tahu kalau, kau berada di tempat yang biasa kulewati setiap waktu.

Gelas, aku harap di hatimu yang terdalam dapat memaafkanku.

Aku yang kejam, yang tega, yang  membuatmu hancur lebur.


Semua itu karena keterbatasanku, aku yang tak dapat melihatmu di jalanan saat itu.

Gelas, kau jika tak berada di jalanan, kau tak akan terluka.

Kau mungkin masih bisa tersenyum ceria.

Kau mungkin masih bisa bermain bersama teman-temanmu, dengan hati riang dan gembira.


Gelas maafkan, aku karena memisahkanmu dari semua teman-temanmu.

Kau kini harus pergi dari tempatmu, dari lemari tua milikku.

Gelas, kau harus ikhlas karena, kau terkubur untuk selama-lamanya, dan berpisah denganku.

Gelas,, aku akan segera mencari penggantimu di toko untuk, aku minum setiap waktu. 

Komentar