Pada selasa sore, langit terlihat sangat cerah, Lina sedang duduk di depan rumah, pak Udin sambil menikmati cilok sambal kacang. Ia enggak sengaja mendengar, pak Udin ayam jagonya enggak ada.
"Bu coba jagonya dilihat sana! Barangkali main di tempat tetangga terus, dia bingung enggak tau jalan pulang." Kata, pak Udin.
Bu Udin mengangguk mengiyakan sambil berjalan, melangkah ke rumah tetangga, iya sambil lirak-lirik barangkali ayam jagonya terlihat. Setelah sekitar 20 menit, bu Udin kembali dengan tangan kosong, ayam jagonya enggak ditemukan.
"Ayam milik tetangga sudah masuk kandang semua, di sana ada jago, aku ragu barangkali itu bukan milik, kita ayam jagonya." Ucap, bu Udin dengan wajah lesu.
"Ya sudah biar kutengok barangkali itu jago, kita yang ada di sana." Sahut, pak Udin sambil berlalu.
Setelah dari sana, pak Udin kembali dengan wajah yang enggak semangat.
"Bu ternyata, kamu benar itu bukan jago milik, kita yang ada di sana." Kata, pak Udin.
"Ya sudah kalau gitu, kita tunggu dulu! Barangkali nanti ditinggal ke masjid, dia sudah pulang lagi." Hibur, bu Udin.
"Ya semoga saja, bu kalau rezeki, kita pasti akan kembali kok." Rrespon, pak Udin sambil bersiap-siap untuk melaksanakan salat magrib di masjid.
Karena suara murottal sudah berbunyi, sebentar lagi bedug akan terdengar nyaring dan muazim yang mengumandangkan adzan pun, sudah siap di masjid. Sampai sehabis isya ayam jago tersebut belum terlihat wujudnya sedikitpun, pak Udin walaupun hatinya sedih, ia berusaha mengiklaskan ayam jagonya yang hilang. Lina sekitar pukul 20.00 main ke rumah, pak Udin untuk melampiaskan rasa penasaran tentang ayam jago yang hilang. Lina sampai di sana, ia belum bertanya apa-apa, pak Udin sudah bercerita terlebih dahulu.
"Na aku ayam jagonya hilang lagi." Ujar, pak Udin.
"Awalnya gimana si, pak? Kok bisa hilang itu?" Tanya, Lina.
"Ya biasa awalnya, dia main bareng sama teman-temannya, tetapi kok sampai sore enggak pulang-pulang. Ayam 5 sekarang cuma tinggal satu, itu aja yang paling kecil." Ujar, pak Udin lagi.
"Apa ayam yang tinggal satu itu disembelih aja, biar enggak hilang lagi seperti ayam yang lainnya." Kata, Lina dengan asal.
"Ya janganlah biar besar, kalau masih kecil disembelih sih, capek ngurusin prosesnya doang, mau dimakan juga dagingnya belum banyak." Jawab, pak Udin.
Lina sudah berhasil menuntaskan rasa penasaran yang hinggap di hati, Lina setelah itu berpamitan pulang, karena hujan rintik-rintik telah menyapa bumi. Pak Udin telah mengikhlaskan ayam jagonya yang hilang, dari hatinya yang terdalam.
Selesai
Komentar
Posting Komentar