Di SMA Negeri 1 biru putih sudah jam istirahat kedua, para siswa berhamburan, keluar kelas. Nisa dan ketiga kawannya menuju ke bawah pohon mangga, mereka makan siang bareng.
"Lin, kamu tadi ke mana si, pas istirahat pertama? Kita tadi mencarimu, loh, kamu kok tadi menghilang si?" Tanya, Nisa.
"Aku tadi ke taman belakang sekolah, di sana baca novel yang kubeli kemarin." Jawab, Lina.
"Emangnya novel apaan si?" Tanya, Nisa lagi.
"Novel romance si, Nis." Jawab, Lina lagi.
Nisa mengangguk mengiyakan sambil menyuap makanannya, Lisa dan Fitri hanya sebagai pendengar, belum menyambungngi obrolan kedua sahabatnya. Angin yang berhembus menyapa, mereka membuat keempat sekawan itu enggak merasa kepanasan.
"Kayaknya kalau makan siang bareng kayak gini, terus minumnya es jeruk enak banget, ya." Cletuk, Lina.
"Ya ya memang segar banget sih rasanya, tetapi siapa yang mau beli? Aku lagi males jalan ke kantin soalnya, pasti ramai banget kalau jam istirahat kayak gini. Aku malas kalau harus berdesak-desakan, menunggu antrean, demi membeli es di kantin." Sambung, Fitri.
"Aku mau beli sih kalau, kalian mau pada nitip, boleh kok." Cletuk, Lina lagi.
"Ya sudah kalau gitu, aku titip tahu mercon dua, terus es jeruk tanpa gula." Kata, Nisa.
"Aku titik es jeruk tanpa gula, terus esnya yang banyak, sama tahu mercon dua." Kata, Lisa.
"Aku titip es jeruk yang manis dan kerupuk jengkol." Kata, Fitri.
Sebab, Fitri ini pencinta makanan manis, enggak seperti kawan-kawan yang lain, yang enggak terlalu suka makanan manis. Lina mengingat-ingat pesanan kawannya dengan baik, agar enggak ada yang tertukar pesanannya. Setelah itu, Lina meluncur ke kantin, kebetulan, ibu pemilik kantin sudah selesai melayani para siswa yang beli, Lina langsung dilayani dengan ramah.
"Mau beli apa, mbak?" Tanya, ibu kantin.
"Aku beli tahu mercon enam, beli kerupuk jengkol 2, terus es jeruknya 4. Es jeruknya yang tiga enggak pakai gula, yang satu pakai gula yang manis!" Ucap, Lina.
"Ok siap, nak tunggu, ya! Tak buatkan pesanannya, duduk dulu, nak!" Kata, ibu kantin.
Lina duduk di salah satu bangku untuk menunggu pesanannya, ia enggak mengenali para siswa yang sedang makan siang. Karena yang sedang makan siang itu bukanlah kawan-kawan sekelasnya, mereka adalah kakak kelas yang kebanyakan, lina nggak kenal. Kakak kelas yang, Lina kenal sedang makan di kantin sebelah, begitu pula dengan kawan-kawan sekelasnya.
15 menit kemudian, ibu kantin menyerahkan pesanan, Lina menerimanya sambil menyerahkan uang pembayaran.
"Terima kasih, ya, bu." Ucap, Lina.
Ibu kantin mengiyakan sambil memberi senyum pada, Lina dengan ramah. Lina kembali pada kawan-kawannya, yang ada di bawah pohon rindang, untuk melanjutkan makan siang, sembari menikmati es jeruk.
"Ini pesanan, kalian, ya! Punya, Fitri es jeruknya ada dalam plastik yang terpisah, biar enggak tertukar!" Kata, Lina sambil menyuap makanannya.
Sementara di SMA Negeri 2 biru putih, Toni dan Adnan sudah masuk kelas, mereka pelajaran keduanya bahasa Indonesia, pak Hilman pengajarnya.
"Anak-anak, kita siang ini praktek membaca puisi, yang sudah ditulis minggu kemarin! Bapak akan panggil satu persatu, untuk membacakannya di depan kelas!" Ucap, pak Hilman.
Para siswa ekspresinya berbagai macam, ada yang deg-degan, ada yang biasa-biasa saja. Ada juga yang merasa senang, karena dapat kesempatan belajar praktek membaca, di depan guru dan teman-temannya.
"Peserta pertama, Adnan dengan judul puisi (Aku Jomblo)!" Kata, pak Hilman.
Adnan maju ke depan dengan semangat, ia menghadap ke arah teman-temannya, lalu membacakan puisinya dengan lantang.
Aku sampai saat ini masih jomlo!
Belum menemukan pasangan yang cocok untuk meramaikan hati!
Aku jomlo, tetapi tetap semangat, tak bersedih hati!
Aku berdoa setiap malam untuk menghapus status jomblo, agar menemukan pasangan yang menjadi impian selama ini!
Adnan kembali ke bangkunya, tepuk tangan dari seluruh siswa yang lain sangat ramai. Pak Hilman memanggil, Imam sebagai peserta kedua, dengan judul puisi (Es Tebu). Imam membacakan puisinya dengan penuh perasaan, seolah-olah dirinya sedang merasa kehausan.
Es tebu dirimu enak sekali diminum di siang hari,
Es tebu dirimu sangat menyegarkan hatiku kala dinikmati dibawah terik mentari,
Menghilangkan rasa dahaga yang hinggap di hati,
Walaupun dinikmati sendiri tanpa sang pujaan hati.
Imam kembali ke bangkunya dengan rasa deg-degan, ia takut mendapat tertawaan dari kawan-kawannya. Imam bukannya mendapat tertawaan, tetapi yang ada mendapatkan pujian.
"Keren puisimu, mam." Kata, Adnan yang duduk di bangku belakangnya.
"Kamu itu bisa aja, aku bukan orang hebat kok, puisiku aja jelek. Masih bagusan puisi punyamu, kayak seolah-olah sedang curhat, atau mengungkapkan perasaan." Balas, Imam.
Adnan hanya tertawa, lalu enggak menanggapi ocehan kawannya lagi.
Semua siswa sudah dipanggil, untuk membacakan puisinya satu per satu, pak Hilman pun menilai keberanian para siswa dengan nilai 100. Toni dipanggil paling terakhir, ia membacakan salah satu puisinya tentang cinta.
"Sebelum istirahat mari, kita saksikan peserta yang paling ganteng sekelas!" Ucap, pak Hilman.
"Yang semangat, Ton! Anggap saja, dirimu sedang membacakan puisi, untuk sang pujaan hati!" Bisik, Adnan.
Toni mengangguk mengiyakan, lalu melangkah ke depan, ia membaca puisi dengan tenang.
Wahai, gadis cantik, membuatku terpesona saat pandangan pertama,
Aku tak dapat melupakan bayanganmu, yang selalu hadir dipikiran tanpa kata,
Kau adalah gadis cantik, yang menurutku sangat mempesona, yang membuatku sangat jatuh cinta,
Bayanganmu selalu hadir di benakku, setiap pagi dan malam, yang tak pernah ku lupa.
Toni kembali ke bangkunya dengan tenang, tepuk tangan dari kawan-kawannya begitu ramai. Pak Hilman meninggalkan kelas tepat dengan bel istirahat kedua, para siswa keluar kelas dengan antusias. Toni dan Adnan siang itu menikmati soto tauco dengan es jeruk, yang sangat nikmat.
"Aku rasa-rasanya sudah enggak sabar, ingin melewati pelajaran terakhir." Gumam, Toni.
"Emang ada apa dengan pelajaran terakhir? Apakah itu salah satu pelajaran favoritmu?" Tanya, Imam.
"Toni itu sudah enggak sabar, ia ingin pulang, bukan karena pelajaran favoritnya jam terakhir. Ia berharap ketemu gadis pujaannya diangkutan, pas perjalanan pulang ke desanya nanti." Sambung, Adnan sambil mengambil sepotong tempe di hadapannya.
"Adnan teman-teman macam apa si! Malah bongkar kartuku di sini!" Gerutu, Toni.
"Ya enggak apa-apa, Ton, aku siapa tahu kenal sama orangnya. Jadi, aku bisa bantu buat ketemuan lebih cepat, atau membuatmu cepat jadian." Kata, Imam.
"Kamu enggak bakalan kenallah, dia anak sekolahan sebelah." Sambung, Adnan.
Imam mengangguk memahami ucapan kawannya, tanpa terasa soto yang, mereka santap sudah habis. Suara adzan dhuhur terdengar sangat nyaring, dari masjid yang ada di sekolahan.,
Komentar
Posting Komentar