KISAH CINTA, ANISA 06

Selesai upacara, Nisa dan Lisa ke dalam kelas, mereka minum air putih yang dibawa dari rumah. Murid-murid yang lain, masih ngobrol dengan asyik.


"Alhamdulillah airnya sejuk banget, walaupun bukan air es." Gumam, Nisa sambil menyimpan kembali botol minumannya ke dalam tas.

"Iya, Nis, kamu benar airnya sejuk, terasa kaya air dari syurga. Ditaruh dalam tas, tutupnya sudah rapat atau belum? Hati-hati nanti bisa tumpah, kalau nutupnya enggak rapat! Takutnya bukumu pada basah, kan bisa gawat." Balas, Lisa.

"Aman kok, aku menutup dengan serapat-rapatnya jadi, minumannya enggak bakal tumpah, kamu jangan khawatir. Kamu pagi ini sarapan sama apa?" Kata, Nisa.

"Aku pagi ini sarapan dengan nasi uduk, lauknya lengkap banget, dari tempe sampai ayam. Kamu sendiri sarapan sama apa?" Balas, Lisa.

"Wah, enak dong, aku sarapan sama nasi goreng bikinan, mamah yang sangat lezat." Jawab, Nisa sambil mengeluarkan buku mapel bahasa Indonesia.


Di luar kelas sudah terdengar suara guru, yang datang untuk mengajar, pada pagi hari atau jam pelajaran pertama. Semua siswa kelas 10 pun masuk dengan cepat, yang tadinya masih duduk sambil mengobrol, di luar kelas. Lisa juga sudah menyiapkan buku, untuk belajar pagi ini.


Bu Rini memasuki kelas dengan membawa buku yang tebal, lalu duduk di kursi, mengajar dengan tegas. Ia memerintah  seluruh siswa, untuk mengumpulkan PR-nya. "Anak-anak mana PR-nya!"


Para siswa langsung mengumpulkan PR dengan cekatan. Bu Rini sibuk mengoreksi PR, sedangkan para siswa mencatat materi yang sudah disiapkan, bu Rini di papan tulis.


Sementara itu, Toni membeli minum di kantin, di benaknya masih terbayang gadis incarannya. Tiba-tiba, Adnan yang semalam menawarkan kakak kelasnya yang jomlo, menegur dengan pelan. "Ton kalau minum jangan sambil melamun! Nanti kesambet, loh!"

"Kamu itu bikin kaget aja si, emggak tahu kalau, aku lagi ngopi apa si." Protes, Toni.

"Bukan salahkulah kalau kaget, itu salahmu yang pagi-pagi sudah melamun aja." Kata, Adnan.

"Gini, loh, Adnan, aku itu masih terbayang cewek incaranku."

"Cewek yang tadi malam tak ceritakan, ya, Ton?" Tanya, Adnan.

"Ya bukanlah, masa si, aku disuruh sama kakak kelas." Jawab, Toni.

"Terus siapa dong, kalau bukan?" Tanya, Adnan lagi.

"Aku kemarin sore ke taman, di sana enggak sengaja ketemu cewek. Dia cantik banget, bikin hatiku deg-degan, pokoknya membuatku terpikat padanya. Aku sayangnya belum sempat kenalan dengannya doakan, ya semoga, aku bisa ketemu dengannya lagi." Balas, Toni.


Adnan pun mengangguk mengiyakan ucapan kawannya, lalu menghabiskan es teh yang tinggal sedikit. Kopi yang dinikmati toni habis bertepatan dengan bel masuk jam pertama.


"Saatnya jam pertama!!!! It's time for first hour!!!!"


Toni dan kawan-kawannya langsung berlari ke dalam kelas, agar enggak keduluan gurunya. Mereka takut kalau terlambat akan mendapat hukuman, baik itu menguras kamar mandi atau menyapu halaman sekolah.


Sementara di SMA Negeri 1 biru putih, bu Rini selesai menerangkan pelajaran bahasa indonesia. Beliau keluar dari kelas, bertepatan dengan bel istirahat. Para siswa wajahnya gembira, mereka sekelas mendapat nilai 100 senua. Semua siswa istirahat dengan keinginan masing-masing, ada yang ke kantin untuk membeli makanan atau minuman, ada yang  ngobrol di kelas, ada juga yang membaca novel di taman sekolah.


Lina setelah ke kantin membeli kuaci, ia asyik menikmatinya sambil membuka novel kesayangannya di taman.


"Lumayan si istirahatnya 15 menit, aku bisa baca novel ini, walau hanya 2 halaman." Batin, Lina.


Lisa, Nisa dan Fitri ngobrol di kelas, ngobrol sambil berbagi makanan, lebih tepatnya tukaran makanan.


"Aku bawa bronies dari rumah, rasanya enak banget, loh. Kalian ada yang mau coba enggak!" Kata, Fitri sambil membuka kotak makan.


Lisa dan Nisa pun mengambil kue tersebut satu potong, karena penasaran dengan rasanya.


"Kamu bikin kue sendiri, ya?" Tanya, Nisa.

"Enggak kok, aku dibikinin sama, mamahku kemarin." Jawab, Fitri.


Nisa mengangguk, paham dengan ucapan kawannya, ia pun menawarkan roti marie yang dibelinya di kantin. "Ada yang mau enggak!"


Lisa dan Fitri pun mengambil roti marie tawaran, Nisa satu biji.


"Kamu enggak bawa nasi, Fit?" Tanya, Lisa.

"Aku bawa nasi uduk, buat makan nanti siang, kalau istirahat kedua sekaligus shalat duhur." Jawab, Fitri.

"Kalau gitu sama dong, aku juga bawa nasi, buat makan nanti pas di istirahat kedua." Balas, Lisa.

"Ngomong-ngomong, Lina di mana si? Enggak kelihatan batang hidungnya itu?" Ucap, Nisa.

"Entah, dia ada di mana, aku juga nyariin si tadi. Dia kan biasanya istirahat bareng, kita ini kok enggak ada, kayaknya si lagi pengen istirahat bareng kawan  yang lain." Sahut, Fitri.


Sementara di SMA sebelah, Toni salah tulis rumus matematika tanpa disadari, Adnan untungnya mengingatkan. "Yang benar aja, bro! Masa si,iya ada rumus matematika, kasih, tambah sayang kali cinta! Rumus dari mana itu, bro?"


Toni terkejit setengah mati, ia langsung menghapus tulisannya, lalu diganti dengan rumus yang benar.


"Terima kasih, ya, bro! Aku sudah diingatkan, kalau enggak kan bisa gawat. Aku enggak bisa mengerjakan, kalau ada soal, tentang rumus yang satu ini." Kata, Toni.


Adnan hanya mengangguk sanbil tersenyum, lalu melanjutkan menulis. Pak Ridwan guru matematuka di kelas, Toni terlihat kiler, kalau ada siswa yang enggak mengerjakan PR atau tugas di kelas, pasti dihukum, disuruh membersihkan kamar mandi. Toni dan kawan-kawannya mendapat nilai tugas, gara-gara salah senomor.


Sementara itu, Nisa, Lisa dan teman-temannya sudah duduk di kelas, guru bahasa Jawa menerangkan materi tentang dongeng.


"Asyik, aku nanti mau bikin dongeng (Sapi dan Kambing), kalau dikasih tugas." Batin, Nisa sambil mendengarkan materi yang dipaparkan gurunya.


Sementara itu, pak Ridwan keluar dari kelas, bel istirahat berbunyi nyaring.


"Saatnya istirahat pertama!!!! Time for the first break!!!!"


Toni dan Adnan masih duduk di bangku, mereka belum keluar untuk ke kantin Atau ke taman. Mereka masih sempat-sempatnya, membahas nilai PR yang tidak sampai 100, yang dialami, Toni, Adnan beserta teman-teman sekelasnya.


"Kok bisa, ya? Kita semua enggak ada yang dapat nilai 100, ini kenapa ya?" Gumam, Toni.

"Pak Ridwan kayaknya lagi pelit nilai, enggak mungkinlah kalau semuanya salah nomor. Orang Nyatanya aja Teman sekelas, kita itu pintar-pintar matematikanya. Kecuali dirimu, yang enggak fokus, gara-gara banyak mikirin cewek." Balas, Adnan.

"Iya, kamu benar kalau teman-teman, kita itu banyak yang matematikanya jago. Jajan di sekolahan sebelah yuk!" Ucap, Toni.

"Ngapain jajan di sekolahan sebelah? Di sekolahan, kita aja ada kantin, di sana banyak banget berbagai jajanan. Mulai dari soto, bakso, siome, batagor, berbagai jajanan kering ada, berbagai jenis es pun ada." Balas, Adnan.

"Ya Siapa tahu Gadis incaranku ada di sekolahan sebelah aku sambil jajan bisa ketemu atau melihat wajahnya." Ucap, Toni.

"Bro kalau, kita jajan di sana belum tentu bisa ketemu jadi, percuma. Iya kalau, dia juga jajan di kantin, kalau enggak ke kantin orangnya, kan sia-sia, kita ke sana. Kamu mending ikut denganku jajjan di sekolahan, kita nanti kalau sudah rezekinya ketemu pasti, kamu bakal ketemu dengannya." Kata, Adnan.


Tony pada akhirnya bersedia mengikuti, Adnan untuk memesan makanan di kantin. 

Komentar